Markus 2:13-17 

‘Uang tidak bisa membeli kebahagiaan’, kata pepatah yang terkenal. (Siapa yang setuju? Siapa yang tidak?).

Dalam hal ini Domingos Oliveira bisa ikut bicara. Ia tinggal di Portugis dan menang besar lotterij. 43 juta euro! Belum pernah ada orang yang menang seperti itu waktu itu. Seorang jurnalis menelusuri jutawan muda baru ini di flat sederhananya di lantai 13 di kawasan baru di Lisabon. Satu tahun kemudian mereka bertemu lagi. Domingos sudah tinggal di luar kota di sebuah vila besar yang dijaga bodyguards. Mereka langsung saling mengenali. Jurnalis itu bertanya: ‘Seberapa bahagia anda sekarang?’ Jawabannya sangat mengejutkan. ‘Dulu saya punya banyak teman, tapi sekarang tidak lagi. Saya tidak tahu siapa yang bisa saya percaya. Tahun lalu anak perempuan saya yang umur 14 ke sekolah naik sepeda, tapi sekarang dia tidak mau lagi karena takut diculik. Dulu saya mimpi jadi kaya. Sekarang saya mimpi betapa bahagianya saya dulu, tahun lalu, di flat saya lantai 13…’

Lewi (yang kemudian disebut Matius) adalah orang yang karena pekerjaannya dikelilingi uang. Lewi adalah seorang pemungut cukai. Pemungut cukai waktu itu dibenci dan dianggap orang buangan (tidak diterima orang). Pada waktu itu Palestina diduduki oleh orang Romawi. Pemungut cukai diasosiasikan dengan kekuasaan penjajah. Selain itu mereka mengambil pajak lebih dari yang seharusnya. Sisanya mereka korupsi untuk memenuhi dompet mereka sendiri. Akibatnya mereka dibenci dan dianggap sebagai penghianat.

Dalam karya lukisan, Lewi biasanya digambarkan duduk dekat meja dengan pundi-pundi uang dan kadang juga dengan timbangan (emas).

Dalam pembacaan Alkitab kita, Yesus sedang mengajar di Kapernaum. Banyak orang yang datang untuk mendengarkanNya, karena Yesus sungguh mempunyai pesan untuk mereka: pesan yang baru dan mengubah hidup.

Meninggalkan segala sesuatu

Yesus berbicara secara langsung kepada orang-orang. Juga waktu itu ke Lewi: ‘Ikutlah Aku’. Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Lewi mengajukan banyak pertanyaan? ‘Ikut ke mana? (Tempat yang menyenangkan tidak?) Bagaimana dengan pekerjaan saya sekarang? Boleh saya diberi waktu untuk pikir-pikir dulu?’ Tidak. Karena Yesus yang berbicara dengan otoritas yang penuh kasih, Lewi langsung mengikutiNya.

Kisah tentang panggilan Lewi ini juga ditulis di kitab Matius dan Lukas. Lukas menambahkan di sini: ‘Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.’(Lukas 5:28).

Lewi meninggalkan pekerjaannya, dan karena itu juga pendapatannya dan hidupnya yang kaya raya dan seketika itu juga mengikuti panggilan Yesus. Seakan Lewi menyambut ‘Lowongan: Dicari murid-murid untuk Yesus”

Luar biasa melihat ada orang yang langsung menjawab panggilan Yesus. Apa yang mendahuluinya? Tidak diragukan Lewi sudah pernah mendengar pengajaran Yesus (Lewi tinggal satu kota dengan Yesus), namun sekaranglah waktunya! Apa yang biasanya mendahului sebelum orang sungguh meresponi panggilan Tuhan? Tidak jarang ada kejadian-kejadian yang besar yang membuat hidupnya macet. Misalnya: bangkrut (jasmani dan rohani), krisis kehidupan, sakit, kecelakaan, berhadapan dengan kematian, dsb. Namun bisa juga kejadian ‘biasa’ dalam hidup sehari-hari. Seseorang yang misalnya melihat bunga dan takjub akan karya penciptaan Allah. Seseorang yang misalnya ingat hidupnya dan keluarganya dan begitu bersyukur atas semua berkat-berkat Tuhan. Melalui hal-hal kecil sehari-hari juga orang dapat merasakan panggilan Yesus untuk mengikutNya.

Yesus merindukan anda!

Jadi Yesus menambahkan Lewi atau Matius, sang pemungut cukai di dalam lingkaran murid-muridNya. Pemungut cukai disama-ratakan dengan orang kafir dan orang berdosa. Orang berdosa yaitu mereka yang mempunyai reputasi buruk karena hidup yang melanggar hukum Allah (Misalnya: pelacur, penjahat). Dalam diri Lewi, kelompok ‘pemungut cukai dan orang berdosa’ mendapatkan ‘wajah’. Dengan memanggil seorang pemungut cukai masuk di kelompok murid, Yesus memperlihatkan bahwa Ia datang untuk semua orang. Juga orang yang termarjinalisasi. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Sama seperti Yesus merindukan Lewi datang kepadaNya, demikian juga Ia rindu semua orang datang kepadaNya. Tangan kasihNya terbuka bagi semua (seperti tangan Yesus disalib yang terentang)!Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16).

