Pembacaan Alkitab: 2 Timoteus 1:3-12
 
Saudara-saudara jemaat yang dikasihi dan yang mengasihi Tuhan Yesus,
‘Jangan malu bersaksi tentang Tuhan kita!’ Ini adalah tema khotbah berseri tahun 2019 yang akan saya sampaikan berdasarkan 2 Timotius 1:3-12.  Kita telah mengadakan latihan secara sederhana melalui interview yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Saya yakin, saudara-saudara tidak malu dan telah bersaksi tentang iman saudara atau apa yang Tuhan lakukan dalam hidup saudara dengan cara menjawab pertanyaan anak-anak dan remaja tadi. 
 
Ketika berbicara tentang tema bersaksi ini, saya teringat akan seorang bapak, anggota jemaat regio Tilburg di sini yang memberi saya selembar kertas kecil pada saat Bazaar dua tahun lalu di gereja ini. Kata-kata yang tertulis di secarik kertas itu tertulis: "Pendeta, saya telah menemukan keselamatan di dalam Tuhan melalui gereja ini, tetapi teman-teman saya belum menemukannya dan mereka juga sebentar akan datang di Bazaar ini. Apakah Dominee mau meluangkan waktu untuk berdoa bersama kami?
 
Akhirnya ada enam orang senioren masuk di konsistori dan tiga dari mereka datang dengan rolator. Saya merasa ini adalah sesuatu yang indah dan yang menyentuh saya adalah apa yang tertulis di atas kertas: Saya telah menemukan keselamatan di dalam Tuhan tetapi teman-teman saya belum menemukannya. Bapak yang sudah lanjut usia ini tidak malu bersaksi tentang Yesus. Juga di tengah kesibukan Bazaar.  Seberapa sering kita berpikir tentang keselamatan orang lain, anak cucu kita. Sekarang mari kita lihat pembacaan Alkitab.
 
Saudara-saudari, jemaat Tuhan,
Paulus menulis kata-kata ini kepada Timotius, dari penjara di Roma, dan dia khawatir. Kekhawatirannya bukan tentang dirinya sendiri, meskipun dia punya banyak alasan untuk melakukan itu. Dia prihatin  dan khawatir tentang tugas panggilan Timotius. Paulus memanggilnya "anakku yang kekasih". Mereka memiliki hubungan khusus. Paulus adalah bapa rohani dari Timotius, karena melalui dia, Timotius mengenal Tuhan Yesus. 
 
Dia mengatakan: "Kamu, Timoteus, harus menjaga agar api tetap berkobar, api tetap menyala, yang merupakan pemberian Allah yang telah kamu terima." Kasih karunia Allah itu seperti api. Itu membakar dari dalam diri kita. Itu adalah pemberian  Roh Kudus. Dan Timotius memiliki tanggung jawab untuk tidak membiarkan api itu padam. Timotius harus berusaha agar api itu tetap menyala. Kata-kata ini mengingatkan saya pada kata-kata sebuah lagu: Api Injil. Saudara bisa ikut menyanyikannya dan bisa juga lihat di Youtube. Yang saya mau tekankan adalah  refreinnya saja.  
 
Refrein:
La biar api Injil tarus manyala
Manyala di katong pung hati
La biar akang pung cahaya
Tapancar trus dari Belanda
La dari dolo sampe Tuhan Yesus bale kombali
 
Saudara-saudari jemaat,
Biarlah api injil terus menyala di dalam hati dan hidup kita. Kita bertanggungjawab untuk tidak mematikan api ini. Agar injil terus menyala melalui GKIN dalam memberitakan Injil keselamatan bagi semua orang. Menyadari arti lagu ini, maka kita harus melakukan sesuatu. Marilah kita belajar dari rasul Paulus. 
 
Paulus berkata dalam ayat 7a: “Allah tidak memberi kita roh ketakutan, tetapi roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Jadi jangan malu untuk bersaksi tentang Tuhan kita."
 
