Efesus 5:15 - 20

Apakah anda mengenal pepatah ini: ‘Apa yang diucapkan mulut, itu meluap dari hati’? Pepatah ini mengatakan bahwa orang sangat ingin berbicara panjang lebar tentang apa yang membuat dia antusias. Kalau anda antusias tentang makanan, maka anda bisa bicara berjam-jam tentang makanan. Kalau hati kamu cinta sepakbola, maka kamu tidak akan berhenti bicara sepakbola kalau sudah memulainya. ‘Apa yang diucapkan mulut, itu meluap dari hati’. Pepatah ini sesungguhnya berasal dari Alkitab (Lukas 6:45). Kalau anda antusias, anda ingin mengungkapkannya: apakah dengan kata-kata atau dengan nyanyian. Tiap minggu kita bernyanyi banyak lagu di dalam kebaktian. Sejarah bernyanyi di dalam kebaktian berawal dari kebaktian di gereja mula-mula. Salah satunya adalah bagian Alkitab yang kita baca hari ini. Dapatkah anda membayangkan: 20 abad lamanya nyanyian pujian bagi Allah berkumandang di segala penjuru dan tempat di dunia ini, di semua gereja dan bangunan tempat jemaat bertemu: di katedral megah, di gereja sederhana, dan bahkan di gereja bawah tanah. Bernyanyi di dalam ibadah tidak hanya berakar di dalam Perjanjian Baru, tetapi juga dapat kita temukan lebih jauh lagi di dalam Perjanjian Lama, di dalam ibadah di Bait Allah (Baca II Tawarikh 5:11-13). Perjanjian Lama juga berisi 150 lagu di dalam kitab Mazmur.
 
Mengapa kita bernyanyi di gereja? Kita bernyanyi di gereja bukan karena kita semua mempunyai hobi bernyanyi dan karena itu kita ingin memperdengarkan suara kita. Kita bernyanyi di gereja bukan untuk mengisi waktu. Kita bernyanyi di gereja bukan untuk mencari ‘variasi’. ‘Kalau tidak pendeta akan ngomong terus-terusan’. Kita bernyanyi di dalam ibadah untuk bersama-sama merayakan kehadiran Allah. Begitu banyak alasan yang bisa kita sebutkan mengapa kita memuji dan memuliakan Allah. Lebih dari sepuluhribu alasan, kata lagu yang tadi kita nyanyikan. Yang penting ialah biarlah kita menyanyi karena hati kita penuh dengan syukur karena kebesaran, kasih, dan kebaikan Allah di dalam AnakNya Yesus Kristus. Apa yang diucapkan mulut, itu meluap dari hati’.
 
Hal ini ditekankan rasul Paulus di dalam bacaan Alkitab kita. Kita diingatkan untuk tidak dipenuhi oleh minuman atau kecanduan lainnya, melainkan dipenuhi oleh Roh Kudus. Orang yang penuh dengan minuman keras memang bisa begitu saja menyanyi, tapi menyanyi dengan  bahasa orang mabuk. Mereka menyanyikan lagu-lagu minuman, dan bukan lagu-lagu pujian. Orang Kristen harus terus-menerus merindukan kehadiran dan pekerjaan Roh Kudus. Kalau kita penuh dengan Roh Kudus, maka itu akan dinyatakan di dalam: bernyanyi, bersyukur, dan bergaul yang baik dengan orang lain (baca juga Efesus 5:21-6:9 mengenai bergaul yang baik dengan orang lain) 
 
Tema gereja kita tahun ini adalah: Bersama-sama merayakan kehadiran Allah di dalam ibadah. Hari ini kita ingin merenungkan mengapa kita bernyanyi di dalam ibadah.
 
1. Kita bernyanyi di dalam ibadah, karena Allah layak menerima pujian dan penyembahan. 
Segala pujian adalah milik Tuhan. “Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah”. (Mazmur 96:4). “Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga” (Mazmur145:3). “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11).
Allah bertahta di dalam atmosfir puji-pujian anak-anakNya. Mazmur 22:4 (Mazmur 22:3 dalam Alkitab bahasa Belanda) mengatakan: “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel”. Nyanyian pujian umat adalah tahta kebesaran Allah. Kalau kita ingin menghampiri tahta Allah, yang perlu kita lakukan adalah memujiNya dengan segenap hati, pikiran, dan jiwa.
 
