Pembacaan Alkitab: Matius 25:14-30

 

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Ada kisah tentang seorang wanita yang sedang berada di airport menunggu penerbangan. Karena merasa lapar, wanita ini membeli satu kantong biskuit dan berjalan menuju kursi tunggu. Ia duduk dan mengambil sebuah buku untuk dibaca. Tidak lama kemudian datang seorang lelaki tua dan duduk di sebelahnya. Lalu ia mendengar ada suara dan melihat lelaki tua itu mengambil sebuah biskuit dari kantong dan memakannya.

“Wah tidak tahu diri orang tua ini” pikir si wanita. Tetapi ia berusaha untuk tenang dan tidak memperdulikan keadaan ini. Kemudian wanita ini mendengar kembali ada suara dan melihat lelaki tua ini kembali mengambil sebuah biskuit dan memasukkan ke dalam mulutnya. Wanita itu memandang kepada si lelaki tua. Lelaki tua itu tersenyum kepadanya dan berkata, “apakah anda mau biskuit ini?” Lelaki tua itu menyodorkan kantong yang berisi biskuit dan si wanita langsung mengambil sebuah biskuit.

“Lebih baik, saya cepat-cepat makan biskuit-biskuit itu, sebelum lelaki tua yang tidak tahu diri itu menghabiskan biskuit yang ada di dalam kantong“ pikir si wanita. Oleh sebab itu, setelah makan satu biskuit, dia ambil biskuit yang berikutnya sampai kantong biskuit itu kosong. Lalu ia mendengar pengumuman bahwa nomor pesawatnya dipanggil. Wanita itu segera bangun dan menunggu ke pintu masuk pesawat.

Ketika ia membuka tas tangannya untuk mengambil “boarding pass”, ia sangat kaget dan terkejut karena di dalam tas tangannya, terlihat kantong berisi biskuit yang ia beli masih utuh dan belum ada yang dimakan. Si wanita itu merasa sangat malu karena biskuit yang ia makan itu, ternyata milik si lelaki tua, yang ia tuduh telah memakan biskuit miliknya.

Sdr-sdr, pelajaran moral dari kisah di atas, mau menunjukkan betapa sering kita berpikir dan berasumsi bahwa kita lah empunya apa yang ada pada kita. Padahal sebenarnya semua yang ada pada kita, harta, benda, kekayaan, orang-orang yang kita kasihi termasuk hidup ini bukan kepunyaan kita tetapi milik Tuhan. Maz 24:1 mengatakan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” Jadi, Tuhan lah pemilik semuanya, kita hanya dititipkan sementara untuk mengelolalanya selama kita hidup di dunia ini.

Begitu juga dengan pelayanan yang ada di gereja. Bukan milik kita, bukan milik pendeta atau majelis tetapi milik Kristus - Sang Kepala Gereja. Baik kita yang baru maupun yang sudah lama melayani, kita semua sama di hadapan Tuhan, hanyalah alat di tangan Tuhan. Pada prinsipnya, kita semua adalah bendahara dari rumah Tuhan, bukan hanya pak Frits Lim yang memegang keuangan. Kita semua bertanggung jawab untuk pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Sebagai anggota tubuh Kristus, kita semua, tanpa kecuali terpanggil untuk mengambil bagian dalam pelayanan, sekecil apa pun itu. Sama seperti anggota tubuh kita, yang besar maupun yang kecil harus dapat berfungsi. Jadi dengan demikian, dalam persekutuan kita, semua anggota harus menjadi pemain, tidak ada yang menjadi penonton. Gereja bukanlah seperti tempat pertunjukan (show)

Paulus melalui surat Efesus 4:7 mengingatkan kita semua bahwa kita masing-masing telah dianugrahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Artinya Tuhan telah mempercayakan talenta kepada setiap kita. Lalu bagaimana kita meresponi kepercayaan Kristus kepada kita ini? Perikop kita mengenai perumpamaan talenta, menolong kita untuk dapat menjalani pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita dengan baik, setia dan bertanggung-jawab.  

