Pemb Alk: Jakobus 5:13-16

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Di bagian pendahuluan dari bukunya yang berjudul, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”, Pdt Eka Darmaputera menceritakan tentang sebuah kisah yang terjadi di sebuah sekolah desa di Uni Soviet, ketika rezim komunis masih berkuasa. Di sebuah ruang kelas, seorang ibu guru bertanya, “Anak-anak, siapa di antara kalian yang masih percaya kepada Tuhan? Ayo, tunjuk jari kalian!”

Jawabnya adalah sepi. Sampai, setelah beberapa saat menanti, sebuah jari kecil pelan-pelan teracung ke atas. Nyata benar bahwa pemiliknya berjuang melawan keraguan. “O, Petrova, lagi-lagi Petrova! Engkau mau mengatakan bahwa engkau percaya kepada Tuhan?” Petrova kecil menganggukkan kepalanya. “Baik”, kata Bu Guru, “Kalau begitu Bu Guru mau lihat. Berdoalah kepada Tuhanmu, lalu mintalah sebatang pensil kepada-Nya!”

Gadis cilik itu berdoa. Dengan penuh kesungguhan. Dua menit kemudian, Bu Guru bertanya,”Bagaimana anakku? Apakah Tuhan sudah memberikan apa yang kau minta?” Dengan kepala tertunduk, Petrova menggelengkan kepala. Seluruh kelas tertawa dengan riuhnya. Petrova malu. Betapa ingin ia menangis. Tapi ditahannya.

 “Jangan menangis, Petrovaku, hanya karena Tuhanmu tidak memberimu pensil,” bujuk Bu Guru, “cobalah kini minta kepada Bu Guru. Siapa tahu, ia akan memberikannya.” Petrova kecil menurut. Lalu ia berkata,”Bu Guru, bolehkan saya minta sebatang pensil?” Segera ada jawaban. “O, tentu saja boleh, Petrova! Ini, ambillah!” Petrova memperoleh sebatang pensil. Dari Bu Guru. Bukan dari Tuhan.

Sdr-sdr yang mengasihi Tuhan Yesus,

Bagaimana kita menjelaskan hal ini? Di mana letak permasalahannya, sehingga doa-doa kita seperti sia-sia, dan Tuhan tampaknya diam saja dan tidak berdaya? Apakah masih ada gunanya, beriman dan berdoa kepada Tuhan? Jawabannya, adalah karena pemahaman yang keliru tentang doa. Sampai kapan pun, Petrova, tidak akan menerima kiriman pensil dari surga.

Dalam ayat 16b dari perikop kita dikatakan, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”. Kita lihat di sini bahwa penulis kitab Yakobus ingin memusatkan perhatian pada keistimewaan dan kekuatan doa. Doa memang amat besar manfaatnya, dan luar biasa dampaknya. Saya yakin di antara kita ada yang sudah pernah mengalaminya.Tapi doa tidak berfungsi untuk menggantikan tangan, kaki, dan otak kita.

Kita masih harus bekerja dan berpikir, bukan cuma berdoa. Ora et Labora – berdoa dan bekerja. Doa juga bukan metode untuk memaksa Allah mengikuti kemauan kita. Sebaliknya, doa adalah pernyataan betapa kita rindu untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Sedangkan bagi Rasul Paulus, hal terpenting bagi seseorang yang ingin melayani Tuhan bukanlah strategi atau metode, melainkan doa. Doa merupakan landasan dan sumber kekuatan dalam pelayanan. Tanpa doa, kita menjadikan diri kita sendiri sebagai sumber kekuatan dan keberhasilan. Kita terancam untuk menjadi putus asa ketika menghadapi masalah dan kita gampang tergoda untuk menjadi sombong bila kita berhasil.

Doa membuat kita bergantung kepada Allah. Doa juga menolong kita untuk bisa menyesuaikan diri dengan kehendak Allah. Doa membuat Allah berjalan di depan kita dan doa menolong kita untuk bersandar kepada pertolongan Allah.

