Pembacaan Alkitab: Roma 12:9-21 (vers 15)

 

Jemaat yang dikasihi Allah dan yang mengasihi Allah, 

Hari ini kita akan berbicara tentang empati, ikut merasakan atau berbelas kasihan pada orang lain berdasarkan Roma 12:9-21. Pertama-tama kita melihat terlebih dahulu apa yang Paulus ingin sampaikan kepada kita, sesudah itu kita perdalam tentang empati agar sebagai gereja dan jemaat lebih terikat satu sama lain melalui keterlibatan emosi yang dalam di tengah-tengah susah dan senang dalam kehidupan kita. 

Saudara-saudara, 

Jika Anda membaca bagian ini, maka Anda akan menemukan berbagai macam topik pembicaraan, sejenis peringatan atau nasehat yang kelihatannya tidak berkaitan satu dengan yang lain. Namun, bagian ini tidak ditulis begitu saja oleh Paulus. Bagian ini membentuk satu kesatuan dan berhubungan dengan bagian awal Roma 12:1-8. Dimana Paulus katakan hidup kita seluruhnya adalah persembahan yang hidup kepada Tuhan. Untuk itu ada satu topik utama yang ingin Paulus kembangkan, yaitu, kasih yang tulus, jangan pura-pura (ayat 9a).

Kasih adalah kata kunci untuk keseluruhan bagian ini. Paulus menganggap bahwa para pendengarnya, anggota jemaat di Roma tahu bahwa mereka harus saling mengasihi dan dia menasihatkan mereka bahwa cinta kasih mereka, satu sama lain itu harus tulus.

Cinta kasih ini didasarkan pada cinta kasih Allah. Rahmat atau belas kasihan Allah, itulah pengasihan Allah bagi kita. Allah benar-benar mengasihi kita dan Dia tidak pernah berpura-pura. Allah selalu jujur: dalam murka-Nya atas dosa, tetapi juga dalam kasih-Nya kepada orang berdosa.

Cinta yang sejati itu mengalir dari hidup Yesus yang ada di dalam kita, dan bukan usaha kita sendiri untuk mengasihi. Karena Allah begitu mengasihi kita, kita pun harus memiliki kasih yang tulus itu. Cinta kasih sebagai saudara-saudari dalam jemaat Kristen. Itu adalah sesuatu yang berharga. Kasihilah sebagai saudara, sebagai keluarga. Bukan karena harus mengasihi tetapi kasihilah sebagai saudara. Ini adalah sesuatu yang spontan dan terhubung dengan orang lain. Ini adalah belas kasihan atau empati yang datang dari hati dimana orang lain bisa menerima hormat lebih dari pada kita. 

Saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus, Paulus mengatakan bahwa cinta kasih ini muncul dalam tindakan nyata dalam hidup kita setiap hari. Agar kita membenci yang jahat dan melakukan yang baik. Yang baik ini ditemukan dalam Firman Allah dan dalam diri Yesus Kristus. Karena itu pusatkanlah pandangan Anda pada Yesus Kristus dan sesama.

Dia menjelaskan cinta kasih ini secara luas dalam berbagai bentuk dimana klimaks dari keseluruhannya terletak pada bagian tengah pasal ini, yaitu dalam ayat 15: ‘Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis’.

Di sini Paulus berbicara tentang keterlibatan yang dalam antara anggota jemaat sebagai pengikut Kristus, dalam turut merasakan, berempati, berbelas kasihan pada apa yang orang lain rasakan. Agar Anda merasakan gerakan belas kasih ini dalam hati Anda. Sama seperti Yesus Kristus yang tergerak hatinya pada saat melihat orang sakit, menderita, haus dan lapar. Ini adalah ciri khas hidup kekeristenan. 

‘Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis’?.

Saudara-saudari,

Marilah kita bersama-sama membaca Roma 12:15 ini. Bahasa Belanda terlebih dahulu sesudah itu Bahasa Indonesia.

‘Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis’.

Apa yang lebih mudah bagi Anda? Apakah lebih mudah untuk ikut menangis dengan orang yang menangis atau justru lebih mudah untuk ikut bersukacita dengan orang yang bersukacita?. 

‘Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita’.

Kita bergembira dengan siapa yang merayakan sesuatu dalam hidupnya. Hari jumat yang baru lalu, kami bergembira dengan saudara Indra Sihar Simanjuntak yang telah meraih gelar Doktor-nya di Eindhoven. Keluarganya ada di Indonesia dan beberapa jemaat dari Tilburg hadir bersama beberapa temannya dari Wageningen. Kita menikmati suasana sukacita sebagai bagian kebersamaan. Kita tidak ingin dia bersuka cita dalam kesendirian tanpa teman.