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Perumpamaan tentang talenta ini mau mengajarkan bahwa hamba-hamba Tuhan harus setia dengan melaksanakan apa yang dipercayakan kepada mereka dengan tepat dan efisien sampai pada hari perhitungan.  Menurut Injil Matius, Yesus mengalamatkan percakapan tentang akhir zaman (pasal 24) kepada murid-murid-Nya dan melanjutkannya dengan beberapa perumpamaan yang berhubungan dengan kedatangan-Nya kembali.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Perumpamaan tentang talenta ini mau mengajarkan bahwa hamba-hamba Tuhan harus setia dengan melaksanakan apa yang dipercayakan kepada mereka dengan tepat dan efisien sampai pada hari perhitungan.  Menurut Injil Matius, Yesus mengalamatkan percakapan tentang akhir zaman (pasal 24) kepada murid-murid-Nya dan melanjutkannya dengan beberapa perumpamaan yang berhubungan dengan kedatangan-Nya kembali.

Perumpamaan tentang talenta merupakan perumpamaan yang paling panjang di dalam Injil Matius. Di dalam perumpamaan ini, terjalin percakapan antara tuan dan hamba-hambanya. Dikisahkan dalam perumpamaan ini, seorang tuan memanggil hamba-hambanya dan memberitahu mereka bahwa dia akan ke luar negeri untuk jangka waktu yang lama.

Dia memperlakukan hamba-hambanya bukan atas dasar komersial, tetapi berdasarkan kebiasaan timur yaitu sebagai rekan sekerja di dalam perusahaannya. Sumber penghasilan tunai yang tersedia berjumlah delapan talenta, yang dia percayakan kepada ketiga hambanya. Kata “talenta” dalam perikop ini bukan menunjuk pada bakat alam. Tetapi di dalam menunjuk pada kesatuan mata uang yang menggambarkan sejumlah uang

Tuan itu mengenal hamba-hambanya dengan sangat baik. Dia telah belajar menghargai kemampuan mereka dan yakin bahwa mereka bisa dipercayai untuk mengurus kekayaannya. Dia berharap agar mereka menjalankan uangnya, sehingga sekembalinya nanti dia dapat menghargai mereka karena pekerjaan mereka meningkatkan aset keuangannya. Ia memberi hamba yang pertama lima talenta, hamba yang kedua dua talenta, dan hamba yang ketiga hanya satu talenta.

Hamba yang pertama menjalankan lima talenta dan sesudah beberapa lama jumlahnya menjadi sepuluh talenta. Demikian juga dengan hamba yang menerima dua talenta. Tetapi, hamba yang diberi satu talenta, takut menjalankan uang itu. Mungkin dia merasa diremehkan karena hamba-hamba yang lain dipercaya dengan jumlah uang yang lebih banyak. Dia mengenal tuannya sebagai orang yang kejam yang hanya menuntut keuntungan.

Keuntungan yang didapat dari satu talenta lebih kecil dibandingkan dengan yang lima atau dua talenta yang diberikan kepada hamba-hamba yang lain. Dia tidak melakukan apa-apa dengan uang itu kecuali menguburkannya di dalam tanah. Di dalam tanah pasti aman. Sekembali tuannya dia dapat memberikan kepadanya jumlah semula yaitu satu talenta. Akhirnya, sesudah jangka waktu yang lama, tuan itu kembali dan memanggil hamba-hambanya untuk mengadakan perhitungan.

Hari perhitungan telah tiba. Masing-masing hamba diminta untuk melaporkan uang yang telah dipercayakan kepadanya. Hamba yang pertama datang bukan hanya dengan lima talenta yang dia terima, tetapi juga dengan lima talenta yang dihasilkannya. Dia mengembalikan kepada tuannya jumlah modal dan juga keuntungannya, semuanya berjumlah sepuluh talenta. Dia tidak meminta perhatian untuk dirinya sendiri, tetapi dia hanya meminta tuannya memperhatikan tambahan lima talenta yang dihasilkannya.

Respons tuan itu cocok dengan kesetiaan hambanya. Tuan itu murah hati di dalam pujiannya dan memberi hadiah kepada hamba itu. Pertama, tuan itu berseru "Baik sekali" di dalam pujiannya terhadap perbuatan hambanya yang sangat baik. Kedua, dia menyebut hambanya "baik dan setia." Ketiga, dia memberikan hambanya tanggung jawab dalam banyak hal. Dan keempat, dia mengundang hamba itu untuk turut dalam kebahagiaan tuannya.

