Pembacaan Alkitab: Ibrani 12:1-3

 

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Olimpiade Tokyo 2020, baru saja berakhir. Di saat dunia sedang berjuang melawan pandemi yang telah berlangsung lebih dari 1 ½ tahun dan juga dalam suasana duka karena kehilangan orang-orang yang kita kenal dan kasihi, kita bersyukur Olimpiade Tokyo boleh terlaksana dan dapat menghibur banyak orang. Ada banyak cerita dan kejadian yang menarik dari Olimpiade Tokyo 2020 ini. Salah satunya adalah keberhasilan dari pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, yang memperoleh medali emas untuk cabang bulutangkis.

Kemenangan Greysia dan Ayu ini sangat fenomenal dan membanggakan karena sejak diperkenalkan olahraga bulutangkis di arena Olimpiade Barcelona 1992, Indonesia memang selalu berhasil mendapatkan medali emas dalam cabang bulutangkis, kecuali untuk ganda putri. Jadi sebelum Olimpiade Tokyo ini, belum pernah ada pasangan ganda putri bulutangkis Indonesia yang berhasil masuk final dan juga yang memenangkan medali emas. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, pasangan ganda putri Indonesia berhasil meraih medali emas di arena bulutangkis Olimpiade.   

Keberhasilan ini tidak saja disambut gembira dan meriah oleh ratusan juta penduduk Indonesia, tetapi juga menarik perhatian banyak orang dan media asing. Hari minggu lalu, saya mendengar di salah satu radio Belanda, menceritakan keberhasilan Greysia dan Ayu ini. Kemenangan mereka dibanjiri dengan pelbagai macam hadiah dan juga dikatakan merupakan kado istimewa bagi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 76 tahun. Kemenangan ini menjadi penghiburan dan juga menyatukan seluruh rakyat Indonesia dalam menghadapi masa sulit ini.  

Kita bersyukur kepada Tuhan untuk kemenangan pasangan Greysia dan Ayu. Pada kesempatan ini, saya ingin menceritakan lebih jauh tentang perjuangan dari seorang Greysia Polii.

Karena keberhasilan yang dicapainya ini tidak mudah tetapi melalui perjuangan yang sangat berat. Ia adalah atlit putri senior yang sudah tidak muda lagi usianya, pernah mengalami beberapa kali cidera, pernah mengalami diskualifikasi di Olimpiade London 2012, dan pernah juga tidak punya pasangan bermain karena partnernya cidera berat.

Tentu tidak mudah bagi Greysia untuk tetap dapat bertahan main bulutangkis dan juga meraih prestasi. Apalagi ia juga harus kehilangan saudara kandung laki-lakinya, setelah ia melangsungkan pernikahan dengan Felix Djimin pada bulan desember 2020 yang lalu. Motto hidupnya adalah “Come back stronger”- kembali lebih kuat. Motto hidupnya ini, benar-benar dipraktekkan oleh Greysia dalam kehidupan dan karir bulutangkisnya. Ketika jatuh atau mengalami kegagalan, ia tidak menyerah tetapi bangun kembali lebih kuat lagi. Untuk lebih mengenal sosok Greysia Polii, mari kita ikuti wawancara yang pernah dilakukan oleh pastor José Carol dari JPCC, tempat Greysia beribadah. (Video Kesaksian Hidup Greysia - www.youtube.com/watch?v=I6qkSz2c-VI)

 

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Perjuangan dan keberhasilan Greysia dan Ayu, tentu dapat memberi motivasi dan menjadi teladan, tidak saja bagi para atlit tetapi juga bagi kita, sebagai orang-orang kristen. Mengapa? Dalam ayat pembuka dan juga perikop kita tadi, kita diingatkan bahwa sebenarnya kehidupan kita sebagai orang-orang kristen dan murid Kristus di dunia ini, ibarat atlit yang sedang berada dalam pertandingan atau perlombaan.

Pertandingan atau perlombaan apa? Pertandingan atau perlombaan iman! Bahkan dikatakan dalam ayat 1 dari perikop kita, perlombaan itu diwajibkan bagi kita. Artinya, mau atau tidak, kita ini sedang berada dalam suatu perlombaan atau pertandingan iman. Dan pertandingan iman ini, tidak hanya berlangsung beberapa kali tetapi terus berlangsung selama kita masih hidup di dunia ini.

