Roma 12:1-8

 

Tahukah anda apa itu bunglon? Bunglon adalah sejenis kadal tropis yang kulitnya bisa berubah warna. Dengan sel khusus di kulitnya bunglon bisa menyesuaikan warna dengan latar belakangnya hanya dalam waktu 15 menit.

Manusia juga bisa hidup seperti bunglon. Selalu beradaptasi (perilaku dan pandangan) terhadap lingkungan mereka supaya diterima lingkungannya. Hidup tanpa prinsip dan kepastian. Paulus mengingatkan orang Kristen di ayat 2: ‘Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini …’  Janganlah menjadi orang Kristen bunglon yang terombang-ambing dan terbawa-bawa ke sana ke mari oleh arus bermacam-macam pengajaran. (Bnd. Efesus 4:14). Janganlah hidupmu ditentukan oleh dunia di sekitarmu. Beranilah berbeda! Kata lain dari orang Kristen bunglon adalah konformisme.

Dalam rangka menjabarkan tema GKIN 2018

“Bertumbuh bersama sebagai murid-murid Yesus Kristus”, pendeta GKIN mengadakan seri khotbah dengan tema: 1. Bertumbuh menjadi murid yang serupa dengan Kristus (oleh Pdt. S. Tjahjadi), 2. Bertumbuh menjadi murid yang berani melawan arus (oleh Pdt. J. Linandi), 3. Bertumbuh menjadi murid yang peduli terhadap ciptaan (oleh Pdt. S.M. Winckler- Huliselan). Tema-tema ini terinspirasikan buku ‘Murid yang radikal’ dari John Stott, pengajar Alkitab dan teolog Evangelikal utama.

John Stott mengingatkan bahwa di satu sisi kita  bisa tergoda menjadi konformisme (orang Kristen bunglon), di sisi lain tergoda menjadi eskapisme. Eskapisme adalah kecenderungan untuk kabur dari kenyataan sehari-hari. Misalnya kita menarik diri dari dunia ini dan tidak lagi mau tahu apa yang terjadi di dunia ini, karena kita berpikir dunia ini sudah begitu buruk dan akan sampai pada kehancuran dan kita toch sudah mempunyai tiket ke surga. Tidak! Murid Yesus haruslah menghindari konformisme dan eskapisme. Bukankah Tuhan Yesus berkata di Yohanes 17:15-19: “15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. 16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. 17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. 18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; 19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”

Jadi kita: ‘Ada di dunia, tetapi bukan dari dunia’. Yesus tidak ingin supaya Allah mengambil kita dari dunia. Ia justru mengutus kita ke dunia ini. Murid Yesus harus hidup berbeda. John Stott menyebut ini: non-konformisme. Jadilah murid Yesus yang tidak serupa dengan dunia ini. Lihat saja misalnya perahu. Tidak masalah kalau perahu itu ada di air. Perahu justru dibuat sedemikian rupa agar dapat mengarungi air. Dengan demikian perahu itu mencapai tujuannya. Masalah baru terjadi kalau air masuk ke dalam perahu. Perahu akan tenggelam.

Di Matius 5:13-14 Yesus memanggil pengikut-pengikutNya sebagai garam dan terang dunia. “13 Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” 

Hanya jika kita berfungsi sebagai garam yang mengasinkan dan terang yang menerangi, kita bisa menjadi berkat bagi dunia ini.

Jadi orang percaya harus melawan pengaruh dunia yang berdosa yang ingin membawa kita menjauhi Tuhan. Sebaliknya orang percaya harus diubah oleh pembaruan budi. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…

Kata ‘berubah’ sama seperti metamorfosa. Kita dapat mengambil contoh lagi dari dunia binatang. Bukan bunglon tetapi ulat. Ulat mungkin kelihatannya tidak indah atau mengagumkan, namun ulat dapat mengalami metamorfosa menjadi kupu-kupu yang sangat indah.

Sungguh suatu perubahan yang luar biasa. Ulat, sang penghuni tanah (dunia bawah) menenun  kepompong sampai membungkusnya. Di dalam kepompong itu terjadilah proses pertumbuhan, sebuah metamorfosa menjadi kupu-kupu. Dulu ia terbatas oleh tanah, hidup dekat tanah, sekarang ia dapat terbang melampaui tanah. Ia dapat melihat kehidupan dari langit (dunia atas), dari perspektif yang sama sekali berbeda.

Orang Kristen haruslah mengalami metamorfosa, perubahan dalam hidup mereka seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Atau seperti yang Paulus katakan: dari manusia lama menjadi manusia baru. Dari ciptaan lama menjadi ciptaan baru.

Apakah metemorfosa yang penting, perubahan pembaruan budi dari seorang murid Yesus? Bahwa kita tidak lagi hidup menurut pola pikir dunia ini, yaitu: ‘UUS = Ujung-Ujungnya Saya (semua berpusat pada diriku)’. Namaku, kehendakku, kerajaanku. Seorang murid Yesus hidupnya berbeda. Tidak lagi UUS. Tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi berpusat pada Kristus. Hidup ini adalah tentang NamaNya, KehendakNya, KerajaanNya. Seorang murid Yesus berpikir seperti Yesus. WWJD (What Would Jesus Do/ Apa yang Yesus akan lakukan dalam situasi ini)?