2. Kita bernyanyi di dalam ibadah, karena Allah ingin menguatkan iman kita.
Dengan memuji dan memuliakan Allah kita diingatkan akan kebesaranNya! Kita belajar melihat situasi hidup kita dari sudut pandang ‘kebesaran Allah’. Rasa kuatir akan terhalau kalau kita bernyanyi tentang pemeliharaan Allah. ‘♫ Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh; ku dibimbing tangan Tuhan …’ Rasa bersalah kita terhapus kalau kita menyanyikan tentang anugerah Tuhan Yesus. ‘♫ Amazing grace how sweet the sound..’. Kemurungan dan keraguan berganti menjadi kedamaian batin ketika kita menyanyikan kesetiaan Tuhan. ‘♫ Besar setiaMu, Allah Bapaku’. Jadi bernyanyi di dalam ibadah juga berguna bagi kita (juga untuk kesehatan kita).  
Selanjutnya Allah ingin mentransformasi kita dengan nyanyian atau musik di gereja, karena musik dapat menembus hati dan roh manusia. Kadang lebih dari yang kata-kata dapat lakukan. Ini mengingatkan saya akan apa yang dikatakan oleh bapa gereja Agustinus: ‘Siapa yang bernyanyi sama dengan berdoa dua kali!’. Bernyanyi dapat dialami sebagai bentuk doa secara intens. Kalau anda bernyanyi dengan sepenuh hati dan jiwa, anda sebenarnya mengungkapkan relasi yang intim dengan Bapa sorgawi dan pada saat yang bersamaan Allah mentransformasikan kita dengan memenuhi kita dengan RohNya. 
 
3. Kita bernyanyi di dalam ibadah, karena Allah ingin mempersekutukan kita satu sama lain sebagai saudara di dalam Kristus.
Orang berkata: ‘musik menjadi penghubung  manusia, musik mempersatukan’. Pernyataan ini memang benar. Lihat saja bagaimana orang banyak merasa menjadi satu ketika mereka bersama menyanyikan lagu kebangsaan pada waktu pertandingan sepakbola internasional. Lihat juga apa yang terjadi dalam paduan suara umum. Anggota-anggota mempunyai suara yang berbeda, berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakter yang berbeda, namun mereka menyanyi lagu yang sama, bersama-sama membentuk harmoni. 
 
Kalau kita bisa menyebutkan banyak contoh di luar gereja, lebih-lebih di dalam gereja ini harus terjadi. Bukankah kita di gereja percaya bahwa kita adalah saudara seiman dalam Kristus, sama-sama diselamatkan oleh darah Yesus Kristus yang sama? Kalau kita bernyanyi di dalam ibadah, Allah mempersekutukan kita satu sama lain sebagai satu keluarga besar Allah. Paulus mengatakan di ayat 19: ‘berkata-katalah seorang kepada yang lain …’ Bernyanyi di dalam ibadah kita lakukan bersama-sama. Bernyanyi bersama-sama di dalam ibadah adalah ungkapan bahwa kita satu di dalam Tuhan.
 
Dengan bernyanyi bersama di dalam ibadah kita saling membangun. Kita meneguhkan bahwa kita mempunyai ‘iman, pengharapan, kasih’ yang sama. Kita saling mendorong dengan lagu yang kita nyanyikan. Kita juga saling ‘menularkan’. Contohnya: kalau ada beberapa orang yang menyanyi dengan lambat tapi keras, maka semua jemaat akan mengikuti. Apalagi kalau pianistnya ikut melambat. Jadinya semua menyanyi semakin lambat dan semakin lambat. Seakan-akan kita saling mengatakan: ‘Silahkan atuh nyanyi dulu. Nanti saya menyusul dari belakang’. Syukurlah ini tidak terjadi di sini. Di sisi yang lain: kalau kita menyanyi dengan antusias, maka orang lain juga akan ikut menyanyi dengan antusias. Betapa indahnya kalau kita sebagai satu jemaat memuji dan memuliakan Allah dengan suara bersama.
 
Jadi bernyanyi di dalam ibadah memperkuat relasi kita dengan Tuhan, memperkuat iman kita, dan memperkuat persekutuan kita satu sama lain.
 
