Tema 2022: “Gereja, tempat dimana terjadi penyembuhan dan pemulihan" (Ministerium GKIN)

Misi: Gereja adalah tempat untuk menyembuhkan orang yang pertumbuhannya tidak berjalan dengan semestinya, pertumbuhan yang tak terkendali, menyembuhkan dari trauma, prasangka, keputusasaan, agresi, konflik, dll yang meninggalkan bekas, luka. Injil adalah kekuatan yang ‘membuka’’ luka-luka dan menyembuhkan, kekuatan yang memulihkan orang-orang yang terluka.

Visi: Yesus Sang Tabib  dan Tuhan yang memulihkan

Yesus Sang Tabib

Pemahaman Yesus sebagai Sang Tabib dan Tuhan yang memulihkan tidak dapat dilepaskan dari Karya Penyelamatan Allah bagi dunia ini, alam semesta dan manusia yang menyangkut empat hal: ‘Penciptaan, kejatuhan dalam dosa, Penebusan dan Pemulihan’. Manusia yang diciptakan mulia sesuai dengan gambar dan rupa Allah, telah jatuh ke dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Hal ini menyebabkan relasi manusia dengan Allah terputus.  Manusia menjadi musuh Allah dan dosa menyebabkan hilangnya damai sejahtera, meningkatnya kejahatan yang mendominasi kehidupan manusia dan mengakibatkan  ketakutan yang mendalam. Demi kasih-Nya terhadap manusia, Allah sendiri berinisiatif  dan berkarya untuk menebus, menyembuhkan dan memulihkan keadaan manusia. Allah mengutus Anak-Nya yang Tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk menjadi manusia dan datang ke dalam dunia untuk mencari dan menyelamatkan manusia berdosa.

Ketika Yesus memulai tugas pelayanan-Nya, Dia secara langsung mengatakan bahwa Dia-lah yang dibicarakan oleh nabi Yesaya. Dalam Lukas 4:18-19 Dia menghubungkan kata-kata dalam Yesaya 61:1-2 dengan diri-Nya sendiri: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku (Yesus) untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan  pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan memulihkan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan.”

Sejak awal pelayanan-Nya, Yesus menjelaskan bahwa Ia memiliki kuasa/otoritas untuk campur tangan dalam dunia yang dibebani oleh dosa dan penyakit. IA menghadirkan manifestasi kemenangan atas kegelapan yang menggarisbawahi pemberitaan-Nya tentang kerajaan Allah. Kekuasaan Allah nyata dalam penebusan, pembebasan, penyembuhan dan pemulihan.

Jadi pelayanan Yesus terdiri dari tiga unsur: pemberitaan, pengajaran, dan penyembuhan/pemulihan. Pemberitaan-Nya tentang kabar baik kerajaan Allah didukung oleh pengajaran dan penyembuhan serta pemulihan: Yesus adalah Guru dan Tabib. Setelah pengajaran (Khotbah di Bukit dalam pasal 5-7) Matius menggambarkan juga tentang sepuluh cerita penyembuhan.

Tuhan datang kepada kita di dalam Yesus Kristus untuk membebaskan kita dan memulihkan kita dari dosa-dosa kita, kutukan dll, sehingga kita dipulihkan secara total. “Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5). Dalam menyembuhkan orang sakit, kita mengenal Dia sebagai Tabib hidup kita (Lukas 4:18-19). Dia berkata, “Orang yang sehat tidak memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Lukas 5:31). Kenalilah Yesus Kristus, tidak hanya sebagai Yang Tersalib untuk dosa-dosa saudara, tetapi juga sebagai Penyembuh/Yang memulihkan luka-luka saudara. Melalui Dia kita dapat ditetapkan pada jalan harapan baru, bahkan ketika Dia tidak mengangkat semua masalah yang kita hadapi.

Yesus, Tuhan yang memulihkan

Tujuan akhir Karya Keselamatan Allah dalam dunia ini yaitu agar manusia mengalami pemulihan secara holistik.  Artinya manusia dipulihkan di dalam Allah dan pemulihan ini berdampak pada pemulihan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya dan dengan alam/lingkungan.

Kata pemulihan berarti kembali ke bentuk aslinya atau kembali kepada arti untuk apa kita diciptakan, yaitu sesuai gambar dan rupa Allah. Ini adalah proses atau cara Allah mengembalikan manusia dan alam yang sudah rusak pada proporsi yang sebenarnya. Jadi tidak hanya diperbaharui tetapi justru berbeda dalam cara berpikir karena perubahan dalah roh, sehingga kehendak kita, perasaan kita, tujuan hidup kita sesuai dengan kehendak dan tuntunan-Nya. Di sini jelas bahwa Tuhan ingin memulihkan manusia, bukan dari luar saja tetapi juga di dalam tubuh, jiwa dan rohnya, secara holistik.  