Seorang murid Yesus harus menawarkan budaya alternatif (countre culture) kepada dunia ini. Di dunia di mana berlaku paham: ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’, kita hidup seperti yang Yesus katakan: kasihilah musuhmu. Di dunia di mana kesombongan merajalela, kita hidup seperti Yesus yang rendah hati. Di dunia di mana orang tidak menghormati otoritas, kita hidup sebagai orang Kristen yang mematuhi otoritas (Roma 13:1). Di dunia di mana yang kuat ingin menguasai segalanya dan di mana materialisme adalah kata kunci, kita hidup dalam iman memperhatikan orang-orang yang lemah. Di dunia di mana masalah etis dianggap relatif, kita berpegang teguh pada tujuan Allah mula-mula yang ada di FirmanNya.

Bagaimana saya hidup sebagai murid Yesus? Apakah saya sungguh hidup dari perubahan yang nyata itu? Apakah yang menjadi prioritas saya? Apa yang saya lakukan dengan waktu luang saya? Siapakah teman-teman saya? Bagaimana sikap hidup saya terhadap seksualitas? Bagaimana saya menjalani pernikahan? Bagaimana saya membesarkan anak? Bagaimana saya menggunakan uang? Bagaimana saya dalam bekerja? Apakah saya dapat dipercaya orang? Apakah saya memakai karunia saya untuk jadi berkat? Pada akhirnya semua ini tentang apa yang terlihat dari diri kita sebagai orang Kristen. Dalam perbuatan kongkrit, perkataan dan perbuatan kita. Sama seperti garam yang dapat dirasakan dan terang yang dapat dilihat, orang di sekitar kita dapat ‘melihat’ dan ‘merasakan’ kita. Bukan berarti kita harus sempurna. Tidak. Kita terus menerus diperbarui. Ini artinya proses yang berlangsung seumur hidup. Tujuan akhir yang sempurna tidak tercapai di dunia ini. Sekarang kita melihat seperti dengan cermin yang buram. Ada keretakan di sana-sini. Kesempurnaan untuk masa nanti. Namun sungguh ini adalah perspektif yang penuh pengharapan! (I Yohanes 3:2 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”)

Paulus berkata: jangan menyesuaikan diri dengan apa yang orang lain lakukan. Jadilah manusia yang berbeda dengan pikiran dan budi yang diperbarui. Jadi batin dan hati anda diubah, mengalami metamorfosa. Apakah anda dapat lakukan ini dari diri sendiri? Ya, ini adalah pilihan yang harus anda buat! Sekaligus di sini kita diingatkan pada pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita terdalam. Roh Kudus yang membuat hidup kita menjadi persembahan yang kudus. Roh Kudus yang memperbarui kita dari dalam, memurnikan dan membersihkan. Sehingga kita hidup dari kedalaman batin yang baru!

Mengalami pembaruan budi selanjutnya berarti kita menyadari bahwa kita bersama dengan saudara seiman membentuk satu tubuh Kristus. Kita sama-sama dipanggil untuk melayani dengan karunia yang Tuhan berikan. Seperti lagu yang sering kita nyanyikan: ‘Satu dalam nama Yesus. Bersama berdoa, bersama mencari kehendak Allah. Bersama bernyanyi dan bersaksi, bersama hidup untuk kemuliaanNya.’

Mari kita kembali ke bunglon. Pernah ada eksperimen di mana bunglon ditaruh di atas wol kotak-kotak khas Skotlandia. 

Bunglon itu tidak dapat menahan ketegangan dari warna-warna yang terus-menerus harus ia sesuaikan. Akhirnya bunglon itu meledak. Demikian pula kita kalau terus-menerus harus berubah warna, mencoba serupa dengan dunia ini, maka kita akan mengalami ketegangan yang tak tertahankan. Tidak ada ketenangan dan kedamaian kalau kita hidup sebagai orang Kristen bunglon.

Jadilah murid Yesus yang berani melawan arus. Saya berikan contoh terakhir dari dunia binatang. Tahukah anda ikan apa yang ikut arus? Jawabannya adalah: ikan mati!

Ikan yang hidup berenangnya melawan arus.

Marilah kita bertumbuh menjadi murid Yesus yang berani melawan arus. Hanya dengan cara seperti itulah kita benar-benar hidup, kita bisa menjadi berkat buat dunia ini, dan kita memuliakan nama Tuhan yang kudus.

 

Pertanyaan pendalaman

  1. Apakah anda mengenali godaan konformisme dan eskapisme dalam hidup anda? Manakah dari keduanya yang lebih mempengaruhi anda?
  2. Apa yang dimaksud dengan non-konformisme? Dapatkah anda menyebutkan nama tokoh Alkitab yang menjadi teladan dari non-konformisme? Bagaimana anda menerapkan non-konformisme dalam kehidupan sehari-hari?
  3. Bagaimana Allah telah mengerjakan perubahan(metamorfosa) atau pembaruan dalam hidup anda? Bagaimana anda mengalami proses ini? Dalam hal apa anda merindukan lebih lagi perubahan atau pembaruan dalam hidup anda?
  4. ‘Seorang murid Yesus harus menawarkan budaya alternatif (countre culture) kepada dunia ini.’ Dapatkah anda memberikan beberapa contoh budaya altenatif yang telah diberikan gereja di banyak tempat di dunia ini dalam perjalanan sejarah gereja?
  5. Budaya alternatif apa yang paling dibutuhkan dunia saat ini? Apakah anda berani hidup sebagai murid Yesus yang melawan arus? Apakah tujuannya?