Saudara-saudari, 

Jika berhubungan dengan ‘Menangislah dengan orang yang menangis’, kita bisa turut merasakan apa yang dialami saudara-saudara kita di regio Rijswijk/Den Haag yang dalam dua minggu ini harus berpisah dengan dua anggota jemaat dan anggota keluarga yang mereka kasihi.

Saya yakin masing-masing kita mengenal dan mengetahui apa itu kepedihan, melalui duka, sakit, putus asa, kecewa, dan lain-lain dalam pekerjaan, rumah tangga dan jemaat. Di saat-saat seperti itu, baik jika ada teman, rekan kerja, anggota keluarga, atau orang gereja, yang mau mendengar keluhan dan cerita Anda, yang memberikan waktu dan tidak menghakimi situasi Anda, yang mengerti situasi Anda, yang turut merasakan apa yang Anda rasakan, yang mengerti kepahitan dan kegembiraan Anda.

Singkatnya, Firman Allah ‘Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis’ berhubungan dengan keterlibatan emosi kita. 

Inilah yang kita kenal dengan kata empati. Empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dalam Alkitab dipakai kata belas kasihan atau turut merasakan. Ini adalah sikap yang baik dimana Anda dapat memberi arti bagi banyak orang. Anda berbelas kasih tanpa harus merasa kasihan. Penting untuk menempatkan diri dalam situasi orang lain untuk hubungan yang lebih dalam. 

Mari kita lihat video berikut ini dimana Brené Brown menunjukan perbedaan antara sympati dan empati.

https://www.youtube.com/watch?v=K3znEm8DAiI

Kata-kata apa yang Anda resapi dalam hati Anda?

Kita telah melihat perbedaan antara sympati dan empati. Marilah kita belajar, jika ada orang yang ada dalam kesulitan di sekitar kita: Biarlah kita menjadi beruang dan bukan rusa.

Menurut Brown, empati, belas kasih adalah suatu ketrampilan yang dapat dikembangkan dan ditumbuhkan. Ia menghimbau sebanyak mungkin orang untuk terbuka bagi empati dalam hidup mereka. Baik sebagai pemberimaupun sebagai penerima: kedua-duanya penting. Karena melalui empati kia tidak hanya lebih mengerti satu dengan yang lain, bagaimana untuk didengar. Kita juga tahu seperti apa itu perasaan diterima. Inilah yang Kristus lakukan bagi kita sebagai orang berdosa. Rasul Paulus juga mengundang kita untuk lebih terlibat, turut merasakan satu sama lain sebagai jemaat Kristus, dalam emosi kita, dalam sukacita dan kesedihan kita.

Saudara-saudari,

Kedekatan seperti ini adalah satu tantangan untuk GKIN, untuk regio-regio dan HSK, karena kelihatannya teknologi dan media sosial memberikan kita perasaan bahwa hubungan virtual dapat terjalin di dalam dan di luar jemaat.

Saudara-saudari,

Kita mungkin bisa membangun beberapa hubungan tetapi kita tidak bisa mengungkapkan cinta kasih yang tulus. Cinta kasih yang sebenarnya menuntut kita untuk benar-benar dapat berdiri dan bergaul dengan sesama secara fysik. Untuk itu kita harus kembali lagi datang ke gereja.

Saudara-saudara,

Khotbah hari ini mungkin menimbulkan pertanyaan bagi sebagian orang. “Apakah ini berarti aku harus membagikan Semua masalah yang ada dalam diriku? Beberapa hal aku lebih suka simpan sendiri”.. Dan itu tepat….Anda tidak harus membagikan semuanya. Atau apakah ini berarti bahwa Anda setiap hari datang ke rumah sesama? Saya berharap tidak demikian. Dan siapa yang mengharapkannya? 

Berbelas kasih berhubungan dengan mengerti dan merasakan. Merasa terlibat dengan tulus hati melalui kasih Kristus yang murni. Inilah yang rasul Paulus maksudkan dalam Romeinen 12:15. Anda bisa bersukacita satu sama lain ketika ada hal-hal yang membuat bahagia. Dan kita bisa bersedih satu sama lain untuk berbagi kesedihan kita. Dan marilah kita melakukannya dengan kasih yang tulus dari Kristus. 

Kita lebih dekat dengan rumah kita diminggu yang baru ini. Praktisnya, jika suami, istri, anak, ayah atau ibu, mengeluh dan perlu mencurahkan isi hati, apakah kita mau mendengarkannya? Apakah kita berbelas kasih dan berempati, kita diam sejenak di samping mereka mendengar dan menyimak apa yang ingin mereka katakan?. Bukankah cinta kasih yang tulus itu datang dari Tuhan dalam rumah tangga kita sendiri? Bahwa kita bersukacita dengan siapa yang bersuka cita dan menangis dengan siapa yang menangis? Apa jawab saudara?

Amin.