Pembacaan Alkitab: Johanes 12:12-16

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Apa yang sedang terjadi di dunia saat ini, dengan mewabahnya Covid 19 atau Coronavirus sungguh mengoncangkan dunia dan kehidupan manusia. Dunia dan kita semua dibuat terkejut, panik dan kewalahan menghadapinya. Bayangkan hanya dalam waktu kurang lebih 4 bulan saja, virus ini sudah mewabah ke lebih dari 180 negara di dunia dan sudah menimbulkan banyak korban yang meninggal.

Dan yang menjadi korbannya, tidak “pandang bulu”, tua-muda, bukan saja orang biasa atau sederhana, tetapi para pemimpin negara, politikus, dokter dan tenaga medis, bisnisman, artis dan kaum selebriti, olahragawan bahkan pendeta sekali pun menjadi korban dari coronavirus ini.

Sdr-sdr, ketika masa sulit dan kesusahan menimpa hidup manusia, wajar kalau muncul pelbagai kekuatiran dan ketakutan. Ada perbedaan antara kekuatiran dan ketakutan?  Ketakutan adalah rasa takut menghadapi suatu obyek yang benar-benar di hadapan kita, misalnya kita takut terhadap ular atau penjahat.

Sedangkan kekuatiran adalah perasaan takut terhadap sesuatu obyek yang belum pasti ada di hadapan kita. Biasanya disertai dengan pertanyaan “bagaimana jika…” “Bagaimana jika saya terkena virus”; “Bagaimana jika saya kehilangan pekerjaan”; “Bagaimana jika barang-barang di supermarket habis” dan seterusnya. Kita mengkuatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Corrie ten Boom pernah mengatakan bahwa kekuatiran adalah seperti kursi goyang, yang terus bergerak tetapi tidak pergi ke mana-mana namun menghabiskan tenaga kita. Kekuatiran kalau tidak dikelola dengan baik dapat melumpuhkan kehidupan manusia. Ingat, kita manusia bisa “diperbudak” oleh kekuatiran. Dan kekuatiran atau rasa kuatir bisa juga menjadi “virus” global pandemi – seperti coronavirus yang menyebar kemana-mana dengan cepat – yang mengancam kehidupan manusia.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, yang pasti kekuatiran atau ketakutan bisa memberikan pengalaman yang tidak nyaman dalam hidup kita, membuat kita murung dan kehilangan sukacita, bahkan bisa membuat banyak orang tidak dapat tidur. Tidak saja orang yang sudah lanjut usia tetapi siapa pun termasuk anak-anak bisa mengalami kekuatiran. Jemaat kita pun tidak luput dari kekuatiran. Mari kita dengarkan apa saja kekuatiran yang mereka rasakan pada saat ini.

{youtube}7czSYyAF0hg{/YouTube}

Sdr-sdr, kekuatiran bisa terjadi kepada siapa pun, termasuk kepada kita sebagai orang kristen. Oleh sebab itu, ketika orang kristen mengalami kekuatiran, itu berarti:

  1. Kita adalah hanya manusia biasa (human being) bukan superman. Melalui peristiwa coronavirus, kita dingatkan siapa pun, sehebat, sepintar dan sekaya apa pun, ternyata kita manusia yang rentan dan bisa terkena coronavirus.
  2. Ketika kita mengalami kekuatiran kita tetap adalah orang kristen. Menjadi orang kristen, tidak membebaskan kita dari rasa kuatir atau takut. Bukan pula berarti bahwa kita kurang percaya atau kurang beriman. Sebagai orang kristen, selama kita hidup di dalam dunia maka kita masih harus terus berjuang dan bergumul dengan kekuatiran dan juga ketakutan.

Sdr-sdrku, Tuhan Yesus sendiri sebagai manusia pun ketika hidup di dunia pernah mengalami kekuatiran dan ketakutan ketika Ia tahu bahwa Ia harus menempuh jalan salib atau kematian. Kita tahu dalam pergumulan-Nya di taman Getsemani, Tuhan Yesus harus berjuang dengan kekuatiran dan menghadapi ketakutan. Dalam Matius 26:38, dikatakan, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.” Bahkan dalam Lukas 22:44 dikatakan,” Ia sangat ketakutan…Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.”

Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus pun berjuang dengan kekuatiran dan ketakutan yang Ia hadapi. Lee Strobel, mengatakan ada perbedaan antara kekuatiran dan ketakutan Tuhan Yesus dengan kekuatiran dan ketakutan kita manusia. Kita manusia menjadi kuatir dan takut misalnya, terhadap coronavirus karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita alami. Tapi Tuhan Yesus, kuatir dan takut, justru karena Dia tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu betapa hebatnya kuasa maut, yakni kematian, yang Ia harus hadapi.

Kita manusia kuatir dan takut karena memang kita tidak berdaya dan tidak mampu mengatasi masalah kita. Berbeda dengan Tuhan Yesus, jikalau Ia kuatir dan takut bukan karena Ia tidak mampu dan tidak sanggup mengatasinya. Karena sebenarnya dengan kuasa yang ada pada-Nya, Tuhan Yesus tentu saja sanggup dan mampu untuk mengalahkan masalah apa saja yang Ia hadapi. Kita tahu dari cerita dan kesaksian dalam Alkitab, bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan pelbagai macam penyakit, alam semesta pun tunduk kepada Dia, ketika Ia memerintahkan angin ribut untuk diam. Bahkan Ia pun sanggup membangkitkan orang dari kematian.

Tuhan Yesus takut karena Dia betul-betul memiliki sifat manusia. Dia takut bukan seperti yang kita manusia katakan dan pikirkan. Tuhan Yesus memang takut dan gentar. Tetapi Ia tidak mundur. Dia tidak berhenti. Dia tetap maju dan menantikan orang-orang yang akan menangkap-Nya. Yesus takut tetapi Dia terus maju menggenapkan rencana Bapa-Nya di atas kayu salib. Ini membuktikan bahwa Yesus betul-betul manusia sejati yang berinkarnasi dari Allah.

Jadi, sdr-sdrku, kita tidak perlu merasa malu apalagi “minder” apabila kita masih memiliki perasaan kuatir dan takut. Itu sangat normal dan manusiawi. Namun yang terpenting bagi kita sebagai orang kristen, ketika kita mengalami kekuatiran dan ketakutan, apa reaksi atau respon kita? jangan sampai kekuatiran dan ketakutan itu menguasai dan melumpuhkan hidup kita sehingga kita tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa. Mari kita belajar dari perikop kita, bagaimana kita bisa menang atas kekuatiran dan ketakutan.

Perikop kita hari ini, dari Johanes 12:12-16 berkaitan dengan perayaan minggu Palem (Palmzondag) yang jatuh pada hari minggu ini. Menurut kalender gerejawi, minggu Palem adalah minggu sengsara terakhir sebelum kita memasuki hari Jumat Agung dan hari Paskah. Dalam minggu Palem ini, gereja mengenang peristiwa Tuhan Yesus masuk ke kota suci, Yerusalem.

Memang Yesus masuk ke Yerusalem disambut sebagai raja. Tapi Yesus dan para murid terdekat-Nya tahu, apa artinya masuk ke Yerusalem itu. Yesus tahu bahwa waktu-Nya sudah dekat untuk Dia diserahkan dan dihukum mati. Kalau kita boleh bandingkan apa yang terjadi saat ini, situasi yang mengancam dan menakutkan bagi kita, maka apa yang dihadapi Tuhan Yesus pada waktu itu, jauh lebih menakutkan. Ia sedang menghadapi kematian-Nya di salib. Bukan karena Ia bersalah. Tetapi demi menjalankan misi-Nya di dunia, yakni mati untuk menebus dosa-dosa kita manusia dan menyelamatkan dunia ini.

Sdr-sdrku, ketika Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem. Ia tahu musuh-musuhnya sudah menanti untuk menangkap dan menghukum-Nya mati. Menghadapi semua ini, Yesus tidak panik dan tidak gentar. Ia pun tidak menghindar dari kematian. Di sinilah hebatnya Yesus. Ia mengerjakan apa yang harus dilakukan agar misi Penyelamatan Allah bagi dunia ini dapat dilaksanakan dan digenapi.