Murid-murid lain juga pasti terkejut dengan pilihan Yesus. Kita bisa membayangkan kalau Petrus mungkin terkejut dan bereaksi: ‘Jangan … Aduh. Jangan dia! Belum lama dia sudah ambil uang saya …’Lihatlah lukisan berikut “Yesus menerima pemungut cukai sebagai murid” dari pelukis maestro Italia Caravaggio (1573-1610). (Lukisan ini ada di basilik San Luigi dei Francesi, Roma).

Yesus (di paling kanan) memanggil Lewi pemungut cukai (di tengah di belakang meja) untuk mengikutNya. Perhatikan ada 3 jari tangan di sini: jari Lewi, jari Petrus, jari Yesus.

Kita lihat wajah terkejut Lewi yang seakan bertanya: ‘siapa, saya?’ Lihat bagaimana jari Lewi menunjuk. Selanjutnya lihat Petrus yang berdiri di kanan (di samping Yesus). Jari Petrus menunjuk seakan mengatakan: ‘Tuhan, apa tidak salah pilih orang?’ Yang utama lihatlah Yesus yang memanggil Lewi. Jari Yesus mengingatkan kita akan jari Sang Pencipta dalam lukisan Michelangelo: jari yang menyentuh dan memberikan kehidupan kepada Adam. Yesus memanggil Lewi untuk memberikannya hidup yang baru.

Yesus memanggil kita dan menerima kita sebagaimana kita adanya (dengan segala dosa-dosa kita), namun Ia tidak membiarkan kita sebagaimana kita adanya. Ia ingin membentuk kita menjadi murid-muridNya. Allah ingin memperbarui kita menjadi serupa dengan gambaran AnakNya Yesus melalui karya Roh KudusNya di dalam kita.

Yesus mempersekutukan keduabelas muridNya denganNya dan satu dengan yang lain. Pilihan siapa yang boleh masuk ke kelompok murid-murid ditentukan oleh Yesus sendiri. Bukan oleh murid-murid. Yesus akan membentuk mereka sebagai satu tim, sama seperti 12 suku Israel, umat pilihan Allah. Contoh bagaimana Yesus melakukannya dapat dilihat di Markus 6:7-13, ketika Yesus mengutus murid-muridNya dua-dua.

Lewi atau Matius sering digambarkan bersama dengan pundi-pundi uang di tangannya. Ini untuk mengingatkan orang akan masa lalunya. Namun waktu Yesus melihatnya, Yesus tidak hanya melihat masa lalunya, tetapi masa depannya yang sudah dimulai hari ini! Yesus memakai kemampuan dan talenta Lewi secara positif. Pena yang dulu sudah banyak menulis hutang-hutang orang akan menulis sebuah kitab Injil: Injil Matius.   

Moto hidup Lewi atau Matius dulu adalah: ‘Emas beserta kita’. Namun di awal kitab Injilnya ia menulis: ‘Allah beserta kita! Imanuel’. Dengan kata ‘Imanuel’ ia mengakhiri kitab Injilnya juga, ketika Yesus berjanji: ‘Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’ (Matius 28:20).

Pertama-tama para murid hanya melihat 1 pemungut cukai di tengah mereka (Lewi), tapi suatu hari mereka melihat semua pemungut cukai kota itu berkumpul. Dapatkah anda bayangkan keterkejutan mereka? Ini terjadi karena Lewi mengadakan pesta untuk kolega-koleganya. Mungkin semacam pesta perpisahan. Lewi ingin kolega-koleganya sama seperti dia: mengenal Yesus, hati mereka tersentuh oleh Yesus, dan menemukan harta yang lebih berharga dari emas: keselamatan melalui Yesus Kristus. Lewi sangatlah misioner. Atau yang sering juga dikatakan: ‘Murid yang memuridkan’.

Kritik datang dari ahli Taurat dari golongan orang Farisi. Mereka hidup lurus mengikuti hukum Musa dan karena itu merasa punya alasan untuk memandang rendah orang yang berbeda dengan mereka. Merekalah ‘orang benar’ yang Yesus katakan di sini secara ironis. ‘Orang benar’ adalah orang yang berpikir mereka benar karena siapa mereka dan apa yang mereka lakukan. Mereka puas dengan diri mereka sendiri dan punya kepercayaan diri tinggi. Mereka membanggakan diri atas segala prestasi mereka. Karena itu mereka tidaklah perlu kasih karunia Allah. Karena itu Yesus berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

’Orang berdosa’ adalah orang yang tidak mencapai tujuan mengapa mereka diciptakan. Mereka sendiri juga menyadarinya (sadar akan dosa mereka) atau bersedia dikonfrontasi akan hal ini. Orang berdosa di sini bukan sekedar orang yang berbuat dosa, tetapi orang yang membutuhkan anugerah Allah. Orang-orang dengan tangan kosong. Bagi merekalah Yesus datang.