Di bawah ini beberapa ayat Alkitab tentang Tuhan yang memulihkan luka:

Tuhan memulihkan luka “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” (Yesaya 58 : 8).

Tuhan mengobati luka“Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, …” (Yeremia.30:17).

Tuhan membalut Luka “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;“ (Mazmur.147:3).

Tuhan ingin menyembuhkan dan memulihkan semua itu, agar luka-luka masa lalu dan saat ini tidak lagi menguasai hidup kita dan Yesus bisa menjadi Tuhan atas hidup kita. Dia ingin memberi kekuatan untuk melepaskan rasa sakit, ketidakadilan dan pemberontakan, sebagai pilihan sadar, untuk menjadi lebih bebas secara batiniah. Ini mengharuskan kita mengenali dan mengakui luka-luka kita dan bahwa kita mengarahkan mata hati kita dengan penuh pengharapan kepada Yesus, Tabib kita yang terluka.

Mengapa tema ini?

Kita hidup di dunia yang terluka dan masyarakat yang terluka yang penuh dengan penderitaan, ketakutan dan ketidakpastian. Dampak Covid-19 terhadap diri sendiri, keluarga dan masyrakat kita semakin meningkat. Dalam situasi pasca corona ini kita mendambakan penyembuhan dan pemulihan karena ada kehilangan seorang (beberapa orang) anggota keluarga yang dikasihi, sakit, dll.

Selain itu, kita tidak boleh meremehkan pengaruh rumah orang tua di masa kecil dan keadaan dunia yang terus berubah saat ini.

Jika kita dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan harmonis, di mana ada ruang untuk masukan dan pengembangan diri kita sendiri, maka ada pengakuan dan penghargaan yang kita rasakan sejak kecil. Jika hal ini tidak kita alami, orang tua banyak menuntut, kita didorong harus 'tampil' dan hanya ada sedikit ruang untuk relaksasi dan percakapan terbuka karena tidak ada sikap jujur ​​dan rentan satu sama lain, maka dalam situasi ini kita bisa saja bergumul dengan rasa percaya diri yang rendah, dengan perasaan bahwa kita harus 'membuktikan bahwa kita mampu dan harus selalu melakukan sesuatu'. Semua ini secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi kerja sama kita satu sama lain, di mana konflik terkadang tidak dapat dihindari. Sebagai Juruselamat, Yesus ingin membantu kita berdamai dengan masa lalu. Nama Juruselamat menunjukkan bahwa Yesus mencari keselamatan kita dan ingin memberi kita pemulihan.

Disamping itu kita melihat persoalan dunia secara umum dan Eropa secara khusus dengan jalur kedatangan pengungsi dari Afganistan. Dimana-mana terjadi kerusakan alam dan perubahan iklim   yang mengakibatkan tanah longsor, banjir, kebakaran lahan, serta kekeringan, bahkan yang lebih besar lagi ialah terjadinya global warming yang berakibat pada kerusakan lapisan ozon. Gereja memainkan peran penting juga  dalam masalah sosial kemasyarakatan ini.

Tujuan:

  1. Tujuan pemulihan sebagai citra Allah, dimana manusia kembali menemukan jati dirinya bukan di dalam dirinya sendiri tetapi di dalam Allah. Dengan demikian menghormati dan memuliakan Allah  dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya TUHAN dalam hidup, menemukan cara efektif untuk memperkenalkan Allah pada orang lain, mengalami Allah dalam pengalaman sehari-hari, memahami hambatan untuk menolong diri sendiri dan orang lain.
  2. Mengenal Yesus Kristus, tidak hanya sebagai Yang Tersalib untuk dosa-dosa kita tetapi juga sebagai Penyembuh luka-luka kita.
  3. Anggota jemaat yang telah mengalami pemulihan berkomitmen untuk melakukan pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat bagi gereja dan masyarakat. Kita harus bertumbuh mencapai maksimal yang ditandai dengan adanya buah-buah pelayanan yang nyata untuk dunia dan tempat dimana gereja hadir.
  4. Gereja menjadi komunitas yang saling memperhatikan dan menjaga. Gereja adalah tempat berbelas kasih, turut merasakan dan tempat untuk saling menanggung beban satu sama lain.
  5. Memperoleh wawasan tentang konsekuensi dari asuhan/didikan orang tua pada kepribadian kita, maka kita juga dapat mengambil keputusan konkret untuk melakukan sesuatu tentang hal itu dan mengambil jarak dari masa lalu.
  6. Menjadi gembala untuk diri sendiri untuk membantu diri sendiri dan orang lain.

 

Penerapan:

  • Menguraikan dan memperdalam khotbah Minggu, seri khotbah, peralatan, studi Alkitab dan kelompok pertumbuhan
  • Pendampingan pastoral kepada orang yang sedang berduka
  • Membantu anggota jemaat secara mendalam melalui Diakonia dan Komisi Perkunjungan rumah tangga.