Den Haag 25 mei 2014
Pembacaan alkitab: Nehemia 9:1-3
 
Sdr-sdr yang Tuhan Yesus kasihi,
Ada yang sudah pernah mengunjungi “The Great Wall” di China? Mari kita lihat beberapa fotonya. Tembok ini sengaja dibangun sebagai perlindungan terhadap komplotan orang-orang Mongol yang biadab. Tembok besar ini mempunyai panjang 2400 km, tebal 4-13 m dan tinggi 7-16 m. Jadi tembok ini bagi para musuh, terlalu tinggi untuk dipanjat, terlalu tebal untuk dirubuhkan dan terlalu jauh untuk pergi mengelilinginya.
Namun ada fakta yang menarik. Dalam 100 tahun pertama keberadaan Tembok Besar ini, ternyata Tiongkok berhasil diserang 3 x. Musuh berhasil masuk, bukan karena merubuhkan Tembok Besar itu. Tetapi setiap kali musuh berhasil masuk dengan cara menyuap atau menyogok para penjaga pintu dari Tembok Besar tersebut. Pemerintah mengeluarkan terlalu banyak uang hanya untuk pembangunan tembok itu dan terlalu sedikit uang untuk pembentukan karakter para penjaga pintunya. 
 
Sdr-sdr, untuk pembangunan suatu bangsa, tidak cukup kalau hanya dilakukan pembangunan gedung atau sarana-prasarananya (infra-structur). Namun yang terpenting dan terutama adalah  “pembangunan karakter orang atau manusianya”.Demikian juga dengan keberadaan kita sebagai gereja Tuhan. Yang penting bukan pembangunan gedung gerejanya, tetapi pembangunan orang-orangnya. Apakah anggota jemaatnya bertumbuh di dalam iman? Mereka semakin hari semakin dewasa di dalam iman.Apakah karakter mereka semakin menyerupai karakter Kristus?. 
Kalau kita perhatikan perikop kita, hal ini juga disadari oleh Nehemia. Dia memimpin pembangunan kembali bangsa Israel. Setelah selesai dengan pembangunan kembali tembok-tembok Yerusalem (Neh 6), Nehemia melanjutkan dengan pembangunan atau pembaharuan orang-orang Israel.
 
Mari kita ikuti proses pembangunan atau pembaharuan bangsa Israel yang dilakukan oleh Nehemia. Dikatakan dalam ayat 1-3, “…berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala.” “...mereka berdiri di tempatnya dan mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek-moyang mereka.” Setelah itu mereka mendengarkan pembacaan kitab Taurat Tuhan. Namun, sebelum mereka mengaku dosa dan berdoa, mereka terlebih dahulu mendengarkan kitab Taurat Tuhan.Lalu sebagai respon atas pembacaan Taurat Tuhan, mereka mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada Tuhan, Allah mereka.
 
Jadi pengakuan dosa mereka adalah sebagai respon dari teguran yang mereka dengar dari Firman Tuhan. Mereka tidak mengeraskan hati tetapi mereka sungguh-sungguh menerima kebenaran Firman Tuhan. Bangsa Israel pada waktu itu, mau belajar dari nenek-moyang mereka, yang dikatakan dalam ayat 16, telah bertindak angkuh...dan tidak patuh pada perintah-perintah Allah. Mereka sekarang tidak mengeraskan hati tetapi menyadari dosa-dosa mereka dan mengucapkan pengakuan dosa kepada Allah.
 
Sdr-sdr, dalam prakteknya, tidaklah mudah untuk mengaku dosa atau kesalahan kita. Paling tidak ada 2 penyebabnya:
1. Mereka tidak mau mengakui dosa mereka karena mereka mengeraskan hati. Walaupun Firman Tuhan sudah menegur tetapi mereka tetap tidak mau mendengarkan dan bertobat.
2. Mereka tidak lagi peka dan menyadari apa yang mereka lakukan itu salah.Kita tahu dan juga barangkali pernah mengalami ada orang-orang yang selalu merasa “benar” dan tidak perlu mengaku dosa. Padahal kita tahu bahwa perkataan dan tindakan mereka tidak benar. Tetapi sebaliknya dengan cepat mereka melihat kesalahan dan menyalahkan orang lain.
 
