Pembukaan Alkitab: Marcus 8:34-38

Sdr-sdr yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus,

“Apakah syarat-syarat menjadi murid Yesus?”, adalah salah tema dalam kotbah berserie yang berdasarkan pada tema besar GKIN tahun ini, “Bertumbuh bersama sebagai murid-murid Yesus Kristus. Pdt Linandi akan berkotbah tentang tema, “Lowongan: Dicari murid-murid untuk Yesus” dan pdt Marla berkotbah tentang tema, “Bagaimana kita bertumbuh sebagai murid-murid Yesus”.

Dari tema besar GKIN tahun ini, “Bertumbuh bersama sebagai murid-murid Yesus”, paling tidak ada 2 hal penting yang kita bisa perhatikan. 1. Bahwa kita adalah murid-murid Yesus. Status kita bukan hanya sebagai orang kristen atau orang percaya, tetapi sebagai murid. Jadi hubungan atau relasi kita dengan Tuhan Yesus adalah hubungan antara Guru dan murid. Hal yang ke-2, adalah “bertumbuh bersama”.

Menjadi murid berarti orang yang belajar dari gurunya, meniru gurunya. Sebagai murid Yesus, tidak saja kita mempelajari semua yang diajarkan oleh Yesus, tetapi kita juga terpanggil untuk meneladani kehidupan-Nya, agar kita bisa bertumbuh atau naik kelas bersama. Hal yang penting dalam mengikut Yesus bukan lamanya kita menjadi orang kristen atau sudah berapa banyak yang kita berikan atau lakukan untuk Tuhan Yesus. Bisa saja ada orang yang sudah lama dibaptis dan rajin ke gereja tetapi apakah kita bertumbuh, dalam arti semakin dewasa di dalam iman dan pengenalan kita akan Tuhan?

Lee Champ dalam tulisannya “Mere Discipleship: Radical Christianity in a Rebelious World” menulis begini: “Yesus dari Nazareth selalu datang dan bertanya kepada para muridNya untuk mengikutiNya, bukan hanya “menerimaNya” bukan hanya “percaya kepadaNya” bukan hanya “menyembahNya” tetapi “mengikutiNya dari dekat!” Mengikuti Yesus dari dekat sebagai murid berarti apa yang dihayati Yesus itu juga yang harus kita hayati di dalam hidup ini.

Satu hal lagi yang penting mengenai murid Yesus, bahwa untuk menjadi murid Yesus itu adalah sebuah pilihan. Yesus berkata kepada orang banyak dan para murid-Nya, dalam Markus 8:34,“Setiap orang  yang mau mengikut Aku…” jadi kita lihat di sini, tidak ada paksaan sama sekali dalam hal untuk mengikut dan menjadi murid Yesus. Tuhan Allah tidak pernah memaksa kita kepada umat-Nya. Lalu bagaimana kalau kita memilih untuk menjadi murid Yesus, apa yang menjadi syarat-syaratnya.

Mungkin, kita bertanya, koq ikut Tuhan Yesus dan menjadi murid-Nya mesti ada syarat-syaratnya? Sdr-sdr, syarat-syarat itu penting dan dibutuhkan. Misalnya kalau kita mau masuk sekolah menjadi pilot atau pramugari, pasti ada syarat-syaratnya. Begitu juga kalau kita menjadi juru masak atau koki di sebuah restaurant pasti juga ada syarat-syarat. Tidak mungkin kalau sang pemilik restaurant, apalagi yang sudah terkenal, berkata, “Ayo silahkan siapa saja boleh bekerja sebagai juru masak di restaurant saya”.

Lalu untuk mengikut dan menjadi murid Yesus apa syarat-syaratnya? Dalam ayat 34 dikatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Menurut ayat ini ada 3 syarat untuk mengikut dan menjadi murid Yesus: Menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia. Menurut sdr-sdr, syarat-syaratnya berat atau tidak?