Doa yang berkenan kepada kehendak Allah bukanlah doa yang mementingkan diri sendiri, melainkan doa yang mengutamakan terlaksananya rencana Allah.

Doa harus mendorong dan membuat kita bekerja lebih giat dan lebih baik. Bukan membuat kita semakin malas, karena berprinsip “cukup dengan doa”. Kehidupan doa yang benar akan memotivasi kita hidup lebih bertanggung-jawab. Bukan sebaliknya, menjadi egois, karena berprinsip yang penting hubungan dengan Tuhan.

Sebelum kita melihat apa fungsi dan makna doa dalam ibadah, alangkah baik kita melihat beberapa aspek penting mengenai doa:

1. Apakah hakekat doa? 

Doa orang Kristen  tidak berdasarkan pada kesalehan  dan kebaikan manusia, maksudnya kalau kita hidup saleh dan berbuat baik maka doa kita pasti dikabulkan. Tidak demikian. Tetapi doa-doa kita berdasar pada karya Tuhan Yesus Kristus, yang telah membuka kemungkinan bagi kita oleh Roh Kudus berseru kepada Allah: “Ya Abba, Ya Bapa!” Dan Ia berkenan mengangkat kita menjadi anak-anakNya (Roma 8:29).

Bukankah hal ini cukup memberi kekuatan bagi kita untuk menjalin hubungan dengan Dia melalui doa? Dan hubungan itu adalah hubungan seperti Bapa dengan Anak. Sebagai anak, kita berkomunikasi dengan Bapa di surga melalui doa. Inilah hakekat doa kita, yakni berkomunikasi dengan Tuhan. Begitu juga ketika berdoa dalam ibadah, artinya kita berkomunikasi dengan Tuhan. Komunikasi dua arah, artinya ada saat Tuhan mendengar kita dan saat dimana kita mendengar Dia.

Berdoa juga bukti dari relasi yang akrab dengan Tuhan. Hidup di dalam persekutuan yang akrab dengan Tuhan, tidak mungkin terwujud tanpa doa. Jadi, doa adalah ukuran yang paling konkrit, dan akrab atau renggangnya hubungan kita dengan Tuhan. Kalau kita hidup bersama Kristus, itu  berarti secara terus menerus berada dalam persekutuan dengan Dia, melalui doa.

Sdr-sdr, Yohanes Calvin, salah satu tokoh reformasi, menganalogikan “doa” dengan “napas”. Seperti orang tidak dapat hidup tanpa bernapas, begitulah orang kristen tidak dapat hidup tanpa berdoa. Coba, kita tahan napas kita untuk beberapa saat. Bagaimana rasanya? Sebagaimana bernapas adalah perkara yang telah kita lakukan sepanjang usia kita, maka berdoa pun adalah perkara sehari-hari dalam kehidupan orang Kristen. Jadi, berdoa adalah “nafas hidup orang Kristen”. Karena itu siapa yang tidak berdoa, secara jasmani kelihatannya masih hidup, tetapi secara “rohani” ia telah mati.

2. Kepada siapa kita alamatkan doa kita?

Mudah untuk mengatakan bahwa alamat dari setiap doa adalah Tuhan Allah, Bapa di dalam Yesus Kristus. Namun kenyataannya membuktikan bahwa tidak sedikit orang-orang Kristen  yang tidak mempercayakan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan saja.

Masalah yang paling pokok mengenai siapa alamat dari doa kita ialah, apakah kita merasa cukup mempercayakan seluruh kehidupan kita hanya kepada Tuhan, atau kita lebih cenderung mengharapkan pertolongan kepada kuasa-kuasa di luar Tuhan, atau lebih konkrit “kuasa diri sendiri”. Allah “menuntut” agar kita berdoa dan mengharapkan dan bergantung bahwa segala pertolongan hanya berasal dariDia saja. “Berserulah kepadaku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkanengkau dan engkau akan memuliakan Aku” (Mz 50:15).

