Pembacaan Alkitab: Jesaya 9:1-6; 2 Korintus 4:4-6

 

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan,

Kita bersyukur, tahun ini walaupun masih dalam suasana berjuang menghadapi pandemi, namun diberikan kesempatan untuk merayakan hari kelahiran atau kedatangan Krisus ke dalam dunia ini. Sdr-sdr, ada sebuah pertanyaan: Apa persamaan orang yang tidak punya uang, dengan mereka yang punya banyak uang? Ada yang mau mencoba menjawabnya?

Ada sebuah jawaban menarik yang mengatakan bahwa “hidup mereka sama-sama membosankan”. Ini diucapkan oleh salah satu tokoh dalam serial drama Korea “Squid Game” yang sangat diminati banyak orang. Squid Game ini menjadi games yang banyak dimainkan oleh kalangan muda dan juga anak-anak.

Mengapa sang tokoh memberi jawaban seperti itu? Ini berdasarkan dari realita hidupnya. Ia memiliki kekayaan yang begitu besar tetapi tidak menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Akibatnya ia menciptakan kesenangan yang absurd. Inilah yang mendasari cerita di balik keseruan serial drama Korea ini. Dalam beberapa minggu setelah dirilis di salah satu aplikasi streaming film, serial ini menyita perhatian jutaan penonton.

Awal kisahnya menceritakan sekelompok orang yang ditawarkan untuk mengikuti suatu permainan dengan hadiah yang sangat besar. Mereka yang diajak dalam permainan ini adalah orang-orang yang memiliki utang yang tidak mungkin terbayarkan oleh mereka semua di dunia nyata, sehingga harapan satu-satunya adalah ikut dalam permainan itu.

Dengan penuh harapan mendapatkan hadiah besar, yang tidak saja mampu untuk membayar semua hutang mereka tetapi juga dapat membeli semua impian mereka. Dalam permainan itu, peserta berlomba untuk menghabisi nyawa para musuh untuk bisa menjadi pemenangnya. Karena hanya ada satu pemenang.

Nah, permainan yang memberi harapan untuk mendapatkan hadiah yang begitu besar ini, membuat mereka tidak peduli bahwa permainan ini sesungguhnya mengungkap sisi “jahat” manusia, seperti yang dikatakan filsuf bernama Plautus bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Gambaran mengenai tokoh penemu permainan Squid Game yakni untuk menemukan kesenangan dalam hidupnya, yang membosankan itu adalah gambaran tentang kemanusiaan umumnya yang sudah “rusak” oleh dosa. Apa yang ditampilkan dalam serial ini adalah kisah yang secara jujur ingin menyampaikan betapa rusaknya cara pandang manusia terhadap kesenangan atau kebahagiaan, terhadap sesama manusia dan yang terpenting terhadap hidup ini.

Pada masa kini, banyak orang bermimpi memiliki hidup yang dipenuhi kesenangan yang mereka ingin capai kalau memiliki harta yang berlimpah. Dan kalau mereka tidak memiliki harta, maka dianggap tidak memiliki nilai dan layak disingkirkan, seperti dalam permainan Squid Game. Inilah realita hidup yang banyak dijumpai pada masa kini.

Sdr-sdr, persoalan yang diangkat dalam serial Squid Game ini, sebenarnya merupakan persoalan yang sudah lama Allah pedulikan. Dalam Alkitab, kita menemukan kisah, betapa Allah sangat peduli terhadap kehidupan manusia yang diciptakan menurut Gambar dan Rupa-Nya sendiri. Namun manusia telah jatuh ke dalam dosa, sehingga kehilangan identitas dan makna sejati dari kehidupan yang dirancang Allah dengan penuh kasih dan keindahan.

Sejak kejatuhan dalam dosa, cara pandang manusia telah di”gelap”kan atau di”buta”kan oleh dosa, sehingga ia tidak mampu lagi untuk melihat nilai, tujuan dan kebaikan yang dinyatakan Tuhan, ketika Dia menciptakan manusia. Arti atau makna kehidupan manusia sesungguhnya terletak pada hubungan atau relasinya dengan Sang Pencipta, bukan pada harta atau ciptaan yang lainnya.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Tema Natal Bersama GKIN tahun ini adalah, “Habis Gelap Terbitlah Terang” Gelap dan Terang memang adalah fenomena alam, terkait dengan waktu, siang dan malam. Dalam proses Penciptaan Langit dan Bumi, Allah memisahkan terang dan gelap, siang dan malam. Terang dan Gelap disini adalah dalam arti sebenarnya.

