Pembacaan Alkitab: Mazmur 104: 27-30, Roma 8:18-23

 

Jemaat Tuhan Yesus Kristus,

Kita sekarang hidup di zaman yang unik karena perubahan iklim dan krisis lingkungan hidup. Kita membaca dan mendengarnya juga di awal ibadah ini. Para pemimpin gereja di dunia menyerukan umatnya sejak tahun lalu dan di seluruh dunia banyak orang, tua dan muda bangkit dengan seruan untuk menyelamatkan bumi.

Jika berhubungan dengan menyelamatkan bumi maka gereja tidak bisa tinggal diam dan tetap menyibukkan diri dengan kegiatan di dalam gereja. Gereja harus menyadari bahwa gereja memiliki tugas panggilan menjaga keutuhan ciptaan. Seruan dan tugas ini menyentuh inti iman kristen. Pada saat penciptaan dalam kitab Kejadian Allah menetapkan tiga hubungan penting bagi manusia:

Pertama, manusia memiliki hubungan dengan Dia, karena Dia menciptakan kita menurut gambar-Nya;

Kedua, hubungan satu sama lain, karena kita tidak diciptakan untuk hidup sendirian;

Ketiga, hubungan dengan bumi dan semua makhluk.           

Ke-tiga hubungan ini tidak dapat dipisakan satu dari yang lain.

Oleh sebab itu, kita akan berdiam sejenak dan memikirkan tentang ketiga tema ini. Hari ini kita memperdalam peran kita sebagai gereja untuk membawa kesembuhan dan pemulihan dalam hubungan dengan ciptaan, agar Allah kembali dimuliakan sebagaimana tertulis dalam Mazmur 104.

Mazmur 104 terutama menyanyikan  kemuliaan Allah, Sang Pencipta. Mazmur ini membuka mata kita untuk melihat bahwa semua ciptaan itu berharga dan mencerminkan keagungan Allah. Ini sering dikaitkan dengan kisah penciptaan dalam Kejadian 1 dan ada banyak karya penciptaan dalam Kejadian 1 juga muncul dalam Mazmur ini. Ada keharmonisan antara manusia, alam dan hewan. Mereka semua memuliakan Allah dengan caranya masing-masing. Sebagaimana manusia memuliakan Allah dengan bernyanyi, demikian pula sungai memuliakan Allah dengan mengalir, burung dengan berkicau, singa dengan mengaum, biji-bijian dengan menghasilkan buah. Allah menikmati semua yang telah Dia ciptakan.

Disini Allah tidak hanya menciptakan tetapi Allah juga mengembangkan dan terus memelihara ciptaan-Nya melalui nafas-Nya, Roh-Nya. “Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya” (ay.27). Kata ‘semuanya’ disini maksudnya adalah semua makhluk hidup. Seolah-olah semua ciptaan manusia dan hewan bersatu dalam doa untuk makanan sehari-hari. Dan terserah kepada kita sebagai manusia untuk bertanya pada diri sendiri saat ini, peran apa yang kita mainkan, positif atau negatif, dalam memenuhi permintaan penciptaan ini. Ada lagi yang menghubungkan manusia dan hewan: nafas yang diambil dan diberikan Allah (ay.29 dan 30). Dalam napas Allah itu, udara dibagi satu sama lain. Jika Tuhan menyembunyikan wajahnya, hidup akan berakhir. Tetapi ketika Dia mengirimkan nafas-Nya, wajah bumi menjadi baru.

Juga di dalam Mazmur 104 dosa dan kemerosotan tidak dilupakan dan bersaksi tentang kesinambungan dalam hubungan Allah dengan ciptaan. Semua ciptaan juga berbagi dalam hal kerentanan. Manusia dan hewan diciptakan dari debu dan keduanya kembali menjadi debu. Mazmur 104 menampilkn Allah sebagai Allah yang melanjutkan karya penciptaan-Nya. Itu memberi harapan di tengah kemerosotan ciptaan. Ciptaan tidak jatuh dari pemeliharaan Allah; masa depan ciptaan aman di tangan Allah.

Karena dosa muncullah gambaran tentang semua ciptaan yang menderita dalam Roma 8. Paulus melihat dengan mata iman dan dia melihat ciptaan tunduk pada kesia-siaan. Jadi bukan hanya anak-anak Allah dan keselamatan pribadi mereka yang menderita dan tentang penderitaan individu dari orang percaya. Tidak, ini berhubungan dengan seluruh ciptaan.  

