7 SEPTEMBER 2014, Gezinsmaand - HEILIGE GEESTKERK di Amstelveen

Schriftlezing: Marcus 10:13-16
10:13. Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." 10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.
 
Wees als de kinderen.
(Esther Verdam)
Geen twijfel in hun ogen,
Geen bedrog in hun lach,
onvoorwaardelijke liefde
Die Ik van hen ontvangen mag.
 
Geen discussie over Mijn woord
Zij drinken het als levend water
Om te groeien in hun geloof
Geen zorgen nog voor later
 
Onuitputtende energie
Om dichtbij Mij te komen
Geen voorbedachte woordjes
Maar uitgesproken dromen
 
Geen schaamte, geen angst
Ze voelen zich vrij
Om liedjes te zingen
en te vertellen over Mij
 
Wees als de kinderen,
Kijk naar hen en leer
Niets kan hen verhinderen
Om te komen bij de Heer
 
Jemaat yang terkasih,
Puisi di atas ingin mengajak kita untuk menggunakan kaca mata Tuhan Yesus guna melihat anak-anak dan menyarankan kita untuk “menjadi” seperti anak-anak. Tentu saja bukan maksudnya untuk mengajak kita menjadi kekanak-kanakan namun untuk mempunyai iman yang senantiasa diwarnai oleh jiwa yang takjub akan setiap karya Tuhan dalam kehidupannya. Iman yang bagaimana itu? Yaitu iman yang tidak ragu-ragu, tulus, iman selalu terinspirasi oleh Firman Allah, iman yang hidup untuk hari ini dan tidak takut akan masa depan, iman yang selalu aktif mencari Allah dan jujur akan setiap mimpi yang dimilikinya, iman yang dewasa, percaya diri dan iman yang bersaksi. Esther Verdam, sang penulis puisi, membaca Markus 10:13-16 dan menuangkan renungan dan tafsiran dari ayat ini melalui puisi yang baru saja kita dengar tadi. Indah bukan? Akan indah sekali jika kita bisa memiliki iman yang seperti itu. Mungkinkah itu?
 
Saudara-saudara, saya senang jika dalam gereja kita semua generasi terwakili: anak-anak, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa dan lanjut usia. Semuanya ada di sini. Sama seperti dalam sebuah keluarga. 
Saya juga sangat senang sekali jika melihat banyak anak-anak datang ke Gereja bersama dengan orang tua mereka. Di Indonesia mereka bisa datang dalam jumlah ratusan. Untuk menampung dan mengajar mereka maka banyak Gereja di Indonesia yang diharuskan membangun gedung terpisah untuk keperluan Sekolah Minggu. Di Belanda jumlah anak lebih sedikit namun Sekolah Minggu harus tetap ada sebagai bagian tugas Gereja untuk menunaikan Pendidikan Agama Kristen bagi umatnya. 
 
Pengabdian para pembina Sekolah Minggu tentu saja tidak kecil maknanya. Mereka menunaikan tugas untuk menyemaikan benih-benih Firman Tuhan dalam hati anak-anak kita. Oleh karena itu pembinaan, pengarahan, dan pendampingan yang tepat akan membuahkan hasil anak-anak yang peka akan Firman Tuhan. 
Bagaimanakah kita melihat anak-anak kita? Apa yang mereka rasakan saat mereka datang ke Gereja? Apakah mereka senang, antusias, berbinar-binar matanya ataukah mereka takut, malu, malas dan tertekan kalau harus datang ke Gereja dan pergi ke Sekolah Minggu? 
 
Sudahkah anak-anak kita merasa nyaman saat mereka masuk ke pintu Gereja kita? Bagaimakah caranya agar mereka bisa merasa “at home” di Gereja kita ini? Mereka bukanlah “obyek pelengkap penderita” dalam Gereja kita. Mereka adalah elemen penting dalam kehidupan Gereja kita. Sama seperti para pendeta, majelis jemaat, pengurus komisi dan jemaat maupun simpatisan, anak-anak harus juga kita perlakukan sebagai subyek yang tanpanya kehidupan Gereja akan timpang. Mengapa demikian? Karena keberlajutan Gereja kita di masa yang akan datang terletak pada pundak mereka. Merekalah yang akan meneruskan tongkat estafet kehidupan berjemaat Gereja kita. Jumlah anak-anak tentu saja penting namun yang lebih penting adalah bagaimana, melalui Sekolah Minggu, kita bisa mempersiapkan anak-anak kita untuk peka akan Firman Allah. Mengapa kepekaan akan Firman Allah ini penting? Karena jika mereka peka, maka mereka bisa membaca konteks hidup mereka dengan jelas, lalu bisa memahaminya dalam terang Firman Allah dan selanjutnya mereka bisa mengambil langkah yang tepat dalam hidup mereka).  
 
