Regio Rijswijk - Den Haag Minggu, 5 april 2009 - Minggu Palmarum

Bacaan: Matius 26: 14-25

Saudara-saudarayang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Kalimat yang penting dalam dunia pelayanan dan jasa pada saat ini adalah : "apakah ada yang dapat saya bantu?" Dalam kalimat ini ada sikap dan upaya untuk menunjukkan keseriusan yang besar bahwa kita bersedia memberikan pelayanan serta bantuan kepada orang lain yang memerlukan. Bahkan ketika orang itu mungkin tidak mempedulikan kita atau tidak bersikap sama sopannya dengan kita. Di sini ada prinsip bahwa orang lain adalah penting dan utama, sedangkan kita adalah rekan, orang yang bersedia membantu, penolong bagi mereka. Ada semacam keinginan untuk "memberi" ketimbang "meminta". Menjadi amat menyenangkan jika sikap ini (bukan hanya kata-katanya saja) juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari bersama dengan orang lain.

Tapi kadangkala harus diakui bahwa kalimat tersebut tidak selalu datang dari sikap yang tulus. Bisa jadi itu menjadi semacam basa-basi saja. Atau menjadi lebih gawat lagi, ketika sebenarnya kita lebih senang dengan kalimat lain, yaitu: "apa yang bisa kudapatkan?" (dalam bentuk kalimat lain : "apa yang dapat kamu berikan kepadaku?". Ada perbedaan sikap yang amat besar dari kalimat ini dibandingkan dengan kalimat yang pertama, karena kalimat yang kedua ini hendak menunjukkan bahwa diri kita sendirilah yang utama dan penting, dan kita yang patut mendapatkan sesuatu dari orang lain. Disini tidak ada sikap "memberi diri", tetapi yang nampak adalah sikap selfish (mementingkan diri sendiri,bukan orang lain). Ada banyak contoh di mana sikap seperti ini adalah salah satu sumber dari berbagai persoalan hubungan antar manusia, dari keluarga, masyarakat sampai dengan konflik yang besar antar kelompok.

Saya jadi teringat, ketika anak saya yang perempuan (umur 10 tahun), menyanyikan lagud ari sebuah band Indonesia. Lirik dari lagu yang dinyanyikan itu kira-kira begini : "....salahkah aku, mencintaimu.... Walau ku tahu, aku tak di hatimu .... Kuharap Tuhan, cabut nyawamu, agar takada yang milikimu ......." Saya langsung berkata kepada anak saya, bahwa lagu itu kejam dan egois sekali, hanya karena ada orang yang tidak mencintai saya, lalu saya minta supaya Tuhan membunuhnya. Bukankah ini salah satu contoh, tentang sikap: "apa yang bisa kudapatkan?" Bukan sikap memberi diri yang menghormati keberadaan orang lain.

Dalam teks yang kita baca (kisah hari-hari terakhir Yesus; ayat 18: waktuNya hampir tiba), cerita tentang Yudas Iskariot seringkali digambarkan sebagai bagian tragis dari pengkhianatan Yudas pada Yesus. Tetapi saya ingin mengajak kita secara khusus memperhatikan ay. 15 dan melihat sosok Yudas dengan lebih berhati-hati. Di sini Injil Matius memperlihatkan kepada kita bahwa ketika Yudas akhirnya bersedia menyerahkan Yesus, nampaknya ia terjebak pada sikap "apa yang bisa kudapatkan?" ("apa yang hendak kamu berikan kepadaku .... Supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?"). Injil Matius mengajak kita untuk menyadari bahwa bagi Yudas, apa yang akan ia dapatkan lebih penting daripada apa yang seharusnya ia mengerti dari hidup dan pelayanan Yesus, yaitu sikap memberi.

Mari kita lihat lebih jauh. Ada banyak penelitian yang percaya bahwa Yudas Iskariot adalah salah satu pejuang Zelot yang memberontak pada masa penjajahan Romawi. Dan sebagai pejuang pemberontak, menjadi tidak berlebihan jika Yudas menaruh harapan yang amat besar pada Yesus, sang Guru kharismatis itu, untuk juga menjadi pejuang bahkan mungkin pemimpin