Amstelveen, 14 September 2014

Pemb Alk: Ulangan 6:4-9
 
Sdr-sdr mengasihi & dikasihi Tuhan Yesus,
Dalam buku “Selamat menabur” diceritakan tentang seorang anak yang lari tergopoh-gopoh memohon pendetanya untuk datang ke rumah dan mendoakan yang sakit. Karena mendengar ada yang sakit, maka si pendeta dan anak itu segera pergi. Setibanya di tempat yang dituju, si pendeta agak kecewa sebab ternyata yang sakit itu bukan manusia tetapi seekor kucing.
Pendeta itu agak kesal dan merasa dipermainkan oleh anak kecil. Masa kucing sakit aja mesti panggil pendeta. Tetapi si pendeta tentu tidak ingin mengecewakan si anak. Apalagi dia diminta untuk mendoakan kucing kesayangannya. Oleh sebab itu, sang pendeta menghampiri si kucing yang sedang berbaring sakit, dan berdoa,”Hai kucing, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah. AMIN.
Setelah si pendeta selesai mendoakan kucing kesayangannya, si anak merasa senang sekali. Dan ternyata, rupanya doa sang pendeta itu “manjur”. Beberapa hari setelah didoakan, kucing kesayangannya si anak sembuh. Dan sebagai tanda terima kasih kepada si pendeta, anak itu membuat sebuah gambar yang bagus.
Ketika si anak pergi ke rumah si pendeta untuk memperlihatkan gambar hasil karyanya. Setibanya di rumah pendeta, ternyata rumahnya sepi dan sunyi. Si anak coba mengetuk pintu beberapa kali. Kemudian terdengar suara si pendeta yang agak lemah karena ia sedang sakit. Bertanyalah anak itu, “bolehkah saya masuk sebentar pak pendeta? Tentu saja, anakku silahkan masuk. Ini pak pendeta saya membawa sebuah gambar karya saya sendiri. Gambar ini untuk bapak pendeta sebagai ucapan terima kasih karena kucing saya telah sembuh berkat doa bapak. Si pendeta pun senang menerima gambar itu dan mengucapkan terima kasih. 
Namun sebelum pamit pulang, si anak bertanya, “pak pendeta bolehkah saya berdoa untuk Bapak yang sedang sakit? tanya si anak dengan polosnya. ” Oh tentu saja boleh, anakku”, jawab pdt itu. Maka dengan penuh kesungguhan berdoalah anak itu,”hai bapak pendeta, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah. Amin.” 
 
Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Cerita di atas tadi merupakan salah satu contoh untuk menunjukkan bahwa seorang anak itu adalah seorang yang cepat belajar (fast-learner) dan cepat meniru. Sebenarnya tiap anak memang mudah menyerap contoh dan cepat belajar dari contoh yang ia lihat. 
Sebagai orang tua, kita adalah contoh atau teladan bagi anak-anak kita. Tidak saja perkataan tetapi juga sikap dan perbuatan kita sehari-hari itu bisa diamati dan mudah ditiru oleh anak-anak. Teladan dari orang tua mempunyai daya yang kuat bagi anak-anak kecil.
Dan anak-anak butuh realita hidup sehari-hari dari kita sebagai orang tua. Anak-anak melihat siapa kita sebenarnya di dalam rumah.  Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati dalam berkata-kata maupun dalm bertindak supaya tidak memberi contoh atau teladan yang buruk kepada anak-anak kita.
 
Sdr-sdr, ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris,”A child is the father of a man” (seorang anak sebenarnya adalah bapaknya manusia) Maksudnya, bagaimana jadinya manusia nanti bergantung sekali dari kualitas kehidupan anak-anak sekarang. Ahli ilmu pendidikan mengatakan bahwa 5 tahun pertama dalam kehidupan anak adalah masa yang amat krusial karena 70-80 % pembentukan kepribadian anak ada di sana.
Oleh sebab itu, sdr-sdr, sangat penting pendidikan anak sejak dini yang nantinya akan menentukan masa depannya. Ams 22:6 yang kita baca tadi juga menekankan hal ini, dikatakan,” didiklah anak muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Sdr-sdr, ayat ini terkesan dan dapat ditafsirkan bahwa anak-anak dari orang tua kristen yang bijak, beriman dan berdedikasi tidak akan tersesat. 
Jadi seolah ada suatu jaminan ilahi bahwa seorang anak dapat diprogram oleh orang tuanya. Namun bukan itu yang dikatakan banyak pakar biblika tentang ayat ini. Kalau kita pelajari kitab Amsal secara keseluruhan maka dapat disimpulkan bahwa si penulis Amsal tidak pernah bermaksud mengatakan ayat itu menjadi janji Allah yang absolut, melainkan suatu kemungkinan besar jika anak itu dididik dengan benar maka pada masa tuanya ia tidak akan menyimpang. 
 
Sdr-sdr, sebagai orang tua yang hidup pada masa kini, tidak mudah untuk menjadi orang tua teladan bagi anak-anak kita. Ada begitu banyak tantangan. Pengaruh pergaulan dan lingkungan yg tidak baik di luar rumah begitu besar, belum lagi dampak negatif dari tontonan atau penanyangan di media elektronik yang juga ikut mempengaruhi perkembangan anak. 
 
Sdr-sdr yang mengasihi Tuhan Yesus,
Kita harus ingat bahwa anak itu adalah titipan Tuhan, bukan kita yang memilikinya tetapi kita dititipi dan dipercaya Tuhan untuk boleh menjadi orang tua bagi anak itu. Karena dititipin maka kita harus mempertanggung-jawabkan anak titipan Tuhan itu. Bukankah ini suatu kehormatan dari Allah kalau kita diberi kesempatan untuk mendidik, mengasuh dan membesarkan anak titipan Tuhan yang percayakan kepada kita?
 
