Yesaya 42:1-7

 

‘Lepaskan aku dari rasa sakit yang menakutkan!’Itulah kira-kira yang saya teriakkan ketika delapan tahun lalu saya datang ke dokter dengan sakit punggung (hernia) yang saya alami. Sakitnya luar biasa dan membuat saya terbungkuk. ‘Ya Yesus Dikau kurindukan. Lepaskan aku dari rasa sakit yang menakutkan!’ Inilah lagu Advent yang berbicara tentang akan datangnya Sang Juruselamat.

Selama berabad-abad, para nabi telah menubuatkan kedatangan Sang Juruselamat. Dalam bacaan kita, nabi Yesaya menubuatkan ini dengan luar biasa. Sang Juruselamat adalah  Hamba Tuhan, Pilihan Allah, Mesias yang telah Allah janjikan begitu lama. Ia penuh dengan Roh Allah. Ia datang di dalam dunia yang penuh ketidakadilan. Ia akan menyatakan kepada bangsa-bangsa bahwa akan ada penghakiman terakhir, di mana Allah akan meluruskan segalanya. Segala ketidakadilan akan berakhir.

Seorang Juruselamat. Apa itu? Juruselamat adalah Penyembuh, Pemulih. Yesus adalah Sang Juruselamat. Ia adalah dokter di atas segala dokter. Pada hari Natal kita merayakan kedatanganNya, kunjungan dokter Ilahi ke dunia yang penuh rasa sakit dan lara. Di kemudian hari Yesus berkata di Markus 2:17 ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Beberapa tahun lalu saya terpukau dengan sebuah dokumenter di TV. Judulnya ‘Sang Penjaga’. Dokumenter ini tentang dokter Nico van Hasselt, dokter umum tertua yang dulu masih bekerja di Belanda. Tahukah anda berapa umurnya? 92 tahun. Sekitar 60 tahun ia bekerja sebagai dokter di Amsterdam. Dokter Nico adalah dokter yang punya hati dan perhatian untuk pasiennya. Sampai wafatnya, tiap tahun ia memiliki 9500 kontak pasien dari prakteknya di Buitenveldert dan tiap hari ia melakukan kunjungan ke rumah pasien delapan kali sehari. 

Dengan memandang Natal yang akan datang, mari hari ini kita bersama-sama mengikuti Sang Juruselamat ketika Ia sebagai dokter pergi ke mana-mana. Mau ikut? Nanti kita secara otomatis melihat apa saja yang dijumpai oleh Dokter Yesus dalam perjalananNya di dunia ini.

Kalau kita mengikuti Dokter Yesus, kita akan menemukan jenis-jenis penyakit dan keluhan yang beragam. Apa Yesus selalu punya obat yang manjur untuk setiap penyakit seperti yang kita harapkan? Saya harus mengecewakan anda, karena jawabannya adalah tidak! Ia bekerja tidak dengan cara kita, namun dengan caraNya. Pada waktuNya dan sesuai rencanaNya.

Waktu Ia memulai praktekNya, kita mendengar tentang banyak mujizat. Orang lumpuh Ia sembuhkan. Orang tuli Ia buat mendengar. Orang buta Ia celikkan.

Itu masih terjadi sekarang, namun lebih sedikit dari yang anda dan saya inginkan. Hari ini saya tidak membahas penyebabnya, karena saya juga tidak tahu segala sesuatunya. Namun saya ingin memberi nasihat: jangan berkecil hati! Jangan katakan: ‘Yesus tidak seperti yang dulu, karena itu saya pergi ke yang lain saja ...’ Anda akan takjub betapa banyak situasi di mana Yesus mau memberi pertolongan.

Bolehkah saya menyebut 2 jenis penyakit yang paling banyak muncul?

