Pembacaan Alkitab: Lukas 19:37-44

 

Sdr-sdr yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus,

Kapan terakhir kali, anda menangis? Apa yang menyebabkan Anda menangis? Selama masa pandemi ini, banyak di antara kita yang berduka karena kehilangan. Tidak saja kehilangan orang-orang yang dikasihi, tetapi ada juga yang kehilangan pekerjaan atau mata pencaharian, kehilangan kebersamaan dengan sanak-keluarga, saudara-saudara seiman dan teman-teman. Ada juga yang merasa kehilangan kebebasan karena harus tinggal di rumah. Bagi mereka yang suka “window shopping” kehilangan toko-toko untuk bisa “cuci mata” Begitu juga untuk mereka yang punya hobby makan, kehilangan restoran favorit untuk makan bersama dengan keluarga atau teman-teman. 

Nah sdr-sdr, tidak saja pada masa pandemi ini, kita banyak mengalami kehilangan. Bukankah sebenarnya kehidupan di dunia ini juga merupakan siklus atau rangkaian dari kehilangan demi kehilangan. Artinya selama kita hidup di dunia ini, pasti kita akan mengalami pelbagai kehilangan. Mulai ketika seorang bayi dilahirkan, ia kehilangan kenyamanan dan kehangatan berada di dalam rahim ibunya. Ia masuk ke dalam dunia yang baru dan asing.

Selanjutnya, setiap kali merayakan ulang tahun, memang usia kita bertambah namun di lain pihak kita kehilangan waktu 1 tahun lagi untuk hidup di dunia.

Ketika anak-anak sudah mulai berajak dewasa dan telah berkeluarga, maka orangtua mengalami yang disebut “empty nest” syndrome, kekosongan di dalam rumah karena kehilangan kebersamaan dengan anak-anak mereka. Lalu ketika memasuki masa pensiun, kita kehilangan pekerjaan. Dan pada saat usia kita semakin lanjut, kita tidak saja kehilangan masa muda dan perlahan-lahan kehilangan kesehatan kita. Tapi juga kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, satu per satu, orang tua, saudara kandung, suami, istri, anak, teman-teman. Sampai akhirnya kita sendiri kehilangan kesempatan hidup di dunia ini karena kembali ke rumah Bapa di Surga.

Nah, dalam kaitan dengan pelbagai kehilangan ini, sangat wajar dan manusiawi kalau kita sebagai manusia yang memiliki emosi dan perasaan, bisa juga berduka dan menangis. Bukan kebetulan, kalau Allah memberikan kita cukup airmata untuk berduka dan menangis.

Dan yang luar biasa sdr-sdrku, air mata kita selalu bisa direfill atau diisi ulang. Tidak pernah habis. Justru yang berbahaya dan tidak sehat kalau kita tidak pernah menangis. Ada kesaksian dari seorang bapak peserta Pemahaman Alkitab yang mengatakan bahwa ayahnya harus dioperasi matanya pada usia tua karena jarang sekali atau hampir tidak pernah menangis atau mengeluarkan airmata selama hidupnya.

Sdr-sdr, memang ada orang-orang tertentu yang berduka namun sulit untuk menangis atau mengeluarkan airmata. Mungkin orang-orang ini dibesarkan dengan budaya yang melarang, khususnya bagi anak laki-laki untuk menangis. “Jadi anak laki-laki harus kuat, jangan “cengeng” atau mudah menangis”. Ada juga pemahaman teologis yang mengatakan, orang kristen tidak boleh berduka atau menangis karena itu menunjukkan orang kristen yang lemah dan kurang iman. Apakah benar pemahaman teologis seperti itu?

Dari perikop yang kita baca dan dengar, ternyata Tuhan Yesus pun bisa menangis.

Apakah ini berarti bahwa Yesus – Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, adalah orang lemah dan kurang iman? Alkitab mencatat ada dua peristiwa yang menyatakan bahwa  Tuhan Yesus menangis. Yang pertama, adalah ketika peristiwa kematian Lazarus seperti yang dikotbahkan oleh kolega saya pdt Marla, hari minggu yang lalu. Dikatakan dalam Johannes 11:35, “Maka menangislah Yesus”

Dan ayat kedua yang mencatat bahwa Tuhan Yesus menangis, terdapat dalam perikop kita, yakni peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke kota Yerusalem dan disambut serta dielu-elukan sebagai seorang raja, seperti yang dikisahkan menurut versi Injil Lukas. Dalam ayat 41, dikatakan, “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya.”  

Tuhan Yesus menangis dua kali namun dengan alasan yang berbeda. Yang pertama, Tuhan Yesus menangis karena merasa kehilangan dan turut berduka bersama dengan Marta dan Maria yang ditinggal oleh Lazarus, saudara laki-laki mereka. Lalu apa alasannya ketika Tuhan Yesus menangisi kota Yerusalem? Tentu ada sesuatu hal yang sangat dan amat penting, kalau Yesus sampai menangisi kota Yerusalem.