Jemaat yang terkasih,
Oleh karena itu tidak cukup rasanya untuk melihat bagian Injil kita hari ini hanya secara simbolis. Puisi yang saya bacakan tadi adalah contoh pemahaman simbolis dari Injil Markus 10:13-16. Tidak salah memang, namun jika kita hanya terpaku pada pemahaman simbolis ini maka kita hanya akan berpusat pada diri kita sendiri, yaitu jemaat dewasa dari Gereja ini. Sedangkan secara harfiah sudah dijelaskan bahwa pusat dari Injil ini adalah pengajaran Kristus dan anak-anak. Atau lebih tepatnya lagi ajaran Kristus tentang tempat anak-anak dalam Gereja. 
Bagaimanakah ajaran Kristus ini?
 
Kita perlu memahami konteks yang menjadi latar belakang peristiwa antara Kristus, para muridNya dan anak-anak ini. Konteks dari bagian Injil ini ialah pemberitahuan Kristus kepada para muridNya tentang penderitaan yang harus Dia lalui dalam waktu dekat (Markus 9:31-32). Sebelumnya kehadiran anak-anak dalam bagian ini pernah dipahami terkait dengan karakter-karakter psikologis mereka di saat-saat awal menerima Firman Allah. Namun kemudian pemahaman ini berubah hanya terfokus kepada anak-anak yang dalam konteks abad-abad pertama masehi menempati urutan sosial yang rendah. Namun perkembangan terbaru dari penafsiran tekst ini menyarakan beberapa hal yang sangat menarik untuk kita simak. 
 
Seorang ahli tafsir bernama James Bailey menyebut nama Ched Myers (teolog) dan menguraikan pendapatnya tentang tafsir bagian ini. Myers tidak setuju dengan pemahaman bahwa bagian Injil ini hanya berbicara tentang anak-anak dan melupakan keberadaan kaum terpinggir lainnya yang saat itu ada dan tidak disebutkan secara harfiah. Myers menyimpulkan:
1. Perkataan Yesus dalam Markus 10: 15 tidak secara langsung menunjuk hanya kepada anak kecil tertentu.
2. Jika dilihat dalam konteks masyarakat saat itu maka kata-kata “Anak-anak kecil” yang disebutkan dalam Mk. 9:36-37 dan Mk. 10:13-16 lebih mewakili kelompok-kelompok anggota masyarakat yang terpinggirkan, tidak diakui keberadaannya dan terkuasai. Mereka misalnya adalah: para wanita, kaum miskin dan mereka yang dianggap najis/tidak bersih. 
3. Dalam tatanan masyarakat yang demikian, anak-anak berada dalam strata sosial yang paling rendah.
4. Karena anak-anak itu lemah, rapuh dan tergantung sepenuhnya kepada orang dewasa maka dengan sendirinya mereka mudah dikuasai dan mudah dieksploitasi. 
5. Setelah melihat itu semua selanjutnya Tuhan Yesus mengundang para muridNya untuk masuk ke dalam realitas  baru kehidupan dalam sebuah komunitas dan keluarga. Realitas baru ini mengajarkan para muridnya untuk memusatkan perhatian mereka kepada mereka yang “paling kecil” ini dan menjadikannya sebagai karakter utama jati diri mereka sebagai murid Kristus.
6. Ini artinya ialah para murid Kristus harus menyambut mereka yang terpinggirkan ini sebagai apa adanya mereka, serta menjadikan mereka sebagai bagian dari keluarga spiritual mereka. Sama seperti Kristus yang merangkul dan memberkati (menumpangkan tanganNya) ke atas anak-anak ini.
 
Jemaat yang terkasih,
Injil kita hari ini diakhiri dengan tindakan Yesus yang memeluk dan memberkati anak-anak: “Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka”.(Mk. 10:16). Tindakan Kristus ini mengungkapkan dinamika dari Kerajaan Allah yang sedang diberitakanNya dan bisa dimaknai sebagai berikut:
1. Tindakan Kristus yang menyambut dan memberkati anak-anak dipahami sebagai personifikasi dari Kasih Allah yang menyambut mereka yang tertindas dan terpinggirkan.
2. Kisah ini mengundang kita, para pembaca, untuk melihat Kerajaan Allah baik sebagai sebuah anugerah dan juga sebagai tugas panggilan. Maksudnya bagaimana ini?
 
a. “Menerima Kerajaan Allah laksana seorang anak kecil” menunjuk kepada Kristus yang dengan tulus menyambut dan memberkati kita manusia yang lemah dan rapuh, sebagaimana layaknya kita memahami dan menerima diri kita seperti seorang anak kecil. Itulah anugerah yang dimaksudkan di sini. Kristuslah yang telah menyambut kita dalam kerajaanNya apa adanya dan itu bukan karena kualitas pribadi kita semata. 
b. Di sisi lain realitas baru ini juga menuntut aksi positif dari kita. Dengan menyambut mereka yang lemah dan terpinggirkan, seperti yang disebutkan oleh Myers di atas, maka sebenarnya kita juga sedang menyambut Kristus, Allah dan KerajaanNya. 
 