‘Allah tidak memberi kita roh ketakutan’. Rupanya Paulus merasakan bahwa dalam diri Timotius ada sesuatu yang menghalanginya. Dia menyebut disini dengan cukup tajam “pengecut : lafhartigheid’. Tetapi LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) menterjemahkan dengan kata ‘ketakutan’. ‘Allah tidak memberi kepada kita roh ketakutan’. Ketakutan di sini berhubungan dengan rasa tidak berani, dan takut untuk melakukan sesuatu atau mengambil langkah melakukan sesuatu. Dalam ayat selanjutnya Paulus menghubungkan kata ini dengan rasa malu. Ini adalah bentuk yang cukup menekan seseorang sehingga selalu menahan dirinya dan menyembunyikan dirinya. Ketakutan ini juga yang sering melanda para anak Tuhan untuk mengabarkan berita Injil dan bersaksi tentang Tuhan kita. 
 
Di bawah ini ada beberapa alasan mengapa orang takut bersaksi:
 
Dari alasan yang dikatakan di atas, jelas bahwa orang-orang Kristen tidak memiliki keberanian yang cukup untuk memberitakan kesaksian tentang Yesus Kristus. Ada orang yang begitu yakin kalau mereka tidak bisa. Ada yang merasa tidak bisa menjawab pertanyaan. Ada yang takut orang lain marah. Bagaimana alasan-alasan ini menurut saudara? Karena itu Paulus katakan, Allah tidak memberikan kepada kita Roh ketakutan. Kita juga mungkin malu atau takut bersaksi, karena mungkin kita salah mengerti tentang apa itu bersaksi. 
 
Saudara-saudari,
Bersaksi tidak sama dengan memenangkan jiwa! Ada yang bilang kalo kita harus memenangkan jiwa. Hal ini juga yang membuat banyak buat orang Kristen ‘stress’ dan takut untuk bersaksi. Jika seseorang menjadi percaya kepada yesus Kristus,  itu adalah karya roh Kudus bukan karena kita. Kita hanya diminta untuk bersaksi. Selanjutnya adalah pekerjaan Allah.
 
Banyak dari kita memahami bahwa bersaksi adalah berkotbah tentang Yesus, mengutip ayat-ayat Alkitab, menceritakan pengalaman-pengalaman yang ajaib, mujizat pertolongan Tuhan. Karenanya kita takut bersaksi, kita bungkam, lalu kita katakan: “saya tidak pandai bicara”; tidak tahu banyak mengenai Alkitab dan merasa tidak punya sesuatu yang ajaib untuk dibagikan.  Beberapa lagi mengaku menjaga hubungan baik antara pemeluk agama lain.  
 
Kita dapat bersaksi dan memberitakan berita Sukacita, Injil keselamatan, karena kita diperkuat oleh Roh Allah. Jika kita membiarkan Allah membimbing kita, maka kita mampu untuk bersaksi dan percayalah bahwa segalanya akan berubah, rasa takut dan malu akan teratasi - meskipun kita mungkin masih merasakan sedikit rasa takut tapi kita bisa karena allah beserta kita. Karena menurut Paulus Roh kudus memberi kita tiga hal: Roh kekuatan, kasih dan ketertiban. Marilah kita mengikuti jalan pikiran rasul Paulus.
 