Lihat. Di sini ada pasien dengan luka terbuka. Lukanya kelihatan tertutup, tapi itu tidak sepenuhnya. Kalau anda lihat dengan baik, luka itu sebenarnya masih terbuka. Dengan segala konsekuensinya. Bernanah dan kotor. Orang berkata: bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah ia memiliki segala sesuatu yang ia inginkan ... Namun sementara itu ia terus ‘bernanah’: agresif, cepat marah, suka membenci, sulit mengampuni. Suka berbuat jahat, selalu merasa teraniaya. Ada apa ini?

Yesus memberi diagnosa: luka terbuka. Dulu terlalu cepat diplester. ‘Akh, itu sih hal biasa. Banyak orang yang lebih susah darimu. Ayo jalan terus.’ Jadi orang itu harus kuat. Demikian pesannya. Namun akibatnya: luka terbuka. Dari luar kelihatannya tertutup, tapi sebenarnya masih terbuka.

Kasus kedua yaitu seseorang dengan patah tulang. Kehidupannya menjadi retak. Di awal kelihatannya menyenangkan. Relasi berjalan lancar, prospek ke depan bagus, rencana masa depan indah. Namun pada akhirnya berbeda. Lebih banyak perbedaan daripada persamaannya. Kasih menjadi dingin. Bahkan menjadi benci. Kemudian muncul keretakkan. Karena itu dokter Yesus memberi diagnosa: ada yang retak.

Dalam bacaan kita, nabi Yesaya berkata tentang ‘buluh yang patah terkulai’ dan ‘sumbu yang pudar nyalanya’. Diagnosa apakah ini?

Bayangkanlah ini. Suatu hari anda berjalan-jalan dan melihat ada orang yang mematahkan buluh/ alang-alang. Anda kemudian mencoba menegakkannya kembali. Jangan terkejut kalau buluh itu bisa anda kembalikan lagi seperti semula. Dari luar anda tidak melihat ada yang patah, namun buluh itu kehilangan kekuatannya. Kalau angin besar datang maka buluh itu tidak bisa lentur mengikut arah angin, tapi jadi jatuh. Kalau jatuh, siapa yang mengangkatnya? Ini suatu gambaran yang penuh makna. Demikian juga dalam hidup ini. Dari luar kita tidak melihat ada sesuatu, tapi dari dalam ada sesuatu yang terjadi. Itulah letak ‘titik lemah’. Tidak ada yang tahu selain anda sendiri. Jangan lupa Allah juga tahu ‘titik lemah’ itu. ‘Titik lemah’ itu bisa saja dosa yang menguasai kita. Bisa juga lembar gelap di masa lalu yang kita sembunyikan. Titik lemah itu bisa juga: depresi, akibat dari pandemi corona, atau hal lainnya.  ‘Titik lemah’ tetaplah titik sensitif. Mungkin kita tidak memiliki satu, tetapi beberapa titik lemah. Dari luar tidak kelihatan, tetapi dari dalam ada yang retak dan anda mengetahuinya.

Gambaran yang kedua adalah: ‘sumbu yang pudar nyalanya’. Bayangkanlah: lampu minyak yang minyaknya hampir habis. Sumbunya makin pudar. Bahkan hampir tak terlihat lagi. Gambaran ini memperlihatkan bahwa api itu tidak akan bertahan lama lagi. Sudah tidak bisa diharap lagi.

Orang-orang akan segera berkata: ‘Patahkan saja buluh itu. Lebih baik sumbu yang pudar itu dipadamkan saja.’ Orang yang berkata seperti itu tidak melihat nilai (lagi) dari orang lain. Mereka melihat orang yang lemah hanya sebagai beban dan pembuat masalah dan bukan sebagai ciptaan Allah. Karena itu kita melihat ada orang yang dikucilkan atau dilupakan oleh keluarga, teman, atau masyarakat.

Namun apa yang Yesus akan lakukan? ‘Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya,  dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.’ Ia mendatangi manusia dengan kasih dan perhatianNya yang lembut.