Wajar kalau setiap orang yang sedang berada di dalam suatu pertandingan, ingin berhasil. Kita semua juga ingin berhasil di dalam pertandingan iman ini seperti yang dialami oleh rasul Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”. Namun kita semua tahu dan menyadari bahwa pertandingan iman yang harus kita lakukan ini, tidak mudah.

Mengapa? Karena lawan yang harus kita hadapi adalah lawan yang sangat berat, yakni si iblis. Kita harus melawan kuasa iblis. Kita tahu dan menyadari bahwa kekuatan iblis itu jauh melebihi kekuatan kita manusia. Dalam pertandingan iman ini, kalau hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, kita tidak akan sanggup menghadapi lawan kita. Oleh sebab itu, penting sekali untuk mengetahui bagaimana cara atau tips nya supaya kita berhasil dalam pertandingan iman ini.

Perikop dari Ibrani 12:1-3 ini, membantu kita untuk belajar, apa yang seharusnya kita persiapkan dan lakukan dalam pertandingan iman ini? Sebelum kita membahas hal itu, menarik untuk memperhati-kan apa yang dikatakan di awal perikop ini, “Karena kita mempunyai banyak saksi…” Artinya kehidupan kita sebagai orang-orang kristen dilihat atau disaksikan oleh banyak orang. Ada seorang penafsir Alkitab yang mengatakan bahwa “Orang Kristen adalah seperti seorang pelari dalam stadion yang penuh sesak. Sementara ia memacu diri maka para penonton itu menontonnya. Dan orang banyak yang menontonnya itu adalah orang-orang yang telah memenangkan mahkota”

Jadi sdr-sdr, kehidupan kristen itu harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, seperti seorang atlit yang sedang bertanding, mengerahkan semua kemampuan, tenaga, dan pikiran yang ia punyai agar dapat berhasil di dalam pertandingan tersebut. Nah hal-hal apa saja yang menurut penulis kitab Ibrani, perlu kita perhatikan?

1. Melepaskan beban. Langkah pertama yang harus kita persiapkan dan lakukan dalam pertandingan iman ini, adalah menanggalkan atau melepaskan semua beban dan dosa yang menghalangi kita. Sama seperti dalam bidang olahraga, ketika mau bertanding maka kita berusaha untuk menanggalkan beban atau pakaian yang tidak perlu, agar supaya kita dapat berkonsentrasi penuh dan bertanding dengan bebas.  

Demikian juga dengan pertandingan iman ini, kita sebagai orang-orang kristen dan murid Kristus, terlebih dahulu harus menanggalkan beban dan dosa-dosa yang menghalangi hidup kita. Kalau kita pernah mengalami kepahitan atau luka batin masa lalu dan masih bergumul dengan hal itu, maka kita mohon pertolongan Tuhan untuk bisa berdamai dengan pengalaman traumatis masa lalu dan dipulihkan serta “move on” dengan hidup kita. Sehingga hidup kita dipakai Tuhan menjadi kesaksian yang hidup dan berkat bagi dunia ini.

2. Berlomba dengan tekun.Hal yang kedua adalah kita harus berlomba atau bertanding dengan tekun. Kata “tekun” dalam ayat ini, bahasa aslinya adalah Hupomone berarti suatu sikap hati yang tabah menghadapi ujian atau penderitaan. Dalam suatu pertandingan adalah penting untuk terus memelihara semangat dan ketekunan secara luar biasa. Tanpa semangat kita tidak akan bisa kuat berjuang, tanpa ketekunan kita tidak akan pernah maju. Memang dalam pertandingan iman ini, tidak mudah. Kita semua tentu pernah mengalami jatuh bangun di dalam pertandingan iman ini.

Sdr-sdr, Olimpiade Tokyo, juga menghasilkan sebuah kisah yang luar biasa dari sosok Sifan Hassan,

seorang pelari putri yang mewakili negeri Belanda, dan berhasil merebut 3 medali (2 emas dan 1 perunggu) dari 3 cabang lari yang ia ikuti. Sifan Hassan, sebelumnya adalah seorang pengungsi yang datang ke Belanda, dari Ethiopia. Ketika mengikuti babak pendahuluan lari 1500m, Sifan Hasan sempat jatuh tersandung pelari yang ada di depannya.

