Den Haag, 25 januari 2009.

Efesus 2: 14 - 16

Pada awal tahun baru ini kita juga diingatkan akan apa yang menanti kita di 2009. Ekonomi dunia yang sedang terguncang mungkin membuat kita khawatir akan apa yang menyambut kita tahun depan. Beberapa perusahaan otomotif telah memperpanjang libur pegawainya, banyak perusahaan yang harus mengurangi jumlah pekerja bahkan menjadi bangkrut, credit crunch membuat beberapa orang yang memiliki hipotek atau sedang berusaha membeli rumah harus memutar otak untuk menstabilkan kondisi finansial mereka. Perang juga masih terjadi di mana-mana: Israel dan Palestina, Rwanda, Afghanistan, Irak, dan beberapa tempat lainnya. Bajak laut dari Somalia mengancam Teluk Aden dan baru-baru ini menahan kapal tanker Sirius Star yang membawa minyak mentah seharga 100 juta dollar. Banyak masalah menghadang dunia di 2009. Kalau begitu apa yang bisa menjadi pegangan kita di tengah masa seperti ini?
Surat Paulus kepada Efesus mengatakan bahwa Yesus adalah damai yang mempersatukan, yang menghapuskan perseteruan. Paulus mengingatkan bahwa Yesus membawa damai, menyatukan orang Yahudi dan non Yahudi, memecahkan tembok pemisah dunia. Dalam bahasa Yunani damai adalah eirene, yang artinya “The tranquil state of a soul assured of its salvation through Christ, and so fearing nothing from God and content with its earthly lot, of whatsoever sort that is." Damai yang dimaksud di sini adalah ketenangan jiwa karena diyakinkan melalui keselamatan dalam Kristus. Damai yang dibawa Yesus adalah situasi dalam diri sendiri bukan sesuatu yang datang dari luar.
Justru damai inilah yang diperlukan oleh para orang-orang di Efesus dan juga kita pada masa ini. Jemaat Efesus disadarkan bahwa perpecahan datang bukan karena perbedaan tetapi karena ketakutan. Orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi takut menerima mereka yang non-Yahudi karena mereka dianggap akan merusak tradisi mereka yang murni sebagai umat Allah. Jemaat yang berlatar belakang non-Yahudi curiga terhadap yang Yahudi karena mereka tidak suka dianggap “kasta rendah” oleh Yahudi. Ketakutan dan kecurigaan karena ketidaktenangan diri sendiri membuat perpecahan terjadi.
Apa yang bisa kita ambil dari kelahiran Yesus yang membawa damai? Konsep damai apa yang kita perlukan untuk masuk ke dalam dunia ini? Damai yang dijanjikan bukanlah perdamaian dunia, atau akhir dari segala konflik. Damai berasal dari ketenangan hati. Damai tidak sejalan dengan ketakutan. Selama kita khawatir, kita tidak akan bisa melihat damai yang ada di sekitar kita. Ketakutan cenderung membuat kita melakukan hal yang justru menjauhkan kita dari kedamaian itu sendiri.
Belakangan ini banyak sekali orang yang berada dalam ketakutan. Ketakutan finansial membuat orang mengambil kredit dan mortgage di luar kemampuan mereka sesungguhnya. Ketika mereka mengambil kredit tersebut, mereka tidak dapat membayar dan justru terperangkap dalam alasan mengapa mereka ingin mengambil kredit.
Ketika isu kekurangan bahan baku makanan muncul (biasanya di Indonesia sebelum hari raya Idul Fitri), orang justru berlomba menimbun makanan yang tidak mereka perlukan yang akhirnya justru memacu naiknya harga pasar dan membuat makanan tersebut benar-benar hilang dari pasar.
Perbedaan antar paham dunia barat dan Islam menimbulkan ketakutan akan identitas yang lainnya. Ketidakpahaman akan yang lain menimbulkan kecurigaan. Ketakutan akan diserang teroris mendorong pemerintah Amerika Serikat menyerang teroris. Hal ini membuat teroris juga semakin tertantang untuk membalas dendam dengan menyerang lebih keras lagi.
