Den Haag, 13 december 2008
 
Matius 25: 1 - 13
 
Kalau kita melihat hidup kita ke belakang, lebih banyak kesusahan atau kegembiraan? Katanya hidup ini 80% kerja keras, susah payah, 20%nya baru senang. Coba lihat, orang kerja 5 – 6 hari seminggu, istirahat di akhir pekan. 11 bulan kita bekerja, 1 bulan total libur dan cuti. Makanya dikatakan kalau bayi lahir ke dunia, dia menangis, sementara ketika orang meninggal, dia meninggal dengan tenang, karena hidup ini memang suatu perjuangan yang tidak selalu mudah.
 
Tapi bukankah hidup ini berasal dari Tuhan, apakah Tuhan ingin kita menderita? Sama sekali tidak. Hidup ini adalah anugerah dan pemberian dari Tuhan. Tapi yang namanya pemberian, itu juga bergantung bagaimana kita menerima dan menggunakannya.
 
Banyak orang yang salah paham, melihat hidup sekarang ini seperti satu-satunya kehidupan yang ada, lalu ingin menikmati segala sesuatunya dengan serakah dan menjadi sangat marah ketika tidak mendapat apa yang diinginkan. Inilah yang membuat hidup menjadi penuh dengan kekecewaan dan kesengsaraan.
 
Padahal ada yang mengatakan hidup ini hanyalah jembatan, tidak ada orang yang membangun rumah di atas jembatan. Maksudnya adalah hidup ini hanya sementara, kita lahir tidak membawa apa-apa, mati juga tidak membawa apa-apa. Orang Jawa punya filosofi, hidup hanya mampir ngombeh, berhenti untuk minum. Yesus lebih jauh lagi menggambarkan bukan hanya hidup duniawi, tapi hal Kerajaan Sorga, seperti gadis-gadis penyambut mempelai yang harus menantikan mempelai pria datang.
 
Masa Advent yang kita rayakan sebelum merayakan Natal adalah masa yang juga harus menyadarkan kita akan makna hidup kita. Advent artinya ‘yang akan datang’, masa advent berarti masa di mana kita menanti dan mempersiapkan diri untuk menyambut yang akan datang. Itulah makna hidup kita sebagai orang Kristen.
 
Masa Penantian
Ada seorang suami yang menunggu istrinya belanja di mal. Karena lelah, ia memilih untuk duduk sementara istrinya keliling-keliling. Dalam hati dia berharap istrinya cepat selesai dan mereka segera pulang. Tapi ada seorang sales girl yang datang menghampiri, menawarkan barang. Karena sales girl ini cantik, gembiralah hati pria tersebut. Lalu ia mulai mengharapkan istrinya tidak segera datang, supaya ia bisa ngobrol lebih lama dengan gadis itu.
 
Ini yang sering terjadi dengan kita. Kita tahu bahwa hidup ini hanya sementara dan banyak kesusahannya, maka kita menantikan kedatangan Tuhan atau mengharapkan kepulangan kita kepada Allah. Tetapi ketika kita mulai menikmati hal-hal yang baik dalam hidup ini kita mulai lupa akan rencana Allah dalam hidup kita, bahkan sering kali kita lupa akan Allah.
 
Maka Allah membiarkan ada kesusahan dalam hidup kita, supaya kita sadar bahwa kita bukan dari dan untuk dunia, tetapi dari dan untuk Allah. Saya pikir orang kalau susah akan lupa Allah, tapi yang lebih sering terjadi orang kalau senang malah lupa akan Allah. Contohnya, lebih banyak orang yang masih beriman atau beragama di India atau di Belanda?
 
Bukan berarti Allah adalah Allah yang kejam, yang memberikan kita penderitaan agar kita selalu ingat kepadaNya. Ia pun menantikan kita, seperti yang digambarkan oleh nyanyian tentang kebun anggur dalam kitab Yesaya 5 yang menjadi nas pengantar ibadah kita. Ia menantikan kita bertumbuh dan berbuah di dalamNya, dalam perbuatan baik dan keadilan. Dan ketika Allah menanti manusia yang tidak kunjung bertobat, Allah pun menderita.
 
Masa persiapan
Kalau kita menantikan Allah membebaskan kita dari penderitaan, dan Allah menantikan kita berbalik dari kejahatan kita, tidak akan selesai penantian tersebut. Oleh karena itu Allah mengambil inisiatif lebih dulu, Ia datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Dari pihak kita, kita pun dituntut untuk tidak sekedar menanti dengan pasif, berharap masalah dalam hidup kita dan dalam dunia ini selesai dengan sendirinya, tapi kita harus berperan serta.
 
Rick Warren, yang terkenal dengan bukunya “Purpose Driven Life”, mengatakan bahwa hidup ini adalah suatu masa ujian, kita harus belajar dan mengerjakan ujian, lalu ditentukan lulus atau tidak. Allah yang menentukan kelulusan kita itu bukan guru yang kejam, tetapi Ia penuh belas kasih dan menginginkan kita lulus. Jadi dalam segala pergumulan dan kesusahan yang kita alami, Ia memberikan kita kekuatan untuk mengatasinya. Tapi sekali lagi, kita tetap harus aktif berperan serta. Kelima gadis yang bodoh itu, kalau pun mereka memiliki hanya sedikit minyak, mereka tetap akan berada di dalam bukan di luar. Bukan berapa banyak minyak atau seberapa bagus lampu yang kita miliki, tetapi apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Allah.
 
Jadi saudara-saudara, janganlah kita terlena oleh kenikmatan dunia atau patah semangat karena kesusahan hidup. Dalam hidup ini kita ibaratnya tukang parkir saja. Jadilah tukang parkir yang baik. Jika ada mobil bagus datang, kita layani dengan sopan, tapi kalau mobil jelek datang, kita juga tidak jadi sedih. Kalau yang memiliki mobil datang membawa mobilnya pergi, kita tidak perlu marah-marah.
 
Hidup ini hanya sementara, suatu jembatan menuju kehidupan yang kekal. Biarlah kita dapat mempersiapkan diri agar kita sungguh layak untuk Kerajaan Allah.
 
Amin.