Yesus adalah Sang Juruselamat yang membawa kesembuhan dan pemulihan. Untuk itu Ia datang di hari Natal. Untuk menyembuhkan dan memulihkan yang sakit. Untuk merekat apa yang retak. Untuk mengganti apa yang hancur dan tidak dapat diperbaiki lagi.

Sekarang pasti anda jadi penasaran bagaimana bisa berjumpa dengan Dokter istimewa ini. Bukankah orang dari Indonesia selalu saling memberi tahu ke dokter atau spesialis terbaik mana kita harus datang. Sama seperti kita selalu memberi tips minyak apa yang terbaik untuk suatu penyakit: ‘Minyak angin, minyak tawon, minyak kayu putih, arak gosok, dll’. Saya akan memberikan alamat Dokter itu. Ia selalu dapat dihubungi. Tutuplah mata anda, lipatlah tangan anda, dan panggillah Ia. Anda akan segera terhubungi. Namun jangan berharap Ia dengan sekejap mata menyelesaikan persoalan anda. Dapat saja Ia merujuk anda ke asisten-asistenNya yang ada banyak di sekitar kita. Namun memang, pada akhirnya hanya Ia sendiri yang dapat menolong manusia sepenuhnya. Hanya Ia yang dapat menaruh tangan penyembuhNya di atas kepala anda. Ia melingkarkan tanganNya di sekitar anda. Dan Ia melepaskan anda dari rasa sakit yang menakutkan!’

Hari ini kita memasuki bersama minggu Advent yang keempat. Kita semakin dekat dengan Natal. Dengan rasa sakit atau lara kita boleh datang ke palunganNya. Juga dengan kepedihan yang tidak diketahui siapapun. Juga dengan kepahitan hati yang mungkin tidak kita tahu lagi asalnya. Marilah hari ini kita juga membawa seorang kepada Sang Juruselamat di dalam doa: seseorang yang bergumul dengan sakit, kelemahan, dan keretakan. Itulah fungsi gereja: membawa orang kepada Yesus. Tepat sekali perkataan ini: ‘Gereja bukanlah museum untuk orang kudus, tetapi rumah sakit untuk orang berdosa’. Kita datang ke gereja bukan karena kita orang baik. Bukan. Kita adalah pasien dari Sang Dokter Agung dan tiap Minggu kita datang untuk check up. Hari ini kita juga diingatkan: Kristus memanggil kita untuk peduli dan mau menolong orang yang lemah dan membutuhkan. Itulah panggilan kita sebagai orang Kristen.

‘Lepaskan aku dari rasa sakit yang menakutkan!’ Itulah kira-kira yang saya teriakkan ketika delapan tahun lalu saya datang ke dokter dengan sakit punggung (hernia) yang saya alami. Setelah pemeriksaan yang mendalam dan rujukan ke spesialis, dokter berkata kepada saya: ‘Dulu kalau orang kena hernia tidak boleh bergerak dan harus diam di tempat tidur, namun sekarang berbeda. Sakit hernia? Justru harus berjalan. Ikut fisioterapi. ‘Anda harus berjalan!’ kata dokter. Puji Tuhan waktu itu saya akhirnya sembuh dari hernia tanpa harus dioperasi.

Jemaat yang terkasih. Natal akan segera datang. Ada kesakitan di jiwa anda? ‘Ikutlah Aku’, kata Dokter Yesus. ‘Berjalanlah mengikuti Aku. Banyak berjalan!’

Jangan lupa juga banyak minum. Makan dan minum yang menyehatkan: Alkitab, FirmanNya. Sebagai pendeta, salah seorang asistenNya, saya sarankan juga untuk banyak bernyanyi. Ikutlah bernyanyi, baik fisik maupun online, bersama dengan pasien-pasien lainnya yang tahun ini datang kepada Dokter Yesus ke Betlehem. Ia adalah Juruselamat yang membawa kesembuhan! Ia datang untuk anda dan saya, untuk seluruh dunia.

Amin