Tetapi Sifan, tidak menyerah, ia bangun kembali dan terus melanjutkan lomba tersebut. Mari kita saksikan bagaimana ketekunannya membuahkan hasil. (Video-clip Sifan Hassan - www.youtube.com/watch?v=I6qkSz2c-VI). Kesabaran dan ketabahan juga sangat dibutuhkan untuk kita bisa berhasil dalam pertandingan iman.

 

3. Terus fokus pada Yesus. Dalam ayat ke 2 dikatakan, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju pada Yesus…” Sdr-sdr dalam perlombaan lari, agar berhasil maka para atlit harus tetap fokus pada garis akhir atau garis finish. Kalau mata kita terus menengok kiri dan kanan, itu bukan lomba lari namanya tetapi sedang shopping, lihat kiri lihat kanan untuk cari di mana yang ada diskon besar. Dalam pertandingan iman, penting sekali agar mata kita tetap tertuju atau fokus pada Yesus. Yesus harus menjadi sasaran dan pusat dari hidup kita. Karena Yesus lah satu-satunya yang dapat diandalkan dalam hidup kita.

Tidak sedikit orang kristen yang gagal di dalam pertandingan iman karena matanya tidak tertuju pada Yesus, melainkan tertuju pada hal-hal duniawi atau yang lainnya. Kalau dalam pertandingan iman ini, mata kita tertuju kepada Yesus maka dikatakan kita akan dpimpin dalam iman. Artinya kita akan tetap beriman pada Dia. Iman pada Kristuslah yang akan membawa dan memimpin kepada garis akhir hidup kita, yakni kesempurnaan atau hidup dalam kemuliaan bersama dengan Tuhan kita.    

4. Mengikuti teladan Yesus. Dalam ayat 3 dikatakan, “Ingatlah selalu akan Dia…” Agar dapat berhasil di dalam pertandingan iman ini, kita tidak saja harus ingat selalu akan Yesus tetapi juga mengikuti teladan hidup Yesus selama di dunia ini. Yesus dengan mengabaikan kehinaan, datang ke dunia dan merendahkan diri menjadi manusia. Ia rela menderita, disiksa, diolok-olok bahkan mati di atas kayu salib demi menanggung dosa-dosa kita dan dunia ini. Ia dengan tekun dan setia menjalani panggilan-Nya sampai akhir hidup-Nya. Yesus mau melakukan itu semua karena kasih-Nya yang begitu besar pada kita, orang-orang berdosa.

Sdr-sdrku, kalau kita melihat teladan Yesus, yang dengan tekun, setia, penuh cinta kasih dalam menjalani panggilan-Nya maka kita akan termotivasi, tidak menjadi lemah dan putus asa. Dan yang menguatkan kita, Tuhan Yesus bukan hanya teladan bagi hidup kita tetapi Ia juga hadir menemani kita di dalam pertandingan iman ini sehingga kita dapat mengakhirinya dengan baik.

Kehadiran dan pernyertaan Tuhan juga dirasakan dan dialami oleh Greysia Polii. Dalam wawancara tadi dengan Greysia Polii, ada beberapa yang dapat kita teladani:

  1. Greysia percaya bahwa ia dilahirkan untuk memberkati banyak orang
  2. Ketika mengalami kegagalan dan hampir menyerah, ia justru semakin dekat dengan Tuhan dan menyakini bahwa tugasnya belum selesai. Ia terus berlanjut walaupun banyak orang yang pesimis dan menyatakan sudah waktunya untuk ia menyerah dan berhenti bermain.
  3. Definisi keberhasilan dalam hidupnya: Bisa bersinar bagi banyak orang, tidak untuk diri sendiri.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Mungkin pertandingan iman yang harus kita hadapi berbeda-beda. Ada yang harus bertanding dengan iman menghadapi sakit penyakit, kecemasan dan depresi, kehilangan orang-orang yang dikasihi atau ada juga yang berjuang menghadapi masalah keluarga, ketidak-adilan dan diskriminasi. Mari kita tetap melanjutkan pertandingan iman ini dengan tekun dan dengan mata tertuju kepada Tuhan sehingga kesaksian hidup kita boleh menguatkan dan menyinari banyak orang. Tuhan memberkati kita semua.

AMIN