Tuhan Yesus, bukan seperti para politikus yang sedang berkampanye banyak mengobral janji-janji.  Nanti uang sekolah dan biaya pengobatan gratis. Atau nanti kalau beli rumah tidak perlu uang muka (down-payment). Atau atau menakut-nakuti orang, jangan pilih si A, nanti masuk ke neraka. Tuhan Yesus bisa saja berkata, “Barangsiapa mengikuti Aku, pasti masuk surga!”. Pasti akan banyak orang yang tertarik untuk mengikut dan menjadi murid-Nya. Tapi Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku:

1. Harus menyangkal diri. Apa artinya menyangkal diri?

Banyak orang yang berpikir kalau mengikut dan menjadi murid Yesus maka hidupnya akan menjadi aman, damai dan bebas dari segala macam penderitaan. Apalagi ada kelompok tertentu yang mengajarkan untuk menjadi orang Kristen berarti otomatis menjadi yang diberkati, sukses dan bebas dari sakit–penyakit dan penderitaan.

Keyakinan mereka ini didasarkan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan sanggup melakukan apa saja. Benar bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mahakuasa dan sanggup melakukan apa saja. Tetapi apakah itu berarti bahwa kita diberi hal-hal yang hanya menguntungkan, enak dan baik saja dari Tuhan?

Hal menyangkal diri, tidak mudah untuk kita berlakukan. Mengapa?

Menyangkali dirinya (denial of self) tidak sama dengan penyangkalan diri (self-denial). Penyangkalan diri itu berarti pantangan terhadap beberapa macam makanan tertentu dan kesukaan atau harta milik. Sedangkan, menyangkali dirinya berarti menaklukkan diri kepada Tuhan Yesus Kristus, sehingga kita tidak mempunyai hak dan kuasa lagi atas diri sendiri

Menyangkal diri berarti, kita dengan tegas berani berkata “tidak” pada ambisi dan kehendak kita, dan sebaliknya kita mengatakan, “ya” pada kehendak Tuhan. Dengan kata lain, setiap orang yang mau mengikut Yesus, ia harus mengganti fokus hidupnya: dari diri sendiri kepada kehendak Tuhan.

Inilah yang Yesus teladankan kepada kita. Ketika Yesus sedang menghadapi kesusahan yang mendalam karena salib sudah di depan mata, Yesus bergumul di dalam doa di taman Getsemani. Di dalam doaNya itu, Yesus meminta agar sekiranya cawan itu dilalukan dari padaNya (Matius 26:39).  Akan tetapi, di akhir doaNya Yesus mengembalikan semuanya kepada Bapa yaitu biarlah kehendak Bapa saja yang terjadi. Dalam hal ini, Yesus menempatkan kehendak diri sendiri di bawah kehendak Bapa. Yesus menaklukan kehendak diri sendiri kepada kehendak Bapa.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa kita diharuskan menyangkal diri untuk menjadi murid Kristus? Karena hidup kita sudah tercemar dengan dosa sehingga keinginan dan kehendak kita tidak lagi sesuai dengan apa yang benar dan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Karena itu, untuk mengikuti Kristus, kita diharuskan untuk menyangkal diri

2. Syarat yang kedua adalah “Memikul salib”.

Memikul salib berarti bahwa kita bersedia menanggung resiko atau hal-hal yang tidak menyenangkan, sebagai akibat keputusan kita untuk mengikut Tuhan Yesus.Memikul salib adalah segala konsekuensi yang kita harus tanggung karena menjadi murid Tuhan Yesus. Ketika kita memutuskan menjadi murid Yesus, bisa jadi kita dikucilkan oleh keluarga dan teman-teman kita, atau diputuskan kekasih kita, dipecat dari pekerjaan kita, atau pendapatan bisnis kita menjadi berkurang karena kita jujur dan tidak melakukan kecurangan.

Berbicara mengenai memikul salib, sering ada salah pengertian dengan istilah “duri dalam daging” atau “akibat dosa atau kesalahan sendiri”. Memang ke tiga istilah itu memiliki unsur penderitaan atau kesusahan. Tetapi makna dan pengertiannya berbeda. Memikul salib adalah penderitaan atau kesusahan yang dialami murid Yesus karena kerelaannya untuk menanggungnya demi kebenaran Allah atau demi Kristus.