Tema GKIN 2017 adalah: “Bertumbuh bersama sebagai murid-murid Yesus Kristus”. Dalam rangka pendalaman tema ini maka diadakan seri khotbah oleh para pendeta GKIN. Hari ini kita merenungkan tema: “Lowongan: Dicari murid-murid untuk Yesus”. Pdt. S. Tjahjadi membahas tema: “Apakah syarat-syarat menjadi murid Yesus?” Pdt. S.M. Winckler- Huliselan membahas tema: “Bagaimana kita bertumbuh sebagai murid-murid Yesus?”

Sebagaimana Yesus memanggil Lewi, Ia memanggil kita menjadi murid-muridNya. Apakah saya mendengar suara panggilanNya yang begitu jelas dan jernih: ‘Ikutlah Aku!’

Sungguh suatu anugerah Ia memanggil kita. Lowongan menjadi murid-muridNya terlalu indah untuk kita abaikan.

Datang tiap minggu ke gereja bukan otomatis membuat kita jadi murid-murid Yesus. Tidak. Pada waktu itu juga banyak orang-orang yang sering melihat Yesus, tapi mereka adalah ‘orang yang ikut-ikutan’ dan bukan murid-murid. Murid adalah orang yang berkata: “ya” terhadap Yesus dan menyerahkan hidup bagi Yesus, bersedia dibentuk, dan mengikutNya kemanapun Ia membimbing. Discipelship adalah soal komitmen dan bukan ‘ikut semau-maunya saja’.

Lewi bersedia meninggalkan hidupnya yang kaya, meninggalkan apa yang memberikannya kepastian/ jaminan. Mengikut Yesus memang gratis tetapi tidak murahan. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Apakah yang saya tinggalkan untuk menjadi murid Yesus yang berkomitmen? Apakah saya bersedia meninggalkan apa yang menghalangi saya sebagai muridNya? Berbeda dengan murid di sekolah sekarang, murid di zaman Alkitab mengikut Rabi atau Guru 24 jam sehari. Menjadi murid Yesus berarti dipanggil full-time. Tahukah apa yang indah dari lowongan ini? Di sini talenta dan karunia kita akan mencapai tujuannya. Yesus akan menggunakan talenta dan karunia kita untuk hal yang baik bagi KerajaanNya. Sama seperti Lewi.

Seorang murid mengetahui di mana ia harus berada! Pada waktu itu Lewi tahu ia harus ada di sana (di pesta itu) bersama Yesus, murid-murid lain, dan kolega-koleganya para pemungut cukai. Di mana anda secara spesifik harus hadir sebagai murid Yesus? Di gereja misalnya kita lihat tempat duduk para penatua. Anda tahu bahwa jemaat membutuhkan pelayanan dari penatua. Pertanyaannya: Apakah seharusnya anda ada di sana sebagai seorang penatua? Di mana Yesus menginginkan anda hadir sebagai muridNya? Bersama orang yang ditolak di masyarakat? Bersama orang-orang yang terlupakan?

Dicari murid-murid untuk Yesus! Apakah saya meresponi lowongan ini? Teruskanlah juga lowongan ini karena ini lebih berharga dari emas dan dari pekerjaan impian manapun.

 

Pertanyaan pendalaman:

  1. Lewi memberi jawaban langsung atas panggilan Yesus ‘Ikutlah Aku’. Peristiwa apa yang terjadi dalam hidup anda sehingga anda mengikuti panggilan Yesus? (Apakah itu peristiwa mencekam atau peristiwa sehari-hari?) Adakah hal-hal yang menghalangi anda menjadi murid Yesus yang berkomitmen?
  2. Apa yang membedakan seorang murid dan orang yang ikut-ikutan?
  3. Bacalah Markus 6:7-13. Mengapa Yesus mengutus murid-muridNya berdua-dua? Dapatkah anda menceritakan tentang relasi kedua belas murid Yesus satu dengan yang lainnya? Apa yang dapat kita pelajari dari hal ini sebagai jemaat Kristus?
  4. Talenta lama dari Lewi dipakai Tuhan Yesus dengan cara yang baru untuk hal yang baik bagi KerajaanNya. Dapatkah anda memberikan contoh orang-orang yang dengan cara yang baru dipakai bagi Kerajaan Allah dengan talentanya yang lama?
  5. Seorang murid tahu dimana ia harus berada. Di mana Yesus ingin anda secara spesifik hadir sebagai muridNya?
  6. Apa tanggapan anda terhadap moto: ‘Murid-murid yang memuridkan’? Bagaimana kita menjadi murid-murid yang memuridkan? Pembinaan apa yang kita butuhkan di sini sebagai jemaat?