Pertanyaan berikut juga penting: Apa yang kita nyanyikan di dalam ibadah? Paulus mengatakan di ayat 19: ‘dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani’. Mazmur adalah 150 lagu yang ada di dalam kitab Mazmur. Kidung puji-pujian adalah lagu di Perjanjian Baru yang berpusat pada Yesus Kristus, Filipi 2:6-11 adalah contoh hymne/ kidung puji-pujian dari gereja mula-mula. Injil Lukas juga berisi lagu-lagu yang kemungkinan dinyanyikan dalam ibadah gereja mula-mula: nyanyian pujian Maria (Lukas 1:46-55), nyanyian pujian Zakharia (Lukas 1:68-79), dan nyanyian pujian Simeon (Lukas 2:29-32). Nyanyian rohani yang Paulus maksudkan adalah nyanyian yang secara spontan diinspirasikan oleh Roh Kudus. Ketiga jenis nyanyian ini mempunyai satu kesamaan, yaitu diinspirasikan oleh Roh dan sekaligus menjadi alat untuk orang percaya mengalami kepenuhan Roh Kudus. Ketiga jenis nyanyian ini dinyanyikan pada waktu itu di dalam pertemuan ibadah jemaat.    
 
Lagu-lagu yang Paulus sebutkan di sini dapat dengan sederhana kita kategorikan sebagai lagu lama dan lagu baru. Ini juga kita terapkan di jemaat kita. Kita menyanyi lagu lama dari Kidung Jemaat dan Nyanyikanlah Kidung Baru. Beberapa lagu berasal dari abad ke 20, beberapa dari abad ke 19 atau lebih awal lagi. Lagu lama adalah lagu yang banyak dikenal dan lagu yang akrab di telinga kita. Lagu-lagu ini dinyanyikan di sepanjang tahun dari generasi ke generasi berikut. Namun kita juga sekarang menyanyi lagu-lagu yang lebih baru dari Opwekkingsliederen atau Pelengkap Kidung Jemaat. Mazmur 96:1 menyerukan kepada kita:  
“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!”
Lagu-lagu baru menolong kita meninggalkan zona nyaman kita dan berpikir kembali tentang kasih dan kebaikan Tuhan dalam bahasa dan konteks ‘di sini dan sekarang’. Nyanyian baru mengingatkan kita bahwa Allah bukan hanya bekerja di masa lalu, tetapi Ia masih bekerja dalam hidup anak-anakNya di tahun 2016 ini. Allah bukan hanya bekerja di generasi masa lalu, tapi juga di generasi sekarang. Seperti Tuhan memberikan rahmatNya: selalu baru tiap pagi, demikian pula kita boleh memuji dan memuliakan Tuhan dengan cara yang baru (Bnd. Ratapan 3:23).
 
Baru-baru ini saya mendengar wawancara di radio dengan seorang penyanyi perempuan terkenal. Ia mengatakan bahwa ia mendapat berita luar biasa, karena ia diundang untuk bernyanyi untuk keluarga kerajaan. Penyanyi ini sangat antusias. Hatinya meluap-luap dan ia ingin terus menceritakannya. Sungguh suatu hak istimewa menyanyi untuk raja. Kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. ‘Seperti mimpi jadi kenyataan’, kata penyanyi itu. Ia sekarang memilih repertoar yang terbaik dan berlatih dengan sepenuh hati. 
Jemaat terkasih, apakah kita menyadari bahwa sebenarnya setiap Minggu kita boleh menyanyi di dalam ibadah untuk Raja di atas segala raja? Apakah kita sungguh merasakan kehormatan untuk melakukannya? Apakah kita bertanya secara pribadi: ‘Siapakah aku Tuhan sehingga aku boleh bernyanyi bagi Tuhan?’ Sungguh suatu hak istimewa. Allah tentu bisa saja mengutus malaikatnya ke dunia ini untuk bernyanyi bagiNya seperti pada waktu kelahiran Yesus. Namun Ia sekarang ingin mendengar nyanyian pujian dan penyembahan dari mulut kita, anak-anakNya. Oleh karena itu, marilah kita setiap kali kita bernyanyi di dalam ibadah kita menyanyi dengan sepenuh hati, dengan penuh syukur, dengan penuh passion. Kiranya kita sebagai jemaat terus bertumbuh di dalam bernyanyi di dalam ibadah, di mana kita bersama-sama merayakan kehadiran Allah. Amin.