Sdr-sdr, memang menjadi orang tua barangkali kita sering dibuat pusing dan frustrasi oleh anak-anak kita? Tidak sedikit orang tua yang merasa stress ketika menghadapi atau membesarkan anak. Akan tetapi kalau menyadari bahwa anak itu titipan Tuhan maka kita sebagai orang tua harus melihat dan belajar dari  “buku manual”nya dari sang pemilik yakni Tuhan Allah.Kita harus mendidik, mengasuh, membimbing sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki bukan apa yang kita sebagai orang tua kehendaki. 
 
Sdr-sdr yg dikasihi & mengasihi Tuhan Yesus,
Kita bersyukur kalau regio AM tahun ini boleh kembali mengadakan “bulan keluarga”. Khususnya tema hari ini, mengingatkan kita sebagai orang tua akan tanggung-jawab kita untuk pendidikan iman anak-anak kita. Dari perikop Ulangan 6:4-9, kita bisa belajar beberapa tentang tanggung-jawab kita sebagai orang-tua: 
 
1. Sebelum mengajarkan prinsip-prinsip kepada anak-anak, prinsip-prinsip itu harus tertanam dulu di dalam hati para orang tua (teladan hidup). Kita tidak mungkin menjadi teladan bagi anak-anak tanpa mengikutsertakan Allah. Ada sebuah buku yang berjudul,”Making God reals to your children” (menjadikan Allah nyata bagi anak-anak kita). Dalam buku itu dikatakan bahwa,”kita tidak mungkin memberi sesuatu yang tidak kita punyai” dan “tidak mungkin menjadikan Tuhan nyata di dalam kehidupan anak-anak kita kecuali Tuhan juga nyata di dalam kehidupan kita”.
Bagaimana kita mampu mengisi anak-anak kita dengan nilai-nilai kebenaran kristiani sejati kalau kita sendiri tidak disinari dan diisi oleh kebenaran itu. Kalau kita mau anak-anak kita patuh dan taat pada kita maka kita harus memberi teladan kepada mereka bahwa kita sebagai orang tua, dekat, patuh dan taat kepada Tuhan. 
Hanya kalau kita mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati maka kita dimampukan untuk mengasihi dan memiliki hati serta menjadi teladan bagi anak-anak kita. Berlakukan kasih dan ikut sertakan Tuhan dalam perjalanan dan pergumulan kehidupan rumahtangga kita, sehingga anak-anak boleh mengalami kehadiran Tuhan yang nyata melalui hidup dan teladan kita.  
 
2. Memperkenalkan dan mengsharingkan apa yang terpenting kepada anak-anak kita. Dari ayat 4, kita belajar bahwa sangat penting sekali suatu pengakuan atau syema yang berbunyi, “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! (4) untuk didengarkan kepada anak-anak keluarga Israel. Mereka diajarkan terus dan berulang-ulang hanya menyembah pada Tuhan Allah bukan pada allah-allah lain. Tuhan Allah sangat penting bagi kehidupan mereka. 
Sebagai orang tua, tentu kita ingin memberi yang terbaik untuk anak-anak kita agar mereka dapat berhasil dalam hidup ini. Kalau kita percaya dan menyakini bahwa Tuhan Yesus adalah yang terpenting dan berharga  dalam kehidupan kita. Mengapa kita tidak memperkenalkan dan mengsharingkan Yesus kepada anak-anak kita? Supaya mereka juga tahu apa yang paling penting dan berharga dalam hidup ini. Tugas inilah yang seharusnya menjadi prioritas kita sebagai orang tua Kristen kepada anak-anak kita.
 
3. Menjalin relasi lebih penting dari peraturan. Dalam ayat 5 dikatakan  “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Kita sebagai orangtua sudah terbiasa memberlakukan banyak peraturan dan larangan dalam rumah kepada anak-anak kita: Kamu tidak boleh ini  atau kamu jangan itu.  Suatu peraturan atau larangan tentu baik tujuannya tetapi tidak mengubah sebuah hati. Relasi atau hubungan yang berdasarkan kasih Allah dapat mengubah hati dan memotivasi seseorang. Kasih Allah dapat membuat seseorang melakukan apa yang tidak dapat dipaksakan oleh hukum. Kuasa Kasih itu luar biasa. 
 
Pernah ada suatu survey yang dilakukan oleh para dosen sosiolog di Amerika Serikat, terhadap 200 anak muda yang hidup di perkampungan kumuh dan miskin di Baltimore. Hidup mereka sangat sulit dan susah. Ternyata setelah 25 tahun, sebagian besar anak-anak tersebut yakni 176 orang berhasil di dalam hidup mereka. Ada yang menjadi dokter, pengacara, pengusaha dan seterusnya.  Kunci keberhasilannya: mereka dibimbing dan dididik oleh guru-guru mereka yang memiliki hati yang penuh kasih sayang terhadap murid-murid mereka. 
 
Sdr-sdr yang Tuhan Yesus kasihi,
Mari kita sebagai orang tua atau generasi yang lebih tua, kita terpanggil untuk memberi contoh atau teladan kepada anak-anak atau generasi muda bukan dengan peraturan atau larangan tetapi dengan menjalin relasi atau hubungan yang penuh cinta kasih. Agar mereka melihat dan mengalami sendiri kasih Allah itu nyata melalui kesaksian hidup kita sehari-hari sebagai orang tua kristen. Tuhan memberkati kita semua. AMIN.