Oleh sebab itu, seperti juga umat Israel pada zaman Nehemia, kita perlu mendengar kebenaran Firman Tuhan. Mengapa? Kita perlu ditegur oleh Firman Tuhan supaya kita menyadari kekurangan dan kelemahan kita. Dan kita mengaku dosa dan kesalahan kita di hadapan Allah. Inilah keunikan dari kekristenan! Sebagai orang-orang kristen, kita menyadari bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan membutuhkan juruselamat dalam hidup kita.  
 
Sdr-sdr, namun dalam prakteknya, mengaku dosa dengan sepenuh hati kita, tidak mudah. Paling tidak, ada 3 hal yang sering kita anggap sebagai pengakuan padahal bukan pengakuan yang benar:
1. Pengakuan yang benar bukanlah hanya perasaan bersalah. Setiap orang yang normal, pasti pernah merasa bersalah dan menyesal. Orang-orang yang berada di penjara, saya yakin, mereka juga pasti menyesal atas perbuatan mereka. Namun merasa bersalah dan menyesal tidak berarti sungguh mengaku dan bertobat. Itulah beda mengaku (to regret) dengan bertobat (to repent).
Untuk lebih menjelaskan hal ini, mari kita baca dari 2 Korintus 7:10. Dikatakan, “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa kepada keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.”
 
Jadi ada 2 jenis dukacita atau penyesalan: yang berasal dari Allah dan yang berasal dari dunia. Dukacita atau penyesalan yang berasal dari Allah, membuat kita sungguh menyesal dan bertobat.(repent) Artinya, kita menyadari kesalahan kita dan tidak mau melakukannya lagi. 
Dukacita atau penyesalan yang berasal dari dunia adalah dukacita atau penyesalan yang biasa atau natural. (regret). Kita sedih dan menyesal karena kita gagal lulus ujian. Kita menyesal karena belum berhasil menyenangkan orang-tua kita. Kita menyesal karena orang lain tahu kelemahan kita.
 
Respon terhadap dukacita atau penyesalan yang berasal dari dunia, itu berpusat pada diri kita. Kita harus lebih baik lagi. Kita harus kerja keras dan seterusnya. Kalau hal ini tidak tercapai maka kita akan merasa stres dan putus-asa. Lalu kita merasa tidak berdaya dan menjadi malu. Akibatnya kita menjadi depresi dan dapat menyebabkan kematian.    
Tetapi sebaliknya, dukacita dan penyesalan yang berasal dari Allah menghasilkan pertobatan. Apa artinya bertobat? Artinya, suatu perubahan pikiran dan hati secara internal dan bukan hanya menyesali dosa atau hanya perbaikan perilaku saja. Bahasa aslinya bertobat adalah  Metanoeo. Meta suatu awalan yang berarti: gerakan atau perubahan. Sedangkan Noeo menunjuk pikiran, persepsi, kecenderungan dan tujuan. Jadi arti dasar bertobat ialah mengalami suatu perubahan pikiran, persepsi, kecenderungan dan tujuan.
 
Sdr-sdr, contoh yang tepat untuk menjelaskan perbedaan ini adalah apa yang terjadi dengan Judas dan Petrus, yang adalah murid-murid Yesus. Judas menyesal atas perbuatannya menjual Yesus. Tetapi Yudas tidak bertobat dan kembali kepada Yesus, melainkan ia berusaha mengatasi penyesalannya dengan caranya sendiri.Ia menghabisi dirinya dengan menggantung diri. Sedangkan Petrus juga pernah berbuat salah. Ia pernah menyangkali Yesus samapai 3 kali. Tetapi ia menyesal dan bertobat. Artinya, ia datang kembali kepada Yesus. Jadi sekali lagi, merasa bersalah belum berarti kita sudah mengaku dosa dan bertobat. 
 