Namun dalam Alkitab, istilah Gelap dan Terang juga dipergunakan sebagai metafor untuk mengkontraskan antara perbuatan jahat dan perbuatan baik. Terang dijadikan metafor dari kehidupan dan kebenaran, dan gelap menggambarkan perbuatan dosa atau kehidupan di dalam dosa. Orang yang hidup di dalam dosa, dikatakan orang yang hidup di dalam “kegelapan”.

Kalau kita membaca kitab nabi Yesaya, khususnya pasal 59, ternyata bangsa Israel, umat pilihan Allah pun pernah mengalami “kegelapan” hidup walaupun sebenarnya mereka punya mata. Perhatikan apa yang dikatakan ayat 9-10, “...kami menanti-nantikan terang, tetapi hanya kegelapan belaka, menanti-nantikan cahaya, tetapi kami berjalan dalam kekelaman. Kami meraba-raba dinding seperti orang buta, dan meraba-raba seolah-olah tidak punya mata; kami tersandung di waktu tengah hari seperti di waktu senja, duduk di tempat gelap seperti orang mati.”

Mengapa bangsa Israel harus berada dan mengalami kegelapan hidup? Ternyata mereka telah memberontak dan hidup jauh dari Allah. Mereka telah berbalik dan tidak hidup sesuai perintah Allah. Sdr-sdr, apa yang mereka lakukan ketika hidup jauh dari Allah? Dikatakan, mereka melakukan kejahatan, merencanakan pemeras-an dan penyelewengan, hati dan kata-kata mereka mengandung dusta. Hukum, keadilan dan kebenaran tidak lagi diberlakukan dalam kehidupan manusia. Orang yang tulus dan benar justru ditolak atau disingkirkan.

Dalam keadaan seperti ini, wajar kalau orang-orang menjadi marah dan mengeluh, mereka tidak berdaya dan kehilangan harapan karena keadilan tidak kunjung datang. Sdr-sdr, di mana tidak ada lagi harapan, di situlah kegelapan paling terasa.

Melalui perikop kita dari Yesaya 9:1-6, nabi Yesaya menubuatkan tentang datangnya seorang pelepas yang pada suatu hari akan menuntun umat Allah kepada sukacita, damai sejahtera, kebenaran, dan keadilan; orang itu adalah Mesias -- Yesus Kristus, Anak Allah.

Dalam Yesaya 9:1 dikatakan bahwa “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang besar…" yang menembus kegelapan itu dan menerangi seluruh lingkungan dan perorangan baik secara lahir maupun batin, sehingga menimbulkan kehidupan yang baru. Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan terang besar di sini bukan sinar matahari biasa, melainkan yang berasal dari Allah sendiri.

Umat Allah memahami bahwa terang itu berasal dari Allah, pada waktu penciptaan alam semesta, matahari tidak diciptakan pada hari pertama. Dalam kronologi pen-ciptaan alam semesta, matahari dan benda-benda penerang justru diciptakan pada hari yang keempat. Hal ini menunjukkan bahwa Allah-lah sumber dari terang itu.

Terang itu diperintahkan Allah untuk menjadi bagian dalam proses penciptaan langit dan bumi. Maka, jelas disini bahwa bukan matahari yang "menciptakan" terang, sebab terang itu berasal dari Allah. Meskipun pada prosesnya di kemudian matahari memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, sebagai sumber terang, energi dan menyokong kehidupan alam semesta.

Tetapi dasarnya telah kita pahami bahwa: Allah-lah Sang Empunya Kehidupan, Dia adalah Empunya terang. Sedangkan gelap itu bukannya terjadi lebih dahulu, tetapi keadaan gelap itu ada, sebab ketidak-adaannya terang (the absence of light). Terang itulah yang kekal, sebab terang itu sebenarnya berasal dari Allah

Sang Terang yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya, telah lahir bagi kita, namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Itulah "terang kebesaran", yang menghilangkan segala kegelapan. Akibat-nya, muncul kehidupan baru dan sukacita besar. Umat Allah bersorak sorai di hadapan Tuhan, bersyukur kepada Tuhan yang adalah sumber terang itu.

Hal ini bisa terjadi oleh karena batin dan hati mereka telah "diterangi", sehingga bisa "melihat" kebenaran Tuhan, dan menyadari kesia-siaan sikap berdosa sebelumnya yang dikuasai oleh kegelapan. Apa yang tertulis di dalam Yesaya 9:1, dialami sendiri oleh rasul Paulus.