Saudara-saudara jemaat yang dikasihi Tuhan dan yang mengasihi Tuhan,
  1. Pertama-tama, Roh Allah memberi kita kekuatan. Kekuatan adalah energi, kehidupan dan gerakan. Kekuatan dalam diri yang mengatasi rasa takut atau rasa malu. Kata Yunani yang dipakai adalah dinamis, dinamika. Kata dinaminka dalam kamus Van Dale memiliki arti yang bagus: daya dorong. Dan saya pikir itulah yang dipikirkan Paulus. Kekuatan seseorang yang didorong, diarahkan, diperkuat oleh sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat dari apa yang ada dalam dirinya sendiri. Itu adalah kekuatan Roh. Jadilah seseorang yang kuat, kata Paulus. Bukan kekuatan yang datang dari diri saudara sendiri. Tetapi kekuatan yang datang dari atas dan yang menggerakkan saudara, menginspirasi dan mengilhami saudara.  Kekuatan ini yang mendorong kita untuk bersaksi.
  2. Hal kedua yang diberikan oleh Roh kepada kita adalah kasih. Kasih untuk orang-orang yang ada di sekitar saudara. Karena tanpa kasih hal bersaksi tidak akan berhasil. Saudara bisa saja bersaksi dengan menggebu-gebu, tetapi jika saudara adalah orang yang tidak mengenal atau memiliki kasih, itu sama sekali tidak ada gunanya. Kasih itu diperlukan jika saudara ingin bersaksi tentang Tuhan. Kasih: Bahwa saudara, kasarnya, tidak melihat orang lain sebagai "objek pertobatan", tetapi sebagai orang yang dikasihi dan dicintai oleh Allah. Karena itu kita bisa bersaksi kepada siapapun. Justru ketika saudara belajar melihat orang lain dengan cara ini, saudara juga rindu atau ingin agar orang itu mengenal Tuhan. Tapi kasih itu lebih luas. Ini akan menunjukkan bagaimana saudara bergaul dengan orang lain. Dengan perhatian dan minat terhadap orang lain yang tidak pura-pura, tidak hanya berbicara tetapi lebih banyak mendengarkan.
  3. Dan kata terakhir yang dipakai Paulus adalah ‘ketertiban’. Menurut saya ini kata yang bagus. Sesuatu di dalamnya mengandung arti kebijaksanaan dan mengontrol. Agar tidak takut, kita membutuhkan hikmat, disiplin dari Tuhan dalam diri kita. Ada terjemahan yang diartikan dengan menguasai diri dan sabar. Kalau diterjemahkan secara hurufiah maka kata ‘bezonnenheid’ artinya ‘pikrian sehat’.  
 
Kata Yunani untuk ketertiban adalah panggilan untuk memiliki pikiran yang sehat, sabar dan pengendalian diri. Pikiran sehat dan pengendalian diri hanya dapat datang dari Tuhan dan Firman-Nya. Apa yang dimaksud Alkitab dengan hal itu?
Bahwa saudara merasakan kapan dan dimana saudara dapat dan harus berbicara. Terkadang saudara harus tetap diam ketika orang lain marah dan memaki, terkadang juga sauadra harus katakan sesuatu. Penguasaan diri misalnya, bahwa saudara tidak sepenuhnya terbawa oleh antusiasme. Jika saudara ada dalam suatu percakapan yang baik dengan seseorang, maka tidak selalu bijaksana untuk segera menyampaikan seluruh Injil kepada orang itu! 
 
Saudara-saudara jemaat yang dikasihi Tuhan dan yang mengasihi Tuhan,
Berlawanan dengan sikap dasar pengecut, penakut, Allah memberikan kita Roh yang memberi kekuatan, cinta dan ketertiban. Dan ketiga elemen ini benar-benar saling membutuhkan. Tanpa kekuatan yang diberikan kepada kita, pelayanan kita tidak akan berdampak. Tanpa cinta kasih seorang akan yang lain, kita hanya akan memerintah dan menghakimi seorang akan yang lain dari pada melayani dengan sungguh-sungguh. 
Dan tanpa ketertiban/akal sehat/penguasaan diri, kita melebih-lebihkan diri kita sendiri dengan apa yang telah kita lakukan dan tanpa sadar melewati batas-batas yang ada. Tetapi jika kita membiarkan sikap kita ditentukan oleh Roh yang memberikan kekuatan, cinta kasih dan pikiran yang sehat, disana kita bisa menjadi berkat besar satu sama lain.  
 
Biarlah api Injil tetap menyala. Berikan ruang untuk Roh Allah dalam hati dan pikiran saudara karena saudara telah menerima Roh kudus dan saudara telah menjadi saksi. Berdoalah dan mintalah pada  Tuhan untuk membantu saudara agar tidak malu untuk bersaksi dan dimulai dalam keluarga, lingkungan, tempat pekerjaan dan gereja. Yakinlah dan percayalah bahwa Allah tidak memberikan kita Roh ketakutan tetapi Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
 
 
Pertanyaan pendalaman:
 
  1. Rasa takut seperti apa yang menghalangi saya untuk menjalankan misi Allah? 
  2. Apa yang menghalangi saya untuk memberitakan berita sukacita kepada orang lain?
  3. Siapa yang ada di benak saya untuk saya dapat membagi berita sukacita keselamatan dalam Yesus hari ini?