2. Pengakuan yang benar bukan hanya mengaku bahwa kita melakukan kesalahan. Anak saya kalau dimarahi maminya, dengan cepat akan berkata “sorry mam”. Tetapi kemudian ia melakukan hal yang sama lagi sehingga istri saya memarahinya lagi. Dan dia kembali berkata, “sorry mam”. Berkata “sorry” saja tidak cukup tetapi yang diharapkan adalah berusaha untuk berubah atau tidak melakukannya lagi.
Sdr-sdr, tanpa kita sadari kita juga sering terlalu cepat mengaku bersalah atau berdosa kepada Tuhan. Namun dengan cepat kita juga kembali melakukan kesalahan yang sama. Karena terlalu sering kita melakukan hal ini, sehingga kita mengganggap anugrah pengampunan dari Tuhan itu sebagai anugrah yang murahan (cheap grace). Artinya, yah mengaku saja, pasti dosa kita diampuni.  Padahal yang Tuhan harapkan dari kita bukan hanya sekedar pengakuan yang dengan mudah kita ucapkan tetapi kita juga harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak melakukan atau menggulanginya lagi. 
 
3. Pengakuan yang benar tidak hanya focus pada perubahan perilku melainkan perubahan hati. Kita tahu bahwa dosa selalu melawan kehendak Allah. Kalau kita terus mengeraskan hati dan tidak berubah, hati kita tidak akan pernah merasa tenang dan damai karena kita terus melawan kehendak Allah. Kalau kita sudah “berdamai” dengan Kristus dan mengalami sendiri anugerah Tuhan maka hati kita akan damai dan tenang.
 
Sdr-sdr yang Tuhan Yesus kasihi,
Mari kita kembali kepada Nehemia. Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh Nehemia kepada bangsa Israel ternyata setara dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus  kepada kita. Nehemia datang ke Yerusalem untuk menyelamatkan bangsa Israel yang berada di dalam pembuangan. Ia membangun kembali tembok-tembok dan membaharui kehidupan rohani umat Israel. Bukankah itu juga yang Tuhan Yesus lakukan kepada kita. 
 
Kita seperti bangsa Israel, berada di “pengasingan”, yakni pengasingan karena dosa. Karena dosa, hubungan Allah dengan manusia terputus. Tetapi Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dan dunia ini. Yesus ingin memulihkan dan menjadikan kita manusia baru. Oleh sebab itu seruan atau tuntutan pertama Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya adalah panggilan untuk bertobat, 
Saudara-saudara, kalau merefleksikan hidup kita saat ini, ada dimanakah kita ? Apakah kita hidup dalam pergumulan atau berada di persimpangan jalan? Apakah kita sedang berjuang menanggung beban yang  berat? Apakah hati kita dipenuhi dengan kepahitan dan sakit hati? Apakah kita merasa letih, lesu dan jenuh dengan monotonnya hidup? Mari kita datang kepada Tuhan dan berserah penuh. Tanggalkan kesombongan dan keangkuhan kita dan kita biarkan Tuhan yang memimpin hidup kita.Bagi kita. Let go and let God!
Untuk menjadi “manusia baru” dan yang terus dibentuk, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah datang dengan kerendahan hati, mengaku dosa dan bertobat. Kita hanyalah manusia yang terbatas dan tidak berdaya. Kita ibarat rumput di padang yang hari ini ada dan besok lisut. Tertiup angin sedikit langsung patah. Kalau kita bisa ada seperti sekarang, semata-mata karena berkat, kekuatan dan anugerah dari Tuhan. 
 
Saudara-saudara, untuk menutup renungan ini saya mengajak kita untuk melihat asal kata “kerendahan hati” dalam bahasa Inggris adalah “humility” berasal dari bahasa latin, “humilis”. Kata ini diturunkan dari kata “humus”. Kita tahu bahwa “humus” adalah lapisan tanah hitam yang amat subur. Semua benih bisa tumbuh kalau disebarkan di tanah humus. Itulah sebabnya, kerendahan hati adalah keutamaan dasar. Sikap rendah hati sebagai wujud dan kerelaan menanggalkan diri kita untuk menjadi tanah subur yang menumbuhkan berbagai macam berkat bagi kehidupan ini.
Saudara-saudara, kita berharap agar melalui pertobatan dan kebergantungan kepada Tuhan , kehadiran kita boleh senantiasa menjadi tanah humusyakni tanah yang subur dan mendukung pertumbuhan orang-orang lain yang ada di sekitar kita.
 
Amin.