Yang menarik dari peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem, ketika Ia memilih cara dan gaya seperti seorang raja. Tetapi bukan raja yang pergi berperang. Oleh karena itu, Ia tidak menunggang kuda yang adalah lambang peperangan, tetapi naik keledai. Keledai adalah binatang lambang perdamaian dan kasih sayang. Kita perhatikan di sini, sdr-sdrku, ketika kematian-Nya telah begitu dekat terbayang, ternyata Yesus masih mengingat dan peduli orang lain. Ia datang ke kota Yerusalem, yang menolak-Nya untuk menawarkan perdamaian dan kasih sayang.

Tindakan Yesus dalam minggu Palem ini, bisa menjadi teladan bagi kita semua. Dalam situasi yang mencekam dan menakutkan ini, kita jangan hanya diam diri di rumah dan tidak berbuat apa-apa. Tetapi kita harus menjalankan apa yang menjadi bagian dan panggilan kita baik secara individu sebagai orang kristen maupun sebagai gereja-Nya. Saat inilah, waktu yang baik dan tepat untuk kita bisa menjadi berkat dan menjadi saksi Kristus dengan menawarkan dan membagikan perdamaian dan kasih sayang kepada orang-orang yang ada disekeliling kita, walau kita berada di dalam rumah.

Memang pemerintah telah membuat peraturan untuk kepentingan bersama dan kita sebagai warga negara yang baik harus menghormati dan menaatinya. Namun hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk kita berdiam diri. Seperti yang terjadi dan kita saksikan di dunia saat ini, ditengah ancaman pandemi coronavirus, ternyata banyak cara kreatif untuk kita bisa menunjukkan dan menawarkan kasih, perdamaian dan kepedulian terhadap sesama kita.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Tindakan Tuhan Yesus masuk ke kota suci, Yerusalem sebagai raja dengan naik keledai dan menawarkan perdamaian dan kasih sayang, itu mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar simbolis. Tuhan Yesus mau memberikan alternatif! Ia mau menunjukkan dan memperlihatkan adanya peralihan fokus kerajaan-Nya dibanding dengan kerajaan dunia, dari kemuliaan (majesty) menjadi kerendahanhati (humility) dan dari perang (war) menjadi damai (peace).

Sdr-sdrku, bukankah hal ini yang sedang terjadi di dunia ini. Peristiwa pandemi coronavirus walaupun menakutkan tetapi telah membuat peralihan atau perubahan perilaku manusia. Sebelum munculnya wabah, manusia mencari dan berlomba untuk mengejar kemuliaan. Manusia dengan pelbagai macam cara bahkan menghalal segala cara untuk bisa mendapat hormat, kuasa, kekayaan, kedudukan dan posisi. Tapi coba lihat apa yang terjadi saat ini, mereka yang punya kuasa, kekayaan, kedudukan dan posisi, mulai merendahkan diri untuk peduli dan berbela rasa dengan mereka yang tidak punya atau kekurangan.

Sebelum adanya pandemi coronavirus, negara-negara, khususnya negara adikuasa, berlomba untuk menciptakan dan memiliki senjata atau peralatan perang yang paling hebat dan modern. Tapi apa yang terjadi saat ini, negara-negara yang tadinya saling mengancam dan bermusuhan, kini mulai saling memberi bantuan dan menolong yang membutuhkannya.

Sdr-sdr, melalui kejadian pandemi coronavirus ini, kita disadarkan bahwa manusia tidak bisa hidup hanya untuk dirinya sendiri tetapi kita saling membutuhkan. Oleh sebab itu, kita harus saling peduli, saling memperhatikan dan saling berbagi satu dengan yang lain. Bukankan hal ini yang seharusnya terjadi di dalam kehidupan kita manusia. Kepeduliaan dan solidaritas terhadap sesama.

Saudara-saudaraku, Tuhan Yesus terus berjalan menuju dan menghadapi jalan salib atau kematian-Nya dengan tenang dan damai. Sikap inilah yang dibutuhkan bagi kita sebagai orang kristen, menghadapi pandemi coronavirus ini. Kita harus tetap waspada dan tenang di tengah-tengah segala kekuatiran dan ketakutan kita.