Ia dengan sadar mau melakukannya. Tidak ada unsur paksaan. Seperti misionaris yang rela meninggalkan kenyamanan di negerinya lalu pergi ke pedalaman, tinggal di tempat yang asing dan sulit demi agar orang-orang boleh mendengarkan kabar sukacita tentang Injil Tuhan.

“Duri dalam daging” adalah penderitaan atau kesusahan yang diizinkan Allah dialami oleh orang Kristen dengan tujuan untuk kebaikan orang itu sendiri. Rasul Paulus diizinkan mengalami penyakit (duri dalam daging) agar ia menyadari kelemahan atau keterbatasannya dan terus hidup bersandar atau bergantung pada Tuhan. (II Kor 12:7-10).

Tapi ada kalanya, orang Kristen mengalami penderitaan atau kesusahan akibat kesalahan atau dosanya sendiri. Jelas ini bukan dimaksud dengan “salib” atau “duri”. Tetapi itu merupakan konsekuensi logis dan wajar akibat dari perbuatannya. Orang yang menjadi sakit karena gaya hidup yang tidak sehat.

“Memikul salib” adalah inti dari Injil yang diajarkan Yesus, dalam bahasanya rasul Paulus “memikul salib” adalah : “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yg hidup, melainkan Kristus yg hidup di dalam aku” (Gal 2: 19-20). Jadi secara rohani Salib Kristus merupakan lambang penderitaan, kematian, kehinaan, cemoohan, serta menyangkal diri. Yesus Kristus tidak menolak dan menghindar dari penderitaan yang harus Dia alami. Dalam pandangan Kristus, penderitaan sebagai muridNya bukanlah suatu kenistaan atau aib tetapi merupakan suatu kemuliaan (Matius 5:11-12).

Tuhan Yesus rela mengalami semuanya itu, disalibkan, mati,dikuburkan, dan bangkit untuk menebus dosa-dosa kita, maka setiap orang yang memikul salibnya sendiri karena Yesus pastilah akan mengalami hal yang sama seperti Sang Guru, Yesus Kristus, itulah ciri murid Kristus yang sejati, sama seperti gurunya.

Kita semua harus memikul salib kita masing-masing. “Salib” itu harus dipikul seperti yang diingatkan oleh seorang teolog Jepang Kosuke Koyama, bahwa tidak ada gagang atau pegangan di salib (No handle on the cross). Kerelaan memikul salib sebagi murid Yesus bukanlah hanya berlangsung sekali-sekali atau sementara, tetapi setiap hari. Artinya, selama kita masih hidup di dunia, maka kita harus hidup bagi Kristus dan menjadi berkat bagi sesama.

3. Syarat ke-3, adalah “Mengikut Aku”.

“Ikutlah Aku” kalimat singkat ajakan Tuhan Yesus yang telah mengubah hidup banyak orang. Apa artinya, “Mengikut Aku”. Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk berjalan di belakang-Nya. Apa arti berjalan di belakang seseorang? Dalam budaya Timur Tengah di zaman itu, seorang murid secara harfiah memang akan berada di belakang gurunya, baik pada waktu berjalan maupun pada waktu menunggang keledai.

Dalam pemikiran umat Israel di zaman Perjanjian Lama, mengikuti seseorang atau berjalan di belakang seseorang berarti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan diri dan mengabdikan diri. Mengikuti sseorang berarti menyerahkan hidup kita kepada orang itu dengan segala akibat dan resikonya. Memang mengikuti atau berjalan di belakang seseorang pasti membawa akibat atau dampak. Hidup kita pasti akan berubah dan perubahan itu tergantung dari siapa yang kita ikuti.

Jika kita mengikuti dan berjalan di belakang Tuhan Yesus. Hidup kita mau tidak mau akan berubah, karena Tuhan Yesus mempunyai gaya hidup yang sungguh-sungguh unik. Prioritas dan orientasi hidup Yesus unik. Oleh sebab itu, kalau kita berjalan di belakang Yesus, mau tidak mau kita pun belajar mengubah apa yang perlu kita utamakan dalam hidup kita, lalu belajar memahami apa yang diutamakan Tuhan Yesus.

