Lukas 3:10-18 en Filipi 4:4-7

 

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus,

Minggu Advent ke-tiga yang kita rayakan hari ini disebut Gaudete, artinya: ‘Bersukacitalah!’. Sebutan ini diambil berdasarkan introitus / pembukaan sebuah liturgi tua, dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi (Fil.4:4-7).

Di akhir suratnya, Paulus memberikan dorongan kepada jemaat Filipi  dan kita semua agar bersukacita dan senantisa bersukacita, bergembira karena Tuhan telah dekat.

Marilah kita membaca ayat 4 dan 5 bersama-sama dalam bahasa Belanda terlebih dahulu, kemudian bahasa Indonesia:

“Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan, Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang, Tuhan sudah dekat”.

Karena itu saudara-saudara thema kita berbunyi: “Biarkan sukacitamu tetap ada di dalam Tuhan”.

Saudara-saudari,

Sebenarnya bacaan ini sama sekali bukan bacaan untuk minggu Advent tetapi selama berabad-abad, gereja telah membaca teks ini dalam Minggu Advent ke-tiga. Ada banyak lagu-lagu Advent sepanjang waktu mengungkapkan kata-kata ini secara jelas dan saudara pasti pernah menyanyi dengan penuh sukacita dan lantang refrein dari KJ 81: Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel!.

"Bersukacita" disini berhubungan dengan menunggu, mengharapkan, menantikan sesuatu yang lebih baik di masa depan. Kita bisa bersukacita menantikan sesuatu atau seseorang. Siapa atau apa yang kita nantikan?

Saudara-saudara,

Hari ini kita bisa sedikit menikmati sukacita/kegembiraan itu. Nabi Yesaya adalah ahli dalam mengungkapkan kegembiraan itu. Sukacita akan dunia yang indah yang ia dambakan, sementara ia tahu bahwa dunia yang indah itu belum menjadi kenyataan. Hanya perspektif akan adanya sukacita saja dapat adalah sukacita penuh.

Nabi Yesaya tidak gembira dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya, dengan ketidakadilan pada jamannya dan orang-orang yang tidak percaya. Tetapi ia dapat bergembira karena ia percaya kepada Allah, yang pasti akan melakukan sesuatu dan yang akan menjadikan segala sesuatu menjadi lain, ia percaya kepada Allah yang membebaskan dari segala hal-hal yang buruk.

Ia percaya dengan hati dan jiwa akan janji-janji Allah dan karena itu ia katakan dalam Yesaya 61:10: ‘Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku’.

Dalam Injil Lukas, Johanes Pembaptis memanggil orang banyak pada jamannya di Yordan untuk datang dan hidup dalam Kerajaan Allah yang mempunyai nilai kekal. Ini adalah berita sukacita yaitu keselamatan melalui Yesus Kristus yang adalah Mesias, yang datang ke dalam dunia. Yohanes bukan Mesias itu sendiri. Ia datang untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Sang Messias. Ia mempersiapkan jalan bagi sukacita Allah, Yesus Kristus, yang datang ke dunia. Sisi lain dari sukacita hari ini adalah adanya satu tindakan atau perbuatan sebagai hasil pertobatan.

Kita dipanggil oleh Yohanes pembaptis untuk berbagi dengan mereka yang berkekurangan, justru dalam masa-masa penuh sukacita ini. Bulan lalu saya menerima uang dari beberapa senioren secara pribadi di Tilburg untuk membantu orang-orang miskin yang ada di PAsso, Ambon, desa tempat tinggl ibu dan keluarga saya. Di antara mereka ada seorang nenek berusia 70 tahun yang setiap hari keluar rumah untuk mencari dan mengumpulkan botol plastik aqua. Jika ia telah mengumpulkannya, ia harus mencucinya, mengeringkannya dan menumpuknya seperti gambar di bawah ini.

Semua ini tidak mahal harganya. Sukacita bahwa saudara dapat berbagi  adalah sukacita yang Johannes maksudkan.

Johannes zegt ook, eerlijk zijn en elkaar niet bedonderen. Maak geen misbruik van je positie, van je macht over anderen.

Niet begerig zijn naar steeds méér maar genoeg is genoeg. Het klinkt allemaal heel actueel en het is ook actueel in ons leven, zeker in deze tijden.

Yohannes katakan juga, jujur dan jangan saling menipu. Jangan  menyalahgunakan posisimu untuk menguasai orang lain.

Jangan mengingini lebih dari yang saudara telah miliki tetapi puaslah dengan apa yang ada. Kedengarannya semua hal ini sangat aktual dan memang actual juga.

Terkadang kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan untuk menjawab berita sukacita ini.

Karena itu kita harus mengungkapkan pertanyaan yang sama seperti orang banyak di jaman Yohanes yang bertanya kepadanya sebanyak tiga kali: Apakah yang harus kami perbuat?

Saya dapat katakan:minta kepada Allah untuk ada ruang dalam hati saudara bagi orang lain.

Minta kepada Allah agar saudara puas dengan apa yang ada dalam hidup saudara.

Minta kepada Allah untuk lebih lagi membagi dengan orang lain yang kurang dan tidak punya. Semua hal ini dapat memberikan sukacita dan damai dalam hidup saudara.