Kota Yerusalem adalah salah satu kota terpenting di dunia ini.

Sering disebut sebagai kota suci dan dalam Mazmur 48:2 Yerusalem disebut sebagai kota Allah kita. Kota Yerusalem itu adalah pusat peribadatan Yahudi, tempat dimana Bait Allah berdiri. Pada setiap ada perayaan besar, bangsa Yahudi dari pelbagai tempat datang ke Yerusalem, sejak berdirinya Bait Allaholeh raja Salomo pada sekitar abad 10 sebelum Masehi. Kota Yerusalem juga merupakan tempat dari para ahli Taurat dan orang Farisi berkumpul dan belajar hukum Taurat. Dan kota Yerusalem pada masa Yesus hidup di dunia sedang dikuasai oleh bangsa Romawi.

Sdr-sdr, ke empat kitab Injil mengisahkan peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke kota Yerusalem. Yesus disambut dengan meriah dan dielu-elukan oleh orang banyak.

Mereka berseru, katanya “Hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Kata “Hosana” (ini tidak terdapat dalam kisah versi Lukas), bahasa Ibraninya adalah Hosiana, artinya “Selamatkanlah (kami) sekarang” – “Save (us) now”, suatu permohonan atau doa. Bahkan dalam versi Injil Johanes, Yesus disambut sebagai Raja Israel! (Joh 12:13).

Di sini ada sesuatu yang aneh dan mengherankan bagi kita. Bukankah seharusnya kalau Yesus disambut dan dielu-elukan oleh orang banyak serta dianggap sebagai Mesias dan Raja, mestinya Yesus merasa senang dan bersukacita. Bukankah kita juga akan merasa gembira dan tersanjung kalau ada orang yang memuji kita. Tetapi mengapa di dalam perikop kita, dikatakan justru Tuhan Yesus menangis? Apa yang menyebabkan Yesus menangisi kota Yerusalem? Paling tidak ada 3 alasan:

1. Tuhan Yesus menangisi kota Yerusalem karena para penduduknya tidak atau salah mengerti akan maksud dari kedatangan-Nya. Para penduduk Yerusalem dan orang banyak pada waktu itu menyambut Yesus sebagai Mesias (Orang yang diurapi), yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Hal ini sesuai dengan pengharapan mereka atas nubuat yang terdapat dalam kitab Daniel 9:25, “Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja…”

Jadi, sdr-sdrku, pada waktu itu, para penduduk Yerusalem sangat menyakini bahwa penggenapan janji Allah yakni datangnya Sang Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu dan dinantikan terjadi pada diri Yesus. Mereka telah mendengar dan melihat sendiri Yesus melakukan banyak kesembuhan dan mujizat. Oleh sebab itu, kita bisa mengerti ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, ia disambut sebagai seorang raja.

Mereka sangat bergembira karena saatnya telah tiba, mereka akan dibebaskan. Sudah sekian lama, mereka mengalami kesusahan dan penderitaan akibat penjajahan bangsa-bangsa lain. Kita saat ini bisa merasakan betapa lamanya menunggu pandemi Covid 19 ini berlalu. Sudah lebih dari 1 tahun dan kita tidak tahu sampai kapan kita harus menunggu.

Nah penduduk Yerusalem dan orang-orang Yahudi sudah begitu lama menunggu lebih dari ratusan tahun. Mereka rindu untuk mengembalikan kejayaan kota Yerusalem seperti pada zaman raja Daud dan Salomo. Kini, Sang Raja Damai yang ditunggu-tunggu itu, telah datang dalam diri Yesus. Oleh sebab itu, mereka dengan antusias menyambut Yesus dan melambai-lambaikan daun palem, sebagai simbol kemenangan. 

Namun sayang mereka tidak mengenali rahasia yang paling dalam dari arti kata “damai”. Mereka mempunyai keyakinan bahwa Tuhan Yesus – Sang Raja Damai datang untuk memberikan damai atau menjadi juru damai bagi mereka, dalam arti membebaskan mereka dari perang dan penjajahan. Tetapi mereka tidak peka dan tidak mengenali siapa Yesus – Sang Raja Damai yang sesungguhnya. Ini jelas bertentangan dengan arti kata nama Yerusalem, “kota yang mengajarkan damai”.