Jemaat yang terkasih,
Bulan ini kita mengadakan acara bulan keluarga. Acara ini adalah dari, oleh dan untuk kita semua tanpa terkecuali. Kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang tidak terpisahkan satu dengan lainnya. Anak-anak kita adalah bagian yang terpisahkan dalam Tubuh Kristus yang adalah Gereja kita ini. Tanpa kehadiran mereka maka Tubuh Kristus tidaklah utuh. 
Lalu setelah mempelajari Injil kita hari ini, apa kira-kira yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita merasa nyaman datang ke Gereja kita, antusias untuk terlibat dalam acara KND dan peka terhadap Firman Tuhan? Kira-kira bagaimana caranya agar anak-anak kita bisa dengan leluasa menyebut Allah sebagai Bapanya dan menyebut Gereja sebagai rumah mereka? Pesan Injil yang bisa menjadi kunci dari harapan kita adalah: penyambutan dan pengakuan kita akan keberadaan mereka sebagaimana mereka apa adanya. 
 
Baik sebagai Gereja maupun keluarga kita perlu melihat kehadiran anak-anak sebagai anugerah yang menuntut keterlibatan aktif kita untuk menunaikan tugas panggilan kita sebagai Gereja untuk mendidik mereka. Namun tugas Pendidikan Ajaran Injil ini tidak bisa tuntas sepenuhnya jika orang tua tidak ikut serta terlibat di dalamnya. Sebagian orang tua berkata bahwa tanggung jawab pendidikan ajaran Injil adalah tugas Gereja, …ini tidak sepenuhnya betul. Karena sebagian tugas ini dibebankan pada pundak Gereja dan sebagian lagi dibebankan ke pundak orang tua. 
Contohnya bagaimana itu? Contoh klasiknya adalah sbb: kalau tadi siang saat di KND mereka diajarkan untuk jujur namun sore/malam hari saat mereka sampai di rumah dan kebetulan ada telpon berdering kita (orang tua) minta tolong ke anak kita untuk menjawab telpon tersebut dan bilang ke penelepon kalau Mama sedang tidak di rumah,….padahal jelas-jelas Mama sedang duduk 5 meter dari telpon dan sedang urut-urut kaki. 
Sebagai orang tua, bertindaklah secara bijaksana, karena anak-anak meniru semua apa yang kita lakukan karena mereka menganggapnya sebagai yang benar, sah dan yang seharusnya demikian. Anak-anak adalah cerminan dari bagaimana orang tua mereka mendidiknya. Oleh karena itu gunakanlah waktu-waktu bersama Anda sebagai keluarga dan ajarkanlah sebanyak mungkin tentang kasih Kristiani yang kita coba hayati dalam hidup kita. 
 
Wariskanlah kepada anak-anak kita, baik di Gereja maupun di rumah masing-masing, harta warisan rohani yang tidak bisa rusak dimakan ngengat atau lekang karena hujan, matahari dan cuaca buruk. Di dalam Gereja (terutama Gereja-gereja berlatar belakang Indonesia) banyak sekali gosip yang simpang siur ke sana ke mari tanpa kita peduli bahwa ada anak-anak yang mungkin sedang mendengarkan kita. Jika warisan gosip yang berisi kebencian, kemarahan, iri hati dan kecurangan lainnya yang ingin kita wariskan ke anak-anak kita maka jangan heran jika Gereja kita tidak akan berumur panjang. 
Sediakan waktu yang cukup untuk dengan cermat menyusun program KND yang melibatkan tidak hanya anak-anak saja namun juga partisipasi orang tua di dalamnya. Agar orang tuapun juga bisa memahami dan ikut serta terpanggil untuk melakukan pelayanan pekabaran Injil ke anak-anak kita, baik di Gereja maupun dalam lingkungan keluarga kita masing-masing. 
Kiranya Bulan Keluarga kali ini bisa menjadi berkat bagi anak-anak, orang tua dan kita sebagai Gereja yang adalah Tubuh Kristus. Semoga Tuhan memberkati semua rangkaian acara di bulan keluarga ini dan juga berkat Tuhan terlimpah mereka semua yang terlibat di dalamnya.
 
Akhir kata, sambutlah Kerajaan Allah yang sedang datang dalam diri anak-anak kecil dan juga mereka yang terpinggirkan dalam masyarakat kita. 
Tuhan memberkati pelayanan kita bersama. Amin.