Saya akan mengakhiri kotbah ini dengan memberi 4 langkah praktis dari pdt Max Lucado, bagaimana kita bisa menang atas kekuatiran dan ketakutan kita. Pdt Max Lucado memakai akronim kata dalam bahasa Inggris “CALM” yang artinya tenang.

C = CELEBRATE.

Merayakan. Mungkin ada yang bertanya-tanya, dalam situasi seperti ini, apa yang bisa kita rayakan? Sdr-sdr, situasi yang sedang kita alami sekarang adalah sesuatu yang berada di luar kontrol kita sebagai manusia. Oleh karena itu kita tidak perlu menyesalkan dan mencari-cari siapa yang salah dalam situasi seperti ini. Jangan kita terfokus kepada masalah yang ada tetapi mari kita bersyukur dan merayakan segala kebaikan dan pemeliharaan Tuhan dan juga kesempatan yang masih diberikan kepada kita, hingga saat ini.

Jangan kita larut di dalam kesedihan, kesusahan dan kekuatiran sehingga kita lupa untuk bersyukur atas berkat-berkat dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Kita bersyukur hingga saat ini, masih ada yang bisa kita makan setiap hari, bersyukur atas keluarga dan teman-teman kita. Bahkan kita harus bersyukur, dalam keadaan seperti ini, kita masih bisa beribadah walaupun secara online. Itulah langkah praktis yang pertama, Celebrate, rayakan kebaikan dan pemeliharaan Tuhan serta mengucap syukurlah senantiasa.

A = ASK GOD FOR HELP

Langkah yang kedua adalah mintalah pertolongan kepada Tuhan. Kalau kita mempunyai masalah, jangan kita mencoba untuk mengatasi dengan kekuatan kita atau bergantung pada manusia. Jangan juga kita memikirkan terus masalah yang kita hadapi. Karena semakin kita memikirkan dan fokus pada masalah kita maka semakin besar kekuatiran dan ketakutan kita. Kita serahkan dan minta pertolongan Tuhan. Ingat bahwa kita memiliki Tuhan yang Maha Kuasa. Kita ikut sertakan Tuhan di dalam setiap pergumulan kita. Filipi 4:6 berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

L = LEAVE YOUR CONCERN TO GOD

Artinya ketika kita sudah berdoa dan minta tolong kepada Tuhan. Itu berarti kita sudah menyerahkan dan mempercayakan masalah kita sepenuhnya kepada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi. Kita percaya Tuhan akan berbuat dan memberi yang terbaik untuk kita. Itulah hidup beriman. Jangan lagi kita berusaha untuk turut campur tangan atau masih mau mengkontrolnya. Let Go and Let God! Kita serahkan seluruhnya dan biarkan Tuhan bekerja.

M = MEDITATE IN ALL GOOD THINGS

Langkah berikutnya yang terakhir adalah, setelah kita menyerahkan seluruhnya ke dalam tangan Tuhan maka yang bisa kita lakukan adalah merenungkan dan memikirkan hal-hal yang baik dan positif. Jangan biarkan pikiran dan hati kita, diisi dan dipenuhi dengan berita-berita yang negatif walaupun barangkali berita itu benar. Kita harus selektif jangan semua berita yang ada di WhatsApp atau di YouTube kita buka dan serap semuanya.

Yang terpenting, mari kita isi dan penuhi pikiran dan hati kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Dengan mengingat dan merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, kita akan mendapat kekuatan untuk menghadapi semua kekuatiran dan ketakutan kita. Mari kita gunakan waktu yang ada yakni tinggal di rumah, untuk membaca Firman Tuhan dan merenungkannya. Selain itu, dengan sarana media sosial yang ada, kita dengan mudah bisa mengikuti dan mendengarkan Firman Tuhan melalui renungan atau kotbah.

Sdr-sdrku, percayalah bahwa Tuhan turut bekerja dan menolong kita dalam masa-masa sulit ini. Ia juga mau menjadikan moment ini kesempatan agar hidup kita sebagai pengikut-Nya berubah dan iman kita bertumbuh. Tuhan memberkati kita.

AMIN