Kita bisa memikirkan akan gempa bumi, banjir, bumi yang memanas di mana segala sesuatunya semakin mengancam. Itulah penderitaan ciptaan saat ini, yang sama seperti manusia alami akibat dari kejatuhan dalam dosa. Paulus juga menggunakan gambaran: ciptaan yang ada dalam penderitaan. Semua binatang juga menderita kesakitan. Bumi sedang menderita kesakitan, seperti video di Italia dan Rumania berikut ini.

https://youtu.be/9EtGNTMULxs

Saudara-saudari,

Apa yang Anda rasakan dengan video ini? Dikatakan dengan sangat tegas dalam Rom.8:22: “Kami tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin”. Apakah kita benar-benar tahu? Apakah itu benar-benar merasuk jiwa kita? Apakah itu menyentuh kita? Karena disini  berbicara tentang segala makhluk yang menderita sakit bersalin: dimana rasa sakit dan harapan datang datang bersamaan. Kita harus melaluinya bersama dengan seluruh ciptaan, karena kita mengharapkan sesuatu yang lebih baik: setelah penderitaan akan dimuliakan (Rom.8:18, 30).

Hal ini selanjutnya tidak mengarah pada kepasrahan pada situasi, karena dari harapan yang ada (8:20, 23-25) ada dorongan kuat bagi kita untuk sekarang ini  mendirikan tanda-tanda masa depan bagi keutuhan ciptaan!

Sebab Kristus membawa pendamaian dan keharmonisan bagi semua ciptaan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Penebusan Kristus juga dipahami sebagai penebusan kosmos yang mencakup seluruh alam dan ciptaan. Penyelamatan juga mencakup pendamaian atau pemulihan hubungan yang telah rusak antara manusia dan ciptaan lainnya.

Jadi masuk akal bahwa rencana pemulihan Tuhan tidak hanya menyediakan pendamaian  antara Allah dan manusia, dan di antara sesama manusia itu sendiri, tetapi juga melibatkan pembebasan ciptaan yang dalam kesusahan. Apa yang dapat gereja lakukan?

Saudara-saudari,

Selaku gereja, kita adalah persekutuan orang-orang yang telah ditebus yang sekaligus adalah ciptaan baru dalam Kristus (II Korintus 5:7), dipanggil oleh Allah untuk berperan dalam pembaruan ciptaan. Dengan dikuatkan oleh Roh Kudus, kita selaku orang-orang percaya dipanggil untuk bertobat dari penyalahgunaan dan perlakuan kejam terhadap alam. Sebagai gereja kita harus kembali belajar melihat tugas dan tanggung jawabnya terhadap seluruh ciptaan.

Sebab peran kita adalah menjaga lingkungan dari kerusakannya. Dalam hal ini kita sebagai gereja harus menyadari bahwa kerusakan lingkungan sudah merupakan ancaman yang serius bagi tatanan kehidupan saat ini. Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan manusia. Pertanyaannya kapan kita bisa katakan terhadap diri sendiri bahwa apa yang kita konsumsikan itu cukup?

Sejak tahun 2019 agenda tentang ‘Groene kerken / Gereja hijau’ telah dibicarakan di Persekutuan gereja-gereja di Tilburg dan juga di GKIN regio Tilburg. Karena pandemi kita baru dapat melaksanakan hal itu hari ini.

Persiapan khotbah minggu ini menyentuh inti panggilan saya sebagai orang percaya dan pendeta. Mengapa? Karena saya merenungkan dan saya temui bahwa ada banyak hal yang saya harus ubah dalam gaya hidup saya, misalnya tentang penggunaan gas, air lampu, sampah plastik, dll. Karena itu percakapan hari ini sesudah ibadah memberikan harapan. Ada pemintaan dari regio Tilburg agar tema ini dibicarakan di Moderamen, sabtu 17 september yang akan datang. Marilah kita bersama menemukan bagaimana kita sebagai manusia dimaksudkan untuk hidup dengan adil bagi bumi dan semua penghuninya. Ini adalah sebuah proses pencarian bagi kita semua yang kita dapat lakukan dengan segenap kekuatan kita.

Dengan keyakinan bahwa suatu hari Tuhan akan memulihkan dunia seperti semula. Kemudian setiap orang yang telah hidup dengan Tuhan akan kembali hidup dalam keselarasan yang sempurna dengan Dia, dengan dirinya sendiri, dengan satu sama lain dan dengan alam. Hal ini tidak terjadi secara otomatis, tetapi tumbuh ketika kita membangun relasi dengan Tuhan, berbicara dengan-Nya, membaca Alkitab (kitab kehidupan Kristen) dan mencari jalan melalui kehidupan bersama dengan orang Kristen lainnya. Marilah kita lebih lagi menemukan peran kita sebagai gereja untuk membawa Penyembuhan dan pemulihan Allah dalam hubungan dengan ciptaan. Biarlah Roh Kudus bekerja dan berkuasa dalam gereja-Nya.

Amin.