Hamba yang kedua datang ke hadapan tuannya dengan dua talenta dan tambahan dua talenta yang didapatkan dengan menjalankan uang itu. Hamba ini juga tidak meminta perhatian kepada dirinya sendiri tetapi kepada talenta yang dia dapatkan. Tuan itu tidak berkurang kemurahan hatinya terhadap hamba yang kedua ini dibandingkan dengan hamba yang pertama. Sama seperti hamba yang pertama, semua hadiah yang diberikan berdasarkan kepada kesetiaan yang telah ditunjukkan. Kita lihat di sini betapa si tuan itu sangat bermurah hati.

Sdr-sdr, ketika giliran hamba yang ketiga untuk memberikan perhitungan, suasananya berubah. Bukannya mengembalikan uang yang dipercayakan kepadanya seperti yang dilakukan oleh hamba-hamba yang lain, hamba ini malah menyampaikan sedikit komentar. Dia tidak memuji tuannya karena kemurahan hati yang telah ditunjukkan kepada kedua hambanya. Tetapi dia menggambarkan tuannya sebagai orang yang kejam, yang menuai di mana dia tidak menabur dan memungut di tempat di mana dia tidak menabur.

Hamba ini takut menanggung resiko. Oleh karena itu, dia menggali lubang di dalam tanah dan menguburkan uangnya. Seolah-olah dia mengatakan kepada tuannya: "Mengapa tuan tidak percaya sepenuhnya kepada saya dengan hanya memberi saya satu talenta? Apa yang bisa saya lakukan dengan uang ini, mengingat bahwa jika ada keuntungan saya tidak akan melihat jumlah yang banyak? Untuk membalas perlakuanmu, maka saya memutuskan untuk tidak melakukan apapun dengan uang itu" 

Dia gagal memahami kebaikan tuannya, tetapi memandangnya berdasarkan sifatnya yang iri dan egois. Dia merasa diremehkan, tetapi di dalam perkataannya sendiri dia mengatakan bahwa dia takut menjalankan uang itu. Dia tidak menggunakan talenta itu untuk mendapatkan keuntungan, tetapi kelihatannya dia hanya membuat argumentasi supaya dia aman. Dia ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa dia tidak menghilangkan semua atau sebagian uang tuannya. Secara eksplisit dia mengatakan bahwa talenta itu milik tuannya. Dia telah menyimpannya dengan aman.

Saudara-saudara, ketika tuan itu menyerahkan jumlah seluruh miliknya yaitu delapan talenta kepada ketiga hambanya, dia sendiri menjadi bergantung kepada kejujuran dan kesetiaan hamba-hambanya. Seandainya mereka menghabiskan uang itu di dalam transaksi bisnis, tuan itu akan bangkrut. Karena itu bisa dimengerti jika tuan itu sangat gembira ketika hamba yang pertama dan kedua menunjukkan bahwa mereka bisa menggandakan uang yang telah dipercayakan kepada mereka. Tuan itu memuji mereka karena kerajinannya, dan memberi hadiah dengan limpahnya kepada mereka.

Penampilan hamba yang ketiga dengan satu talenta menyadarkan tuannya bahwa dia salah menilai karakter hamba ini, bahwa kepercayaan yang dia berikan kepada hamba ini salah, dan bahwa tuan itu harus memberikan hukuman, bukannya memberi hadiah.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Perikop kita adalah sebuah pengajaran dengan "perumpamaan" yang menunjukkan betapa perlunya menggunakan pemberian dari Sang Tuan dengan sikap bertanggung-jawab pada saat Tuan-nya "tidak hadir." Pemberian yang digambarkan dengan "pemberian modal." Jadi kita semua, tanpa terkecuali telah diberi “modal” untuk dikembangkan.

Perumpamaan itu menceriterakan, kedua hamba pertama adalah baik dan setia karena mereka menggunakan "modal" yaitu talenta yang diberikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya dan mengusahakannya untuk kepentingan Tuannya. Tetapi, hamba yang ke-tiga, ia menganggap tidak ada gunanya mengusahakan talenta yaitu "modal" yang diberikan Tuannya itu, sebab ia takut rugi dan ia nanti akan dihukum karena menyebabkan tuannya rugi. Karena modal 1 talenta itu tidak diusahakan oleh hamba ke-tiga maka Sang Tuhan mengatakan bahwa ia adalah hamba yang “jahat dan juga malas” sebagai kebalikan dari hamba yang “baik dan setia”.