3. Jawaban atas doa kita.

Sering muncul pertanyaan, apakah Tuhan mendengar doa-doakita? Ada 4 macam cara yang Tuhan  pergunakan dalam menjawab doa kita :

  1. Ya, langsung dijawab. Kadang apabila doa atau permohonan kita sesuai dengan rencana dan waktu yang telah ditetapkan olehNya, maka Ia akan langsung mengabulkan doa kita.Tapi jawaban doa Tuhan tidak selalu demikian.
  2. Ya, tapi tunggu. Bukankah, banyak terjadi bahwa doa kita dijawab oleh Tuhan, justru bukan pada waktu yang kita harapkan. Dengan kata lain, jawaban terhadap doa kita itu mengalami penundaan. Dalam hal ini sebenarnya Tuhan tidak pernah terlambat menjawab doa kita, hanya kita yang tidak sabar menanti waktu. Ada seorang ibu harus menunggu 30 tahun doanya baru terjawab oleh Tuhan. Padahal, doanya adalah agar suaminya bisa ikut ke gereja.
  3. Ya, tapi Tuhan memberikan tidak seperti apa yang kita minta melainkan Dia memberi sesuai dengan apa yang menjadi kehendak-Nya. Tuhan menjawab dan mengabulkan doa kita, tetapi menurut rencanadan kehendak-Nya dan bukan menurut rencana dan kehendak kita.
  4. Tidak. Tuhan tidak selalu mengabulkan doa kita. Kalau doa atau permohonan itu tidak sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya. Tuhan kita Mahatahu. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Dengan tidak mengabulkan doa kita, bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita. Dengan tidak mengabulkan doa kita, berarti itu yang terbaik untuk kita.  

4. Sikap waktu doa.

Pada umumnya, orang Kristen Protestan mengambil sikap tunduk dan lipat tangan kalau berdoa sementara duduk atau berdiri. Salah satu segi dari makna doa ialah mencurahkan seluruh pergumulan lahir dan batin kepada Allah. Artinya bahwa berdoa itu adalah sesuatu yang serius.

Kita berkomunikasi dengan Tuhan. Allah mengharapkan kita datang kepada-Nya dengan hati yang bersih. Kita sendiri harus menghampiri Dia dengan rasa hormat. Karena itu sangat disesalkan kalau dalam ibadah, ada saudara-saudara kita yang tidak serius pada waktu berdoa. Namun, kita tidak perlu takut untuk mengungkap-kan kepada Allah apa yang kita pikirkan dan rasakan.

Selain itu, ada suatu kecenderungan yang mengarah kepada formalisme dalam berdoa.  Maksudnya, ada banyak orang Kristen  berdoa tanpa penghayatan dan kesungguhan. Berdoa hanya dipandang sebagai suatu upacara keagamaan Kristiani. Tidak menjiwai seluruh hidup. Sangat berbahaya kalau doa tidak dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Hal itu akan memunculkan suatu sikap hidup yang dualisme. Kalau beribadah, berdoa, seseorang bisa menjadi “saleh”, tetapi setelah itu, kata dan perbuatannya tidak lagi mencerminkan doanya.

Fungsi dan makna doa dalam liturgi (Ibadah):

1. Stil Gebed (Doa hening). Setelah intochtlied, pendeta atau pelayan Firman memberi kesempatan kepada jemaat untuk masing-masing berdoa hening. Tujuannya agar jemaat secara pribadi mempersiapkandiri untuk mengikuti ibadah.”Votum dan Salam” itu bukanlah sebuah doa. ”Votum” berfungsi sebagai meterai yang mengesahkan atau meresmikan bahwa ibadah itu hanya untuk memuliakan Allah serta terjadi karena perbuatan Allah; sedangkan ”Salam” berfungsi sebagai ucapan selamat bertemu di kalangan Orang Kristen mula-mula.