Saudara-saudara,

Kita berbicara tentang bersukacita dan bergembira tetapi bagaimana dengan saudara?

Mungkin saudara tidak mempunyai perasaan sukacita/gembira saat ini.

Mungkin saudara ada dalam pergumulan dan minggu yang baru lewat adalah minggu yang sangat buruk. 

Mungkin saudara terganggu karena satu dan lain hal.  Bisa jadi bahwa hal-hal berikut mengganggu saudara, kesehatan atau hubungan keluarga yang tidak harmonis saat ini, tidak ada pekerjaan, kesepian, depresi, masalah keuangan, ketidakpastian, kuatir dengan iman orang dari orang yang saudara cintai dan sebagainya? Bukankah ini tidak memungkinkan  untuk mengalami sukacita?

Memang demikian. Hal ini tidak mungkin jika hal ini berhubungan dengan kegembiraan kita sebagai manusia. Tetapi panggilan untuk bersukacita memperlihatkan bahwa perlu membuat pilihan. Karena kita merasa kuatir, sedih, kita marah dan takut. Hidup ini tidak sempurna dan kita orang-orang yang tidak sempurna. Alkitab memberikan kesempatan agar kita menghadapi kerapuhan kita sebagai manusia.

Pada saat yang sama kerapuhan itu menjadi ruang dimana panggilan untuk bersukacita mendapat arti yang dalam, agar kita tidak terbelenggu dalam kesusahan dan kesengsaraan. Untuk memahami panggilan dari rasul Paulus (yang juga mengetahui dengan baik apa itu kesengsaraan) adalah proses belajar sepanjang hidup.

Saudara-saudari,

Dalam masa Advent 2021 kita semua berada dalam 'modus Advent', waktu yang dipenuhi kerinduan dan melihat dengan perasaan penuh sukacita bahwa ada secercah harapan di ujung terowongan dan kehidupan baru akan dimulai di masa corona ini. Kita harus belajar sabar menunggu sampai keadaan benar-benar baik dan pada saat yang sama kita tetap berharap dan percaya bahwa suatu hari akan menjadi baik.

Kita boleh bersukacita dan dengan gembira menunggu dan berharap, menantikan kedatangan Tuhan kita. Pertanyaannya, benarkah kita benar-benar bersukacita dan apakah kita memancarkan sukacita itu? Jika kita mengambil teks Paulus, maka kita sebagai orang Kristen seharusnya demikian. Tapi kita tahu itu tidak sesederhana itu. Kita sepertinya begitu sering dilanda kesedihan dengan banyaknya pesan tentang corona yang setiap hari kita dengar. Karena itu kita harus mencari sukacita yang sebenarnya di masa-masa ini.

Sehubungan dengan ini ada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Kinga Ban dengan judul 'Sukacita hatiku'. Pada saat dia menyanyi lagu ini dia sementara sakit parah dan telah meninggal pada tanggal 6 mei 2019. Jika saudara mendengar lagu ini pada saat meditatief, maka saudara tahu apa itu ‘sukacita’.

Sukacita bukan sesuatu yang hanya "menyenangkan" karena hidup kita juga tidak demikian. Hal itu sangat dalam dan ada hubungannya dengan pemahaman bahwa saudara sendiri dicintai dan dikasihi oleh Allah, siapa saudara bahkan dalam kerapuhan dan kerentanan hidup saudara, Dia tidak akan pernah membiarkan saudara terjatuh dan memberi saudara kekuatan sehingga saudara bisa menghadapi segala hal.

Pengalaman kedua juga sejalan dengan kegembiraan atau sukacita di tengah kesedihan, cahaya di tengah kegelapan. Ini sering kita alami dalam hidup kita. Saya berdoa dan berharap bahwa walaupun di tengah-tengah situasi yang sulit, saudara semua dapat mengalami sukacita dan itu menjadi bagian hidup saudara, pada akhirnya sukacita itu tinggal dalam hati saudara. Sukacita itu juga sering lebih dekat dalam hidup kita daripada yang kita pikirkan; dan kita memancarkannya lebih daripada yang kita duga. Itulah yang rasul Paulus katakan dalam Filipi 4:6-7: ‘Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah segala keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam kristus Yesus’.

Damai sejahtera Allah itu, yang melampaui segala akal, memungkinkan kita untuk bersukacita. Kedamaian itu memungkinkan kita untuk bersikap baik. Dan kedamaian itu membuat kita bahagia. Bukan karena semuanya tiba-tiba berjalan baikdalam hidup kita, tetapi karena kita tidak perlu khawatir tentang apa pun. Karena setiap malam sebelum kita tidur, kita  bisa menyerahkan kekhawatiran kita ke dalam tangan Tuhan. Itu memberi kita kedamaian dan memungkinkan kita untuk mengalami rasa sukacita dan kepuasan yang mendalam pada hari berikutnya. Dan mudah-mudahan itu juga akan membantu orang-orang melihat kebaikan Tuhan dalam diri kita.Allah memberkati kita dalam perjalanan menuju Natal untuk merasakan sukacita di dalam Dia. Bersukacitalah!

Amin.