Ketakutan kehilangan identitas diri sendiri sebagai orang Indonesia, atau orang Belanda yang asli, membuat kita menutup diri terhadap orang luar. Perbedaan yang mencolok membuat pemerintah belanda berencana untuk mencantumkan identitas etnis pada kartu identitas sehingga kejahatan bisa dikelompokkan berdasarkan etnis tertentu. Ketakutan ini justru tidak menolong proses integrasi ketika orang tertentu dikelompokkan secara sistematis berdasarkan etnisnya.
Ketakutan muncul ketika kita tidak mau melepaskan kontrol akan apa yang akan terjadi. Hal ini dapat mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang justru akan menjatuhkan kita ke hal yang kita takuti tersebut.
Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, damai yang ditawarkan oleh Yesus tidak sama dengan candu yang diklaim oleh Karl Marx. Damai yang dimaksud oleh Kristus adalah bagaimana kita bisa melihat sesuatu dengan pikiran yang jernih dan mengambil keputusan bukan berdasarkan ketakutan. Orang yang panik dan ketakutan akan mengambil keputusan yang justru akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Ini bisa kita lihat di setiap latihan evakuasi kebakaran, atau kecelakaan pesawat terbang, yang selalu mengingatkan kita untuk tetap tenang. Ketika kita panik, kita tidak bisa melihat pintu darurat yang terletak persis di sebelah kita. Kedamaian akan membantu kita melihat masalah dengan lebih jernih dan melihat bahwa perbedaan tidak selalu membawa perpecahan.
Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, ketakutan kita seringkali berhubungan dengan perasaan khawatir kita ketika kita tidak dapat mengontrol apa yang terjadi di sekitar kita. Kita menjadi resah ketika sesuatu berada di luar kendali kita. Tetapi melalui khotbah hari ini kita diingatkan bahwa Kristus adalah jaminan kita. Allah adalah Allah yang sama yang tetap akan bersama kita di dalam kondisi apapun. Dengan jaminan ini kita bisa menjadi lebih tenang dalam mengambil keputusan penting dalam hidup kita.
Coba kita ambil contoh sebuah tomtom. Tomtom membantu kita untuk mencapai sebuah arah. Dalam tomtom ada suara dan ada juga gambar. Meskipun suara halus si tom memberi petunjuk jalan, tetap kita tidak yakin dan harus melihat gambar yang ada di layar. Tidak sedikit juga orang yang berusaha menghitung jarak tempuh dan kecepatan, sehingga bisa memperkirakan waktu dia mengemudi. Sekarang, Rasul Petrus hendak mengatakan bahwa Allah memberi janji bahwa hidup orang percaya seperti tomtom yang sudah diset tujuan akhirnya. Tujuan akhir yang dikatakan tomtom itu pasti ada di sana dan kita pasti akan sampai ke sana. Engkau tidak perlu lagi melihat layar dan sibuk mengkalkulasi waktu kedatangan, melainkan nikmati perjalanan, engkau tidak akan tersesat, dan pada engkau akan tiba pada waktunya. Dengan janji ini kita bisa menjadi damai dalam menjalani ketidakpastian 2009.
Ketakutan, ketidakpastian, ancaman dalam hidup kita akan selalu ada. Hal yang sama terjadi pada jemaat Efesus dan Paulus bisa melihat ketakutan mereka. Karena itu Paulus mengatakan bahwa Yesus membawa damai yang menyatukan, sama seperti Nabi Yesaya mengatakan, “TUHAN, Engkau memberi damai dan sejahtera kepada orang yang teguh hatinya, sebab ia percaya kepada-Mu.” (Yesaya 26:3). Yang diminta dari kita adalah mengasihi Kristus dan Allah dengan iman dan menjalankan Firman Allah dengan pertolongan Roh Kudus. Terimalah damai Kristus dalam menjalani tahun baru ini!
Amin.