2. Gebed van Toenadering (Doa menghampiri Tuhan). Dalam doa ini, kita sebagai umat-Nya, menghampiri Tuhan dengan segala keberadaan kita. Kita mengakui segala dosa dan pelanggaran kita di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, kadang ada pendeta yang memberi kesempatan kepada jemaat untuk mengakui dosa dan pelanggarannya secara pribadi. Dalam doa ini, tidak saja kita mengakui dosa dan pelanggaran kita tetapi juga mohon pengampunan dari Tuhan.

3. Gebed om verlichting met de Heilige Geest(Doa mohon penerangan dari Roh Kudus). Mengapa doa ini perlu dilakukan sebelum pembacaan Alkitab dan kotbah? Karena doa ini berfungsi sebagai suatu pernyataan bahwa tidak mudah untuk kita bisa mengerti dan memahami Firman Tuhan. Oleh karena itu, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus, agarFirman Tuhan yang diberitakan, bisa dimengerti dan juga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Voorbede (Doa Syafaat).  Di dalam Bahasa Ibrani kata ”syafaat” itu berasal dari kata ”saphat” artinya ”membela”. Jadi ketika, pendeta atau pelayan Firman yang memimpin doa syafaat, dia menjadikan dirinya sebagai pembela bagi orang lain. Ia membawa seluruh penderitaan dan pergumulan umat di hadapan Tuhan. Seperti dalam perikop kita, ketika di dalam persekutuan, ada orang yang sakit dan bergumul, maka mereka didoakan. Biasanya di GKIN, doa syafaat ini diakhiri dengan doa Bapa Kami. Melalui doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kita bisa belajar bahwa doa yang benar bukan hanya sarana untuk memohon atau meminta kepada Tuhan. Tetapi ada unsur-unsur lainnya, yakni unsur penyembahan, unsur pengakuan dan unsur pengucapan syukur.

5. Dank Offerande (Doa Persembahan)

Doa Persembahan ini dipanjatkan sehabis pengumpulan kolekte. Tujuan doa ini untuk mengucap syukur atas berkat-berkat Tuhan dan menyampaikan persembahan umat kepada Tuhan. Juga agar persembahan ini digunakan untuk pekerjaan Tuhan. Biasanya doa ini dipimpin oleh salah satu penatua.

Doa Konsistorium.

Selain doa-doa yang sudah dijelaskan di atas, ada juga yang disebut sebagai doa konsistorium. Sebelum ibadah dimulai, para penatalayan, berkumpul di konsistori, dipimpin oleh salah satu penatua menaikkan doa pembukaan, memohon agar Tuhan yang memimpin seluruh ibadah. Dan setelah ibadah selesai. Para penatalayan, berkumpul kembali di konsistori untuk mengadakan doa penutup, yang merupakan doa syukur atas pimpinan dan penyertaan Tuhan selama ibadah.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Semoga dengan penjelasan tentang fungsi dan makna doa dalam ibadah atau kebaktian kita, kita bisa lebih mengerti dan bersungguh-sungguh dalam berdoa serta lebih menghayati ibadah kita. Kita berharap melalui doa-doa yang kita panjatkan, kitaboleh menyapa dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Dan kita boleh menjadi gereja yang berdoa. Tuhan memberkati kita semua. AMIN.

Pertanyaan Pendalaman:

  1. Coba diskusikan apa arti atau hakekatnya ”Doa”?
  2. Apakah doa-doa kita selalu dijawab Tuhan? Jelaskan jawabannya.
  3. Sebutkan penting fungsi dan maknanya doa dalam ibadah minggu?
  4. Godaan atau hambatan apa saja yang dapat menganggu kehidupan doa kita?
  5. Langkah-langkah apa saja yang harus diambil untuk menjadikan kita sebagai ”gereja yang berdoa”?