Sdr-sdr, bukankah kita juga sering bersikap seperti hamba yang ke-tiga, hitung-hitungan di dalam mempergunakan talenta yang Tuhan berikan untuk pelayanan. Kita merasa kurang mampu, takut dikritik atau akan menyita banyak waktu dan tenaga kita. Sebenarnya yang Tuhan harapkan dari kita, pertama-tama bukanlah tentang keberhasilan tetapi mengenai kesediaan diri dan kesetiaan di dalam melayani. Tuhan sendiri yang akan menolong dan memperlengkapi kita.

Maka kesimpulan perumpamaan ini adalah bahwa kita manusia diberi kesempatan bertumbuh secara rohani, setiap manusia diberi modal talenta oleh Allah dengan berbeda-beda. Tidak masalah yang dimiliki itu talenta kecil atau talenta besar, namun yang terpenting semuanya harus digunakan dan dikembangkan untuk kepentingan Sang Tuan yang memberi modal talenta itu.

Bermula dari perumpamaan inilah maka istilah “talenta” di kemudian hari lebih sering diartikan dengan "karunia bakat" yang bisa menjadi saluran berkat, karena manusia menggunakan modal "talenta -nya" dengan baik. Talenta adalah karunia dan berkat yang tidak selalu berhubungan dengan harta. Dalam pengertian masa kini, talenta adalah suatu kemampuan atau skill dan apapun yang kita punya. Itu semua adalah pemberian Tuhan yang harus kita usahakan untuk menjadi berkat dan memberkati.

Melalui perumpamaan tentang talenta ini, kita diingatkan bahwa kita semua telah menerima karunia, "masing-masing menurut kemampuannya." Yesus mengetahui kemampuan kita dan mengharapkan adanya pertumbuhan rohani dalam hidup kita masing-masing. Oleh karena itu, karunia atau talenta yang kita terima dari Tuhan harus digunakan dan dikembangkan untuk melayani Tuhan dan sesama.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Pada kebaktian ini, kita telah menyaksikan bersama dua peristiwa penting. Yang pertama, sdri Monica Kusumadjaja telah menyelesaikan tugasnya sebagai penatua dengan baik. Tanpa terasa Monica telah melayani sebagi penatua, selama kurang-lebih 7 tahun. Terima kasih untuk dedikasi  dan pelayanannya, juga untuk sdr Anton Kusumadjaja, yang telah setia mendukung pelayanan istri tercinta. Kepada sdri Monica, turun dari jabatan penatua, bukan berarti telah bebas untuk melayani. Ada pelayanan lain, yang sudah menunggu.

Yang kedua, Kita telah menyaksikan peneguhan sdri Thea Simon-Winailan ke dalam jabatan penatua GKIN, khususnya untuk pelayanan di regio RW-DH. Kita patut bersyukur karena sdri Thea mau mempergunakan dan mengembangkan “talenta” yang Tuhan percayakan kepadanya. Mari kita doakan dan dukung pelayanan sdri Thea bersama dengan penatua lainnya.

Kita tahu tantangan pelayanan gerejawi semakin hari semakin berat, terlebih pada masa setelah  pandemi ini. Tuaian banyak tapi pengerja sedikit. Ini tantangan bagi kita semua. Tetapi kita yakin, bahwa Tuhan kita – Sang Kepala Gereja yang telah mempercayakan pelayanan ini bagi kita semua, Ia juga yang akan menolong dan memperlengkapi kita. Kehadiran GKIN regio RW-DH bukan kebetulan, Tuhan telah punya rencana indah. GKIN regio RW-DH dihadirkan Kristus untuk turut serta di dalam misi Allah, yakni menyelamatkan dan memulihkan dunia ini. Mari kita semua terlibat dan semakin giat serta sungguh-sungguh melayani Tuhan dan sesama.

Kepada sdri Thea, selamat melayani. Tuhan yang sudah memilih kamu, Tuhan juga yang memampukan kamu untuk menjalani tugas pelayanan ini. Ungkapan terima kasih, kita juga sampaikan kepada sdr Lodi yang bersedia mendukung pelayanan dari sang istri tercinta. Kiranya, Tuhan juga memberkati pelayanan kita bersama, seperti hamba yang pertama dan kedua, mari kita mempergunakan dan mengembangkan talenta-talenta yang Tuhan percayakan kepada kita masing-masing. Tuhan memberkati kita.

AMIN