Dalam perikop kita yang kedua, Paulus berbicara tentang "habis gelap, terbitlah terang" (2 Korintus 4:6). Perkataan Paulus dalam perikop ini mengacu balik pada kisah penciptaan (Kejadian 1:3) dan juga Yesaya 9:1, mengenai keadaan gelap yang meliputi segenap bangsa, namun mereka telah melihat terang yang besar.

Iblis memang berusaha membutakan manusia supaya mereka terhilang dan tidak dapat melihat terang Injil tentang kemuliaan Kristus. Mereka gagal untuk mengenal Yesus Kristus "yang adalah gambaran Allah" (2 Korintus 4:4). Namun ada panggilan untuk mengenal siapa Yesus dan diterangi oleh "pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak dalam wajah Kristus" (2 Korintus 4:6). Panggilan dari Sang pencipta yang berkata, "Biarlah cahaya bersinar keluar dari kegelapan."

Dalam proses pertobatannya, Paulus pernah selama tiga hari, matanya tidak melihat atau dibutakan oleh Allah. Ia pernah mengalami sendiri apa artinya “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Orang-orang percaya, yang mengikut Tuhan Yesus, hidup mereka diselamatkan dari kegelapan untuk menjadi anak-anak terang. Allah yang menda-tangkan terang, yang telah mencerahkan pikiran kita pada saat kita “dilahirkan kembali” yakni ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita.

Kalau kita sudah dijadikan sebagai anak-anak Terang maka Terang ini tidak boleh kita simpan untuk diri sendiri saja. Setiap murid Kristus memiliki tugas untuk memberitakan Terang-Nya. Mengapa mereka harus memberitakan Kristus. Sebab hanya melalui Injil (kabar baik) dari Tuhan Yesus, yang dapat memberikan perspektif tentang realita.

Hanya melalui Tuhan Yesus, orang yang berdosa dan terhilang dapat datang kepada Allah dan menemukan jalan mereka ke kehidupan yang benar. Tuhan Yesus adalah "Terang yang benar," yang datang ke dalam dunia. Di dalam Yesus Kristus kita menemukan siapa Tuhan itu, dan kita diberi kebenaran kehidupan rohani yang penting, yang dapat mengatasi kegelapan di bumi.

Dalam keadaan dunia yang semakin gelap ini, banyak orang yang berjalan dalam kekelaman. Saya baru-baru ini membaca sebuat artikel yang menceritakan, bahwa “Life Coaches” di negeri Belanda meningkat tajam, sekitar lebih dari 10 kali lipat. Di tahun 2013, tercatat resmi hanya ada sekitar 470 orang lebih, dan di tahun 2021 ini jumlahnya menjadi lebih dari 5000 orang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang di Belanda yang membutuhkan bimbingan bagaimana mereka harus menjalankan kehidupan mereka.

Bukankah ini kesempatan bagi kita semua untuk memperkenalkan Kristus dan menunjukkan kasih-Nya. Masih banyak orang yang hidup dalam kegelapan dan kehilangan harapan. Mereka merasa tidak lagi memiliki harapan dalam hidup ini, semuanya terasa gelap. Terlebih lagi pada masa kini, sudah lebih dari 20 bulan kita semua hidup dalam situasi yang tidak pasti. Kita seperti sedang berjalan dalam lorong panjang yang gelap. Kita menanti-nantikan terang atau cahaya kehidupan.

Sdr-sdr, hanya ada satu harapan bagi mereka yang berada dalam cengkeraman kegelapan: Yaitu berharap kepada Terang yang diberikan oleh Tuhan Yesus Yesus Sang sumber cahaya kehidupan manusia, yang hari kelahiran-Nya kita rayakan bersama hari ini. Orang-orang yang percaya dan mengikut Yesus – Sang Terang itu, tidak lagi berjalan atau hidup di dalam kegelapan, tetapi hidup di dalam Terang itu.

Dan kita sebagai persekutuan orang-orang percaya (gereja), terpanggil untuk menjadi terang bagi dunia ini. Kita terpanggil membawa Terang dan berita keselamatan Allah itu kepada semua bangsa yang sedang berada dalam kegelapan.

Yesus berkata, “Kamulah terang dunia. Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Marilah kita memancarkan Terang-Nya kepada dunia ini melalui kehidupan kita. Selamat Natal. Tuhan memberkati kita semua.

AMIN