Schriftlezingen : II Tawarikh 7:11-16, Matius 6: 5-13
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Apakah yang menjadi salah satu dari ciri khas dan cara hidup jemaat mula-mula? Setelah Kristus dibangkitkan dan diangkat ke surga oleh Allah Bapa, jemaat mula-mula selalu bertemu dan berdoa bersama (Kis. 2:42-47). Doa mereka adalah doa-doa pribadi yang menyatu dalam sebuah doa bersama kepada Tuhan. Dengan demikian doa mereka menjadi doa umat/jemaat.
Demikian pentingnya doa-doa pribadi ini sehingga sangat aneh sekali jika kemudian ada jemaat yang saat diminta untuk berdoa menjawab, “Mohon maaf, Pak…., tapi saya tidak dapat berdoa” atau “Ah,…Pak Pendeta saja yang berdoa, saya tidak bisa berdoa secara spontan” ada yang lain menjawab “Saya belum siap!” atau “Maaf, saya lagi sakit gigi, Pak!” ….pokoknya ada saja alasannya. Nah,…ini kan aneh! 
Jika doa kita ibaratkan sebagai nafas hidup kita sebagai orang Kristen maka kan aneh sekali jika kita menjawab, “Saya tidak dapat berdoa, Pak Pendeta!” itu kan artinya sama saja dengan mengatakan “Saya tidak dapat bernafas, Pak Pendeta!”….Lho, ini kan bahaya kalau pribadi dalam jemaat kita tidak dapat bernafas secara rohani. 
Perlu disiapkan pertolongan pertama bagi jemaat yang tidak dapat berdoa. Betul atau tidak? Mari kita lihat apa saja isi kotak pertolongan pertama ini:
 
PERTOLONGAN PERTAMA: Jika kita berani menyebut Allah sebagai Bapa kita, maka doa adalah alat komunikasi kita dengan Allah. Kata-kata bisa kita pelajari sambil terus berlatih, namun ketahuilah bahwa kata-kata bukanlah hal terpenting yang membuat doa kita akan didengarkan oleh Allah. 
Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “…dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Mat. 6:7). 
Jika kita sadar bahwa kita tidak bisa berkata-kata yang indah dalam berdoa, maka yang saudara perlu lakukan ialah berdoa dengan kata-kata sederhana yang saudara bisa ucapkan sendiri dengan nyaman. Berdoa itu adalah ungkapan hati pribadi kita kepada Tuhan. Jika hati kita tidak merasa nyaman, maka berhentilah dan mulai lagi dari awal. 
 
PERTOLONGAN KEDUA: Apa yang seharusnya terjadi sebelum dan sesudah berdoa? Ternyata sebelum berdoa Tuhan menghendaki pertobatan hidup. 
Sebagaimana yang disampaikan Tuhan kepada Salomo dalam sebuah penampakan, “Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (II Taw. 7:13-14). 
Latar belakang sejarahnya sebagai berikut: kitab ini ditulis kira-kira tahun 430 SM dan mencakup sebagian besar kejadian yang terjadi antara masa pemerintahan Salomo (970 SM) dan awal dari masa pembuangan di Babilonia (586 SM). Tema-tema utama dari II Tawarikh ini adalah: Bait Allah, kedamaian, doa, pertobatan, dan keruntuhan Israel oleh kerajaan Babilonia. 
Setelah kematian Salomo, kerajaan Daud terpecah. Jika ada seorang raja yang membawa bangsanya ke penyembahan berhala maka seluruh umat akan menderita. Namun jika Sang Raja dan umatnya berdoa meminta keselamatan dari Tuhan dan bertobat dari jalannya yang salah maka Tuhan akan membebaskan mereka. 
 
Apa isi dari pertobatan hidup ini: 
a. Merendahkan diri kita dihadapan Tuhan sebagai pengakuan bahwa kitalah umat ciptaan Tuhan yang tidak bisa luput dari dosa dan oleh karena itu kita ingin memasrahkan dosa dan pelanggaran kita kepada Allah; 
b. Berdoa dan mencari wajah Tuhan sebagai wujud peziarahan iman kita untuk mencari wajah Tuhan yang penuh belas kasih. Berdoa membutuhkan ketekunan dan untuk itulah kita juga dengan tekun memohon pengampunan kepadaNya; 
c. Berbalik dari jalan-jalannya yang jahat menuntut sebuah pengorbanan dan hati yang lapang untuk kembali berjalan di dalam pengampunan Allah. Jika kita sudah diampuni oleh Allah maka kitapun diminta untuk mengampuni sesama kita. Inilah buah dari doa kita, yaitu bahwa kita bisa mengampuni mereka yang telah menjahati hidup kita.
Inilah yang seharusnya terjadi sebelum dan sesudah doa: memasrahkan dosa dan pelanggaran kita pada Allah   menemukan wajah Tuhan yang penuh belas kasih dan mohon pengampunan dariNya  berjalan dalam jalan pengampunan Allah dengan cara mengampuni sesama yang telah menjahati kita. 
Jika sebelum berdoa kita tidak bisa mengampuni, maka setelah berdoa dan mengatakan “Amin” maka kita seharusnya bisa mengampuni orang lain. Jika tidak demikian, maka kita perlu mulai lagi dari awal hingga akhirnya buah pengampunan itu bisa kita hasilkan.
 