Dengan mengikut Yesus, arah hidup kita berubah. Kita belajar berjalan sesuai dengan arah hidup Tuhan Yesus.  Dengan mengikuti Tuhan Yesus, mau tidak mau kita akan berubah. Tetapi ingat, bahwa perubahan bukanlah tuntutan. Tuhan Yesus tidak pernah menuntut agar kita berubah. Tuhan Yesus mengajak kita berjalan di belakang-Nya, dan jika kita berjalan di belakang-Nya, mau tidak mau kita akan berubah.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Barangkali sebagian besar kita sudah mengetahui bahwa Basuki Cahaya Purnama alias Ahok kalah di dalam pilkada yang ke dua. Banyak orang yang sedih, menangis dan kecewa karena Ahok tidak terpilih lagi. Beberapa bulan yang lalu, di Balai Kota di Jakarta, tempat Ahok bertugas sebagai gubernur, penuh dengan karangan bunga-bunga.

Aneh yang menerima banyak karangan bunga biasanya yang menang tapi ini justru yang kalah.

Sebagai saudara-saudara seiman, kita melihat kesaksian yang luar biasa dari seorang Ahok. Dia betul-betul menjalankan hidupnya sebagai murid Kristus yang sejati. Walaupun di benci, di fitnah, dicaci maki, dikutuki oleh banyak orang tetapi ia tidak takut untuk terus berkarya bagi rakyat. Ahok juga tidak pernah malu untuk mengakui bahwa ia adalah orang kristen dan pengikut Kristus. Di dalam pledoi atau pembelaannya di pengadilan, tidak segan-segan ia berani bersaksi bahkan dia memberi judul pledoi nya :”Melayani walaupun difitnah”.

Sekarang Ahok berada di penjara

Ketika mertua Ahok  meminta agar ia pakai baju anti peluru, takut ada orang yang akan menembaknya. Ahok berkata, “tidak perlu”. Kalau memang ia harus mati terbunuh karena ditembak orang, yah ia bisa menerimanya, itu memang sudah kehendak Tuhan. Bahkan ia mengutip ucapan rasul Paulus bahwa mati adalah keuntungan. (Filipi 1:21). Tapi menururt Ahok kalau memang belum waktunya dan bukan kehendak Tuhan, ia yakin pasti Tuhan akan melindunginya. 

Kembali kepada tema kotbah kita mengenai “syarat-syarat untuk menjadi murid Yesus”. Kita sudah mendengar ada 3 syarat yang diajukan Tuhan Yesus: Menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia. Nah, apakah kita dapat memenuhi syarat-syarat yang diajukan oelh Tuhan Yesus. Dengan jujur harus kita akui, tidak!. Termasuk seorang Ahok sekali pun. Tidak ada seorang pun di antara kita yang sanggup memenuhi syarat-syarat yang disebut Tuhan Yesus.

Jadi memang, tidak mungkin kita memenuhi syarat-syarat itu dan menjadi murid Yesus. Tetapi ingatlah apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 18:27, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah”. Ya Allah sendiri yang memungkinkan kita diterima menjadi murid-Nya. Anugerah Allah memungkinkan itu terjadi. Kalau kita menjadi murid-murid Yesus itu bukan karena kita memenuhi syarat, tetapi karena Dia menganugerahkannya kepada kita. Dan itu juga berarti, kalau kita masih bisa mengikut dan melayani Tuhan Yesus hingga saat ini, itu adalah anugerah Tuhan. Tuhan memberkati kita semua.

 

Pertanyaan untuk diskusi:

  1. Mengapa kita disebut sebagai murid Yesus?
  2. Apa keunikan dari murid Yesus?
  3. Sebutkan ke-tiga syarat menjadi murid Yesus.
  4. Dari ke-tiga syarat itu, mana menurut anda yang paling sulit? Mengapa?
  5. Apa tantangan menjadi murid Yesus pada masa kini?