Pembacaan Alkitab: 1 Korintus 2:1-10

 

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus,

Thema preken serie kali ini adalah “Bersaksi tentang Yesus: bukan dengan hikmat dunia tetapi dengan kuasa Roh Kudus.”

Saya mengajak sdr-sdr untuk menebak beberapa foto.

Foto yang pertama, ada yang tahu foto dari tokoh dalam Alkitab ini?

Foto yang kedua?

Dan ini foto yang ke tiga.

Yang menarik dari ke-3 tokoh ini ialah mereka melakukan kegiatan yang sama, yakni memberitakan Injil Kristus.

Saudara-saudara, walau mereka hidup dalam kurun waktu dan tinggal di belahan dunia yang berbeda-beda, namun mereka dipakai Tuhan sebagai pemberita-pemberita Injil. Rasul Paulus adalah pemberita Injil terkenal bersama-sama dengan 12 orang murid atau rasul yang lain, setelah Tuhan Yesus naik ke surga. John Sung, seorang pemberita Injil di Asia, khususnya di kalangan orang-orang tionghoa. Banyak orang tionghoa di Indonesia menjadi orang Kristen setelah mendengar Injil yang disampaikannya. John Sung dikenal dengan sebutan “Obor Asia”. Dan Billy Graham, adalah pemberita Injil yang terkenal tidak saja di Amerika tapi juga di seluruh dunia.

Ketiga tokoh ini merupakan tokoh penginjilan yang luar-biasa. Juta-an orang boleh mengenal dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi melalui pemberitaan yang mereka sampaikan. Tentu kita mau tahu apa rahasianya? Sehingga mereka berhasil di dalam kesaksian dan pemberitaan Injil. Rahasianya ternyata tidak terletak pada karisma atau penampilan diri dari tokoh-tokoh ini. Tidak juga karena cerita pengalaman rohani mereka. Mereka berhasil dalam penginjilan karena pesan atau berita yang mereka kotbahkan atau apa yang mereka beritakan.

Banyak pemberita Injil pada masa kini yang mengandalkan keberhasilan pelayanannya pada kepandaiannya berkotbah atau kesaksian tentang diri mereka sendiri atau pengalaman rohani mereka. Ada seorang pendeta, kemana-mana bercerita tentang pengalamannya pernah dibawa Tuhan ke surga dan lalu kembali lagi ke dunia. Pengalaman ini dijadikan kesaksian utamanya untuk menarik banyak orang datang. Namun tidak demikian dengan Paulus, John Sung dan Billy Graham.

Rasul Paulus selama hidupnya memiliki keterbatasan fisik dan tubuh yang lemah. Paulus di dalam Alkitab dikatakan memiliki penyakit yang disebut “duri dalam daging”. John Sung yang tampangnya kurang menyakinkan sebagai seorang pemberita Injil, sebenarnya sudah memiliki gelar PhD. Namun ia tinggalkan karirnya dan memfokuskan diri pada pelayanan pemberitaan Injil untuk orang-orang tionghoa di Asia.

Demikian pula dengan Billy Graham, kalau sdr-sdr mendengarkan kotbah dan pemberitaan Injil yang disampaikannya, ternyata sangat sederhana. Kata-kata yang dipakainya pun sangat sederhana namun kata-kata itu disertai dengan kuasa Roh Kudus sehingga bisa meluluhkan hati jutaan orang dan membimbing mereka kepada pertobatan. Jadi intinya fokus pemberitaan Injil ketiga tokoh ini, bukanlah pada diri mereka sendiri melainkan pada Tuhan Yesus.

Saudara-saudara, kalau kita perhatikan perikop kita, yang menjadi focus pemberitaan Injil rasul Paulus adalah Yesus yang tersalib. Tetapi dengan memberitakan tentang Yesus yang tersalib, Paulus menghadapi tantangan dan hambatan yang sangat besar. Karena pada masa itu, seperti juga pada masa sekarang, tema kotbah atau pemberitaan mengenai Yesus yang tersalib, tentu sama sekali tidak menarik dan tidak popular.

