Kisah Para Rasul 10: 23-44

1. Roh Kudus membuat terobosan di Kaisarea!

Amsterdam dan Kampen. Dua kota yang sangat berbeda: dari sisi luasnya dan daya pikatnya. Amsterdam dengan penduduknya sekitar 860.000 orang. Kampen dengan penduduk hanya sekitar 35.000 orang. Dua kota yang bertolak belakang, walaupun jaraknya hanya satu jam perjalanan. Paling tidak itu gambaran yang dimiliki beberapa kenalan saya di Indonesia. Amsterdam dilihat sebagai Sodom dan Gomora, kota di mana ‘segala sesuatu’ yang diinginkan manusia dapat dibeli dengan uang. Kampen sebaliknya dilihat sebagai kota Kristen. Bahkan seseorang berkata bahwa Kampen sebenarnya adalah singkatan dari ‘KAMpung PENdeta’, karena dulu di kota kecil ini ada 2 sekolah Teologi. (Sekarang tinggal satu).

Demikian juga di Perjanjian Baru ada 2 kota Israel yang bertolak belakang: Yerusalem dan Kaisarea (persisnya Kaisarea Atas Laut). Yerusalem adalah kota Allah, di mana Allah tinggal di baitNya yang kudus. Sampai sekarang Yerusalem masih menjadi tempat perziarahan banyak orang percaya. Kaisarea adalah kota buatan Herodes Agung, raja waktu Yesus lahir, raja yang membunuh anak-anak di Betlehem waktu itu. Herodes adalah raja ‘boneka’ yang bekerja untuk kaisar. Jadi apa yang ia lakukan? Ia membangun kota Kaisarea menjadi kota yang besar dan megah yang dilengkapi dengan pelabuhan kelas dunia. Di tengah-tengah kota itu, persis di seberang pelabuhan, didirikanlah kuil besar untuk menghormati kaisar Roma. Di kuil itu sang kaisar disembah sebagai dewa. Ini dilakukan Herodes untuk mengambil hati kaisar Agustus. Sungguh dua kota yang bertolak belakang. Di Yerusalem Allah disembah. Di Kaisarea kaisar (seorang manusia) disembah.

Roh Kudus telah dicurahkan waktu itu. Sesudah Yesus naik ke sorga, Allah mencurahkan Roh KudusNya di jemaat mula-mula pada hari Pentakosta.

Di manakah itu terjadi? Di Yerusalem! Namun di Yerusalem waktu itu hanya ada orang Yahudi pengikut Yesus yang mendapatkan Roh Kudus. Di sini, di Kisah 10 terjadilah terobosan besar terhadap bangsa-bangsa non Yahudi. Di mana terobosan itu terjadi? Bisa kita katakan: di gua singa: di Kaisarea, tempat paling gelap (yang tidak mengenal Tuhan) di Israel. Justru di situ di mana pusat kehidupan adalah uang, kekuasaan, kemasyhuran, justru di situlah Roh Kudus membuat terobosan. Roh Kudus membuat terobosan baru karena di sini yang mendengar Injil Yesus Kristus adalah orang-orang non Yahudi sampai mereka kemudian dipenuhi Roh Kudus. Sungguh ini sangatlah mengejutkan!

Justru di sini di Kaisarea, Tuhan Allah menunjukkan bahwa Ia mempunyai segala kuasa. Yesus sendiri berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi!

Justru di sinilah bendungan itu pecah, dan air Roh Tuhan mengalir ke ladang pekerjaanNya. Roh Kudus membuat terobosan di kota kafir Kaisarea. Demikian kita melihat bahwa tidak ada satu tempatpun di dunia ini yang berada di luar jangkauan pekerjaan Roh Kudus. Tidak ada tempat yang tidak bisa diterobos oleh Roh Kudus. Roh Kudus bekerja sama kuatnya di sini di Belanda yang sekuler dan di Eropa, sama seperti di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Mungkin ini terjadi juga dalam hidup anda, suatu perubahan total secara tiba-tiba. Mungkin juga tidak demikian, tetapi Roh Kudus sudah bekerja terus-menerus sepanjang hidup anda. Dan itu juga adalah keajaiban: bagaimana Allah menganugerahkan anda iman dan memelihara iman itu dalam hidup anda.

Roh Kudus begitu besar dan berkuasa. Ia bekerja di mana Ia mau! Tidak ada seorang manusiapun ada di luar jangkauanNya! Ingatlah akan tetangga, sahabat, kolega anda. Apakah anda percaya bahwa Roh Kudus dapat bekerja di hati mereka? Apakah anda juga berdoa untuk itu?

Kita semua diutus untuk bersaksi tentang Yesus Kristus. Sama seperti tema GKIN 2019: ‘Berani bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan kita’. Yang diminta Tuhan adalah: ‘Pergi!’ Jangan tunda lagi. Pergi dengan kuasa Roh Kudus. Seraya kita mengetahui bahwa Roh Kudus dapat bekerja lebih dari yang kita dapat bayangkan.