PERTOLONGAN KETIGA: Sekumpulan anak bebek mengikuti induknya menuju sungai. Sang Induk langsung terjun ke sungai dan berenang. Anak-anaknya masih takut dan ragu-ragu. Namun kemudian akhirnya mereka memberanikan diri untuk terjun dan di sana mereka baru sadar kalau ternyata mereka bisa juga berenang. 
Nah, demikian pula dengan kita,…jika kita sendiri merasa tidak/belum mampu berdoa maka jangan jauhkan diri kita dari kumpulan-kumpulan doa yang diadakan di Gereja kita. Datang, terjun dan libatkanlah diri Anda dalam persekutuan-persekutuan doa, pemahaman Alkitab, katekisasi, dll agar bersama-sama kita belajar bagaimana berdoa. Sebab dalam persekutuan di Gereja-lah Tuhan mendengarkan doa kita. 
Sebagaimana yang telah dikatakan Allah kepada Salomo, “Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.” (II Taw. 7: 15-16)
Jika kita melakukannya maka kita sebenarnya sedang menghayati apa itu artinya menjadi jemaat yang menanti-nantikan kedatangan Tuhan.  Yaitu sebagai jemaat yang bersekutu dalam pertemuan-pertemuan ibadah, bertekun untuk saling memberikan nasihat yang membangun dan semakin giat melakukan semuanya itu sebagai wujud persiapan kita menyambut Tuhan. (baca Ibr. 10:25)  
 
PERTOLONGAN KEEMPAT: Jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa maka ketahuilah bahwa Tuhan Yesus-lah yang menjadi Guru Doa kita. Datanglah padaNya dan minta Dia untuk mengajarkan kepada kita “Doa Bapa Kami.” Mulailah dengan menghapalkan doa ini di luar kepala. Jika sudah lancar gunakanlah doa ini sebagai doa penutup dari semua doa umat atau doa-doa pribadi kita. 
Doa Bapa Kami sudah mencakup kelengkapan sebuah doa: a) Memuliakan Allah; b) mendoakan karya Allah di dunia ini; c) mendoakan kebutuhan-kebutuhan harian kita; d) memohon pertolongan Tuhan dalam setiap pergumulan pribadi kita hari demi hari. Oleh karena itu ajarkan dan berdoalah bersama-sama dengan putra-putri Anda doa Bapa Kami setiap hari, paling tidak satu kali sehari. 
Doa hafalan dan doa spontan saling melengkapi satu sama lain. Sebagian orang berpikir bahwa jika kita terus mengulang-ulang doa dengan kata-kata yang sama (dalam tradisi Kristen cara ini disebut dengan “pendarasan”) maka Tuhan akan mendengarkannya. 
 
Tidak ada salahnya untuk mengulang-ulang doa dengan menggunakan kata-kata yang sama. Melalui doa Bapa Kami Tuhan Yesus sebenarnya menganjurkan bentuk doa seperti ini. Namun yang tidak dikehendaki oleh Tuhan Yesus adalah pengulangan kata-kata doa yang dilakukan tanpa adanya mulut dan hati yang tulus untuk mengucapkannya. 
Kita tidak akan pernah berlebihan dalam berdoa jika kita dengan sungguh-sungguh dan tulus dalam mengucapkan doa itu. Oleh karena itu periksa hati dan mulut kita sebelum kita berdoa, apakah saya betul-betul sungguh-sungguh tulus mengimani apa yang saya katakan dalam doa saya?
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Perlu juga untuk dilihat apa saja kira-kira kendala/masalah yang membuat kita tidak bisa berdoa:
1. Bagaimana gambar Tuhan bagi kita pribadi? Siapakah Tuhan itu bagi kita?
2. Bagaimana relasi kita (sebagai anak-anak Allah) dengan sang Bapa?
3. Pengalaman buruk dengan bapak duniawi mempengaruhi pengalaman pribadi dengan Bapa Sorgawi. 
 
Demikianlah isi dari kotak pertolongan pertama bagi jemaat yang tidak/belum bisa berdoa. Kita semua memerlukannya, oleh karena itu simpanlah dengan baik kotak ini, siapa tahu suatu ketika nanti Anda akan memerlukannya. Baik untuk keperluan pribadi maupun dalam sebuah persekutuan. 
Sekali lagi saya ingatkan bahwa dalam sebuah doa, paling tidak diharapkan adanya unsur-unsur berikut: pemuliaan (Aanbidding); pengakuan (Belijdenis); pengucapan syukur (Dankzegging); permohonan (Smeking).
Hal yang terakhir yang ingin saya sampaikan ialah bahwa doa adalah pilar dari sebuah Gereja yang hidup. Doa adalah nafas iman orang Kristen dan nafas dari persekutuan jemaat Tuhan. Berdoa adalah sebuah kata kerja, ada unsur karya nyata dalam sebuah doa. Maka Gereja yang berdoa adalah Gereja yang mempunyai karya nyata sebagai buah dari kehidupan doanya. Lalu pertanyaannya sekarang: Apa saja kira-kira karya nyata dari kehidupan doa kita sebagai Gereja?
Marilah kita merenungkan pertanyaan ini dalam saat teduh dan marilah kita minta pertolongan dari Tuhan untuk dimampukan untuk semakin giat menghasilkan karya nyata dari kehidupan doa kita sebagai Gereja.
Tuhan memberkati kita sekalian. Amin. 
 
PERTANYAAN PENDALAMAN:
1. Jika pengampunan adalah buah dari sebuah doa, kira-kira sudah matangkah buah itu dalam hidup saya?
2. Kira-kira kepada siapakah nantinya buah pengampunan itu akan saya bagikan?
3. Apakah Gereja kita telah menjadi Gereja yang berdoa?
4. Apa saja kira-kira karya nyata dari kehidupan doa kita sebagai Gereja