Pemahaman mereka yang keliru, terlihat jelas pada saat mereka tahu bahwa Yesus ternyata bukanlah Mesias, seperti yang mereka harapkan, bukan seperti yang ada dalam pikiran dan pemahaman mereka. Oleh sebab itu, mereka menjadi sangat kecewa sekali. Itulah sebabnya ketika Yesus ditangkap dan diadili, penduduk Yerusalem dan orang-orang banyak yang tadinya menyambut Yesus dengan antusias dan berseru “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (ayat 28), kini, orang-orang yang sama itu berteriak, “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” (Luk 23:21) Luar biasa bukan! hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 minggu, sikap mereka telah berubah dari tadinya menyambut dan mengelu-elukan Yesus sebagai Raja, kini membenci Yesus.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Mereka mempunyai pandangan 'yang salah atau keliru' tentang Mesias. Pengharapan mereka terhadap Mesias yang akan datang hanya terkait pada hal-hal yang lahiriah, yakni dibebaskan dari penjajah dan kejayaan Israel dipulihkan. Tetapi misi kedatangan Yesus bukan untuk hal-hal lahiriah saja, tetapi untuk hal-hal yang jauh lebih penting, yaitu hal rohaniah dan yang bersifat abadi atau kekal. Ia membawa damai sejahatera yang sesungguhnya bagi dunia ini.

Yesus datang sebagai Juru Selamat yang menebus dosa-dosa mereka, dengan cara mati di atas kayu salib dan bangkit kembali. Hal ini dilakukan Allah karena Ia sangat mengasihi umat pilihan-Nya. Ia tidak saja memikirkan kebutuhan jasmani atau lahiriah umat-Nya yang bersifat sementara, tetapi justru yang kebutuhan manusia yang terpenting, yakni relasi atau hubungan mereka dengan Allah, yang sudah terpisah atau terputus akibat dosa.

Sungguh amat ironis bukan, umat pilihan Allah, tetapi tidak mengerti arti kedatangan Sang Mesias-Nya. Walaupun sebenarnya, Yesus datang untuk tinggal bersama-sama dengan mereka dalam kekekalan, bukan hanya di dunia tetapi juga di surga. Sayang sekali kalau penduduk Yerusalem tidak menyadari hal ini. Untuk itulah, Tuhan Yesus berduka dan menangis.

2. Alasan kedua mengapa Tuhan Yesus menangisi kota Yerusalem? Karena kota dan penduduk Yerusalem pada akhirnya akan mengalami kehancuan, seperti yang dikatakan Yesus dalam ayat 43 dan 44. Mereka akan dibinasakan dan kota Yerusalem akan dihancur-leburkan. Sungguh mengerikan apa yang akan menimpa kota dan penduduk Yerusalem. Dengan kata-kata yang tajam ini, Yesus berusaha mencoba untuk menyadarkan penduduk Yerusalem. Namun sayang usaha Yesus ini mengalami jalan buntu. Karena tidak ada tanda-tanda pertobatan dari penduduk Yerusalem. Menurut catatat sejarah dunia, jenderal Titus dari Roma menghancurkan kota dan Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 M.

3. Alasan terakhir mengapa Tuhan Yesus menangisi Yerusalem karena mereka menolak untuk bertobat. Kita masih ingat perkataan pertama yang diucapkan Yesus pada awal perjalanan minggu-minggu sengsara-Nya? Yesus berkata, “Waktunya sudah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah pada Injil!” Lalu kemudian, Yesus juga sudah pernah memperingati mereka, seperti yang tertulis dalam Lukas 13:34, “Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”

Sdr-sdr, menarik sekali peringatan yang diberikan Yesus kepada Yerusalem, memakai gambaran kehidupan sehari-hari tentang ayam betina dan anak-anaknya. Bukankah pada saat bahaya mengancam, anak-anak ayam kecil lari ke induknya. Mereka bersembunyi di bawah sayapnya. Mereka merasa aman di sana.

Dengan peringatan ini, Yesus sebenarnya mencoba membuka mata penduduk Yerusalem. Dia menunjukkan kepada mereka bahwa ada bahaya besar. `Yesus mendorong mereka untuk datang dan diselamatkan melalui Dia. Tapi sayang Yerusalem menolak peringatan Yesus dan tidak mengenali bahayanya, juga tidak mencari tempat perlindungan yang aman. Hati Yesus begitu sedih dan berduka dengan kekerasan hati penduduk Yerusalem. Maka menangislah Yesus!

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Marilah kita dalam memasuki minggu sengsara ke enam, minggu terakhir sebelum Yesus disalibkan dengan merefleksikan kisah Yesus menangisi Yerusalem ini ke dalam kehidupan kita masing-masing. Sejauh mana kita sudah mengenal Tuhan kita? Apakah kita memiliki pemahaman yang benar mengenai siapa Yesus? Apakah Yesus sungguh menjadi tujuan hidup kita atau hanya sebagai sarana tempat kita meminta sesuatu?

Apa yang dapat kita pelajari selama masa pandemi ini? Apakah kita hanya sibuk mengejar hal-hal yang sementara, materi dan kesenangan dunia ini atau kita juga memberikan waktu kita untuk hal-hal yang kekal, yakni relasi atau hubungan kita dengan Tuhan. Bagaimana seandainya Yesus melihat kepada kehidupan kita dan dunia saat ini? Akankah Ia bersukacita atau ia menangis lagi? “Bertobatlah, serahkanlah dan percayakanlah hidupmu kepada Tuhan” Tuhan memberkati kita semua.

Amin.