Yang lebih menarik, popular dan dikagumi adalah pemberitaan atau cerita tentang hal-hal yang spektakular dan luar-biasa. Orang-orang lebih suka mendengar apa yang mereka mau dengar atau yang menyenangkan hati mereka. Bukan kotbah atau pemberitaan tentang kebenaran, apalagi tentang penderitaan.

Sementara Paulus kemana-mana, ia menyampaikan berita mengenai Yesus yang mati di salib dan bangkit. Dalam memberitakan Injil, Paulus tidak mengandalkan  kepandaian dan kekuatannya, bukan juga dengan hikmat yang dia miliki, tetapi dengan mengandalkan kekuatan Allah.

Dalam ayat 1 Paulus berkata bahwa ketika dia datang dan tinggal bersama-sama dengan jemaat yang ada di Korintus, dia tidak memberitakan Injil dengan kalimat-kalimat yang indah atau janji-janji yang muluk, tetapi dengan kata-kata yang sederhana, namun disertai dengan kuasa dari Roh Kudus.

Hal itu Paulus tekankan kembali pada ayat 4, bahwa ucapan-ucapannya dalam pemberitaan Injil bukan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh Kudus. Kata “hikmat yang meyakinkan” dalam bahasa Yunani digunakan kata “peithos” yang artinya bujukan. Dalam pemberitaan Injil, Paulus tidak pernah membujuk orang untuk mempercayai Injil yang dia beritakan. Memberitakan Injil bukanlah suatu bujukan, tetapi suatu deklarasi atau pernyataan.

Kita tidak perlu membujuk orang supaya mempercayai Tuhan Yesus. Kita tidak perlu membujuk orang supaya menjadi seorang Kristen. Yang perlu kita lakukan adalah mendeklarasikan Injil atau kabar sukacita itu sendiri, dengan keyakinan bahwa Roh Kudus akan bekerja dalam diri setiap orang, sehingga hati mereka digerakkan untuk mengerti dan percaya kepada Injil tentang Yesus Kristus yang menyelamatkan.

Sdr-sdr, sering orang-orang bertanya, Bagaimana cara melakukan penginjilan yang efektif?. Pada umumnya orang-orang yang mengajukan pertanyaan itu adalah orang-orang yang belum pernah memberitakan Injil, dengan alasan mereka tidak tahu caranya. Memang ada banyak cara atau metode pemberitaan Injil, namun keefektifannya bukan tergantung pada metodenya, karena satu metode tidak bisa diterapkan pada segala situasi dan segala tempat.

Keefektifan pemberitaan Injil bukan terletak pada metode tetapi terletak pada ketergantungan kita pada kuasa Roh Kudus. Dan cara yang paling efektif untuk pemberitaan Injil adalah dengan memberitakan Injil itu sendiri. Tetapi banyak orang yang enggan memberitakan Injil bukan karena mereka tidak tahu tetapi mereka malu dan takut akan konsekuensinya.

Sdr-sdr, kalau kita perhatikan ayat 4, dalam Alkitab terjemahan bahasa inggris NIV dikatakan, “My message and my preaching were not with wise and persuasive words, but with a demonstration of the Spirit’s power”. Pemberitaan Injil bukan bersandar pada hikmat manusia. Pemberitaan Injil juga bukan dengan kalimat yang indah atau bujukan, tetapi pemberitaan Injil harus bersandar pada kekuatan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja dalam diri setiap orang yang mendengar Injil itu sendiri.

Jika pemberitaan Injil yang kita lakukan bersandar pada kekuatan Roh Kudus, maka Allah akan turut bekerja dan menunjukkan kuasa-Nya. Jadi kalau kita mau bersaksi atau memberitakan Injil, perlu berdoa untuk meminta hikmat dan kekuatan dari Tuhan.

Kalau kita memperhatikan ayat 3, ketika Paulus berada ditengah-tengah orang Korintus, dia berada dalam kelemahan, perasaan takut dan gentar. Mengapa Paulus merasa lemah, takut dan gentar dalam memberitakan Injil.

Paulus merasa lemah, karena dia bukanlah orang yang fasih berbicara. Rupanya Paulus, tipe orang yang tidak suka berbicara. Paulus juga merasa takut karena orang Korintus akan menolak dia dan bahkan mengancam jiwanya. Namun demikian, Paulus tetap bertekad untuk memberitakan Injil, karena dia tahu bahwa Dia memberitakan Injil dengan bersandar pada kekuatan Roh Kudus.

Sdr-sdr, kalau kita memperhatikan ayat 2, yang berkata, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Apa yang dimaksud Paulus bahwa dia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa? Maksudnya adalah satu-satunya keinginan atau kerinduan Paulus adalah memberitakan dan bersaksi tentang Yesus Kristus kepada jemaat di Korintus.

Paulus tidak memiliki keinginan yang lain, selain melihat bahwa Yesus Kristus bisa dikenal dan dipercaya oleh penduduk kota Korintus. Itulah kerinduan dan keinginan Paulus satu-satunya dalam pelayanannya.Sdr-sdr, kalau kita sudah mengalami anugrah Tuhan dalam hidup kita. Maka dalam diri kita ada kerinduan untuk mau membagikan berita sukacita itu kepada orang lain supaya mereka juga boleh mendengar dan mengalaminya.

Saya teringat kisah nyata tentang seorang bapa, anggota gereja di Bogor. Si bapa ini bukan seorang Kristen. Pada suatu saat, anaknya mengalami sakit keras. Kita bisa membayangkan betapa panik dan kuatir ketika anak kita sakit keras. Lalu si bapak ini berdoa kepada Tuhan Yesus dan berjanji kalau anaknya sembuh, ia akan menjadi orang Kristen.

Doanya ternyata dikabulkan. Ia dan seluruh keluarganya menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Bapa ini kemana pun ia pergi dan bertemu dengan orang baru, selalu bertanya, “apa sudah dengar tentang Tuhan Yesus?” Anaknya bersaksi, ketika bapa ini sakit dan dirawat di Singapore, dia tidak malu untuk bersaksi kepada para dokter dan perawat yang ada di rumah sakit itu. Bapa itu selalu megajukan pertanyaan, apakah anda sudah kenal Tuhan Yesus?!

Sdr-sdr, apakah kita memiliki kerinduan seperti si bapa itu? Apakah kita rindu untuk menceritakan dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya. Kalau Tuhan Yesus, itu sungguh berarti dan telah merubah hidup kita, mengapa kita tidak ingin membagikan kepada orang-orang lain?

Jika kita memiliki kerinduan yang seperti itu, maka kita rindu agar orang-orang tidak saja mendengar tentang berita sukacita keselamatan Allah bagi dunia ini melalui Tuhan Yesus, tetapi kita juga rindu agar mereka boleh mengalami sendiri kasih dan anugrah Allah dalam hidup mereka.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Tidak mudah seseorang apalagi yang tidak percaya untuk mengerti pemberitaan tentang Yesus yang tersalib. Diperlukan hikmat yang benar untuk mengerti pemberitaan Injil. Kalau kita membaca seluruh kitab I Korintus, kita tahu bahwa jemaat di Korintus menjadi pecah akibat berdebat masalah hikmat. Ada golongan atau kelompok Jemaat yang merasa lebih benar dan berhikmat. Ada juga perdebatan antar golongan Yahudi dan Yunani yang menjadi Kristen. Orang-orang Yahudi, merasa lebih berhikmat daripada orang Yunani karena mereka adalah bangsa pilihan Allah.

Melihat situasi yang terjadi di jemaat Korintus, Paulus menulis surat ini untuk menasihati jemaat di Korintus agar mereka tidak mengandalkan hikmat dunia yang berdasarkan pikiran manusia. Paulus mengingatkan mereka bahwa “apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”(1 Kor. 1:28-29).

Paulus ingin mengajarkan jemaat di Korintus untuk berserah kepada Allah dan membiarkan hikmat Allah yang mengambil alih dan berkuasa dalam hidup mereka. Sehingga di dalam memberitakan Injil, mereka benar-benar bergantung pada hikmat Allah. Paulus mengingatkan supaya iman mereka jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1 Kor. 2:4-5).”

Pertanyaan buat kita, bagaimana kita bisa melihat hikmat Allah?. Bagaimana kita bisa mengerti jalan pikiran Allah ketika kita sendiri masih sulit mengerti jalan pikiran suami atau istri kita walaupun sudah tinggal dan hidup bersama? Bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang lebih berhikmat dari yang lain? Atau, bagaimana kita tahu bahwa kita sendiri berhikmat? Firman Tuhan berkata bahwa hikmat Allah bisa kita mengerti melalui Roh Allah.

Tantangan bagi kita, adalah banyak orang sudah terlalu skeptis sehingga apapun yang ditunjukkan Allah kepada kita melalui peristiwa-peristiwa yang kita alami, mereka tidak percaya dan semua itu hanya dilihat sebagai anomali alam atau rekayasa teknologi. Yang sering terjadi hikmat manusia menghalangi orang untuk mengerti hikmat Allah dan percaya.

Banyak orang tidak percaya kepada hikmat Allah justru karena terlalu mengandal-kan hikmat sendiri. Mereka berpikir bahwa apa yang terjadi di luar hikmat atau akal-budi manusia adalah peristiwa yang tidak sungguh-sungguh terjadi atau hanya ilusi belaka.

Hikmat manusia menghalangi kita melihat penyertaan Allah yang luar biasa yang terjadi selama ini dalam kehidupan kita. Ketika sesuatu yang buruk terjadi kita bertanya di manakah Allah. Tetapi ketika sesuatu yang baik terjadi, kita tidak berkata bahwa Allah ada di situ. Artinya, hikmat kita manusia terbatas kepada hal yang ingin kita percayai atau kita lihat. Memang hikmat manusia adalah terbatas.

Bagaimana kita bisa menerima hikmat Allah? Kita hanya bisa menerima hikmat Allah ketika kita menerima Roh Allah untuk masuk ke dalam kita. Tidak ada yang lebih mengetahui hikmat Allah selain Roh Allah sendiri. Karena itu mengundang Roh Allah masuk ke dalam kita, itu berarti kita juga mengundang hikmat Allah untuk berkuasa dalam hidup kita. Hikmat Allah yang ada dalam diri kita menolong kita ketika bersaksi tentang Tuhan Yesus.

Sdr-sdr sebagai penutup kotabh ini, saya mengakal kita menyaksikan sebuah video-clip tentang bagaimana Tuhan bisa memakai hamba-Nya, pdt David Ring yang handicap, baik dalam berbicara maupun berjalan, untuk bersaksi tentang Injil kepada rekan-rekannya dengan kata-katanya sederhana tapi menyentuh hati.

Kalau pdt David Ring yang handicap, dipakai Tuhan untuk bisa bersaksi seperti itu, itu bukanlah hikmat dunia tetapi Ia bersaksi dengan kuasa Roh Kudus. Sdr-sdr, memberitakan Injil adalah tugas kita semua setiap orang Kristen. Ada seorang teolog berkata, “Tuhan Yesus tidak butuh pembelaan kita karena Tuhan kita bisa membela diri-Nya tetapi Ia membutuhkan kesaksian kita sebagai para pengikut-Nya.”

Bagaimana Tuhan Yesus telah merubah hidup kita. Dan mengalami sukacita hidup bersama dengan Dia. Sudahkan kita bersaksi kepada orang lain tentang Tuhan Yesus? Mari untuk mewujudnyatakan tema tahunan kita: “Berani bersaksi bahwa Yesus itu Tuhan” dengan bersaksi kepada orang-orang di sekitar kita bukan dengan hikmat dunia tetapi dengan kuasa Roh Kudus. Tuhan memberkati kita semua.

 

Pertanyaan-pertanyaan untuk diskusi:

  1. Mengapa kita sebagai orang Kristen harus bersaksi?
  2. Sebutkan apa saja tantangan orang-orang Kristen di Belanda untuk bersaksi?
  3. Mengapa untuk bersaksi, kita membutuhkan kuasa Roh Kudus?
  4. Sebutkan metode atau cara penginjilan yang paling pas untuk masa kini? Mengapa?
  5. Mengapa banyak orang kristen tidak berani bersaksi?