2. Apa yang terjadi sebelumnya: pekerjaan persiapan Roh Kudus

Ini kita lihat di pembacaan kita. Di Kaisarea sudah ada hal yang mendahului peristiwa ini. Roh Kudus sudah melakukan banyak hal, banyak pekerjaan persiapan. Ia telah bekerja dalam diri Kornelius. Kornelius adalah seorang yang istimewa. Seorang perwira Romawi dari ‘divisi Italia’, korps elit waktu itu. Dari Italia ia ditempatkan di Kaisarea, dan di Kaisarealah ia belajar mengenal Allah Israel. Sungguh ajaib bahwa ini terjadinya di Kaisarea, kota yang dicap sebagai kota tak bertuhan. Lebih ajaib lagi bagaimana hidup beriman Kornelius. Ia adalah seorang yang tekun berdoa. Ia berpuasa pada waktu ia mendapat penglihatan. Ia memberikan banyak sedekah. Dan hidup berimannya menyinari seisi rumahnya sampai mereka semua juga percaya kepada Allah Israel.

Roh Kudus sudah lama sibuk bekerja di dalam diri Kornelius, pekerjaan persiapanNya. Kornelius waktu itu tahu tentang Yesus (ayat 37), tapi ia belum percaya kepada Yesus. Namun toch Roh Kudus sudah bekerja sepenuhnya dalam dirinya. Jika anda melihat baik-baik orang-orang sekeliling anda, maka anda akan melihat karya Allah dalam diri orang itu lebih dari sebelumnya. Orang-orang yang mengenal Yesus sebagai tokoh sejarah atau sebagai nabi Isa, tetapi belum mengenalNya sebagai Juruselamat. Di dalam diri mereka Roh Kudus sedang bekerja dengan indahnya. Orang-orang yang berdoa, yang suka memberi, yang mungkin juga berpuasa. Kita boleh terus berdoa agar Tuhan terus bekerja! Jangan pernah meremehkan apa yang Roh Kudus sedang kerjakan! 

Ini saya alami secara pribadi waktu saya dua kali melayankan baptisan darurat (kepada orang sakit). Saya sudah siap untuk mendengar banyak pertanyaan bahkan keberatan-keberatan dan akan mencoba menjawabnya. Namun ternyata itu tidak terjadi dalam dua kesempatan tersebut. Kedua orang tersebut mengatakan dengan hati yang berserah bahwa mereka mau dibaptis. Ternyata Roh Kudus sudah lama sebelumnya bekerja di hati mereka: pekerjaan persiapan. Pekerjaan persiapan terhadap orang yang pertama dilakukan oleh istrinya. Pekerjaan persiapan terhadap orang yang kedua dilakukan oleh adik iparnya.

3. Ketika orang-orang mendengar Firman Tuhan, terjadilah terobosan.

Namun sekaligus kita lihat di sini bahwa terobosan itu terjadi ketika Petrus bercerita tentang Yesus. Maka seakan pecahlah bendungan itu. Petrus berkhotbah, dari ayat 34, dan ia mengakhiri di ayat 43 demikian: ‘Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya’.

Inilah intinya: bahwa anda mendengar Firman Allah yang berkata ada pengampunan dosa jika anda percaya kepada Yesus. Jika Firman itu diberitakan dan Roh Kudus mengerjakan pekerjaan persiapanNya, maka terjadilah seakan tingkap-tingkap langit terbuka dan Roh Kudus mengalir dalam hidup anda.

Tanggal 29 Mei yang lalu, saya bersama dengan empat perwakilan GKIN lainnya, menghadiri Sinode Nasional di Dordrecht yang bertujuan untuk keesaan gereja. Di Sinode Nasional ini GKIN bersama dengan 40 gereja Kristen lainnya menandatangani ‘pernyataan kebersamaan dan keesaan’.

Dari beberapa pidato ditekankan beberapa hal seperti pentingnya bentuk-bentuk baru bergereja, sangat pentingnya peranan gereja-gereja migran dan internasional di Belanda. Ini juga berlaku bagi GKIN. Khususnya saya terkesan akan seorang pembicara yang menekankan pentingnya kita harus kembali ke dasar kita, yaitu Alkitab. Alkitab haruslah sentral.

Jangan berpikir bahwa kita bisa di luar Alkitab. Lihat bagaimana Allah sendiri membimbing Kornelius kepada Petrus. Lalu ketika Petrus berbicara tentang Firman Tuhan, maka ketika orang-orang itu hatinya terbuka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka. Semakin kita membuka diri terhadap Firman Tuhan, semakin Roh Kudus dapat melakukan karyaNya di dalam kita. Oleh karena itu sangatlah penting kita semakin mengenal Alkitab lebih baik: dengan membacanya, menghadiri Pemahaman Alkitab dan pembinaan-pembinaan di gereja.

Kornelius mengundang segenap keluarga dan teman-temannya di rumahnya di Kaisarea untuk mendengar Firman Tuhan. Marilah kita melakukan ini juga: mengundang orang-orang datang ke gereja! Bawalah setidaknya 1 orang ke gereja tahun ini! Agar orang-orang mendengar Firman Allah, disentuh dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

4. Penginjilan adalah mendorong batas: keluarlah dari zona nyaman anda.

Sebelum Petrus bersaksi tentang Yesus kepada Kornelius, sesuatu harus terjadi dulu dalam diri Petrus. Sebagai orang Yahudi, Petrus tidak bergaul dengan Kornelius yang adalah orang non Yahudi. Bergaul dengan orang non Yahudi adalah haram. Sama seperti orang Yahudi tidak boleh memakan makanan yang haram (Imamat 11). Namun Allah memberi Petrus penglihatan dan berkata: ‘Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.’ (Kisah 10:15). Penginjilan adalah mendorong batas.

Kadang kita sendirilah yang membuat batas-batas itu: batas-batas prasangka kita atau apa yang kita anggap tidak mungkin.

Beberapa contoh:

  • Kalau ke si A atau ke si B saya berani mensharingkan iman saya, tapi kalau ke orang lain tidak.
  • Saya hanya bergaul dengan orang dari suku/ golongan yang sama dengan saya.
  • Bersaksi hanya dimaksudkan untuk misionaris, pendeta, atau orang-orang yang punya latar belakang pendidikan Teologi, dan bukan untuk saya.
  • Roh Kudus hanya bekerja di gereja dan tidak di bidang kehidupan lain di masyarakat.

Dalam batas-batas itu kita merasa nyaman. Comfort zone(zona nyaman) istilahnya sekarang.

Namun Yesus berkata di Kisah 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Yerusalem adalah kota tempat tinggal para murid. Yudea adalah provinsi mereka. Samaria adalah negeri tetangga. Jadi bersaksi itu semakin jauh dan semakin jauh. Sama seperti murid-murid kita juga diutus untuk bersaksi tentang Yesus Kristus. Di mana? Kita dapat menterjemahkannya: bersaksi dimulai dari rumah, di keluarga besar, lingkungan persahabatan, tetangga, dan semakin jauh. Mendorong batas. Keluarlah dari zona nyaman anda!

Jemaat terkasih. Kita bersama diutus untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan kita. Tidak dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kuasa Roh Kudus. Roh Kudus yang melakukan pekerjaan persiapan. Roh Kudus yang membuat terobosan ketika Firman Allah menjadi pusat. Yang diminta Tuhan dari kita adalah: pergi dan doronglah batas anda.

Seperti lagu Opwekking 167 ‘Satu dalam nama Yesus’:

Karya Tuhan takkan gagal,

takkan ditinggalkan-Nya.

Roh Kudus mendobrak batas

buatan manusia.

 

Pertanyaan pendalaman

  1. ‘Di Kaisarea terjadi hari Pentakosta kedua di antara orang-orang non-Yahudi.’ Dapatkah anda menjelaskannya? Apa artinya ini bagi sejarah misi/ pekabaran Injil?
  2. Bagaimana Roh Kudus bekerja dalam hidup anda? Apakah Roh Kudus bekerja membuat perubahan total secara tiba-tiba? Atau apakah Roh Kudus bekerja secara bertahap dalam hidup anda? Dalam hal apa anda merindukan lebih lagi perubahan dalam hidup anda?
  3. Apakah anda sering berdoa agar Roh Kudus bekerja di hati keluarga atau teman anda yang belum percaya kepada Tuhan Yesus? Apakah anda juga bersaksi kepada mereka dengan kata-kata dan perbuatan? Bisakah anda menjelaskan ini lebih terperinci?
  4. Dapatkah anda memberikan contoh tentang pekerjaan persiapan Roh Kudus di dalam hati manusia? Mengapa pekerjaan persiapan itu harus diikuti oleh Firman Allah (tentang pengampunan dosa di dalam Yesus Kristus)? Apa hubungan antara Firman Allah dan pekerjaan Roh Kudus?
  5. Apakah anda mengalami hambatan untuk bersaksi? Tema GKIN tahun 2019 adalah: ‘Berani bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan kita.’ Bagaimana anda didorong untuk bersaksi tentang Yesus? Pembinaan apa yang kita butuhkan di sini sebagai jemaat?
  6. Penginjilan adalah mendorong batas. Apakah anda mengikuti perkembangan pekerjaan penginjilan di dunia ini? Dengan cara apa anda dapat terlibat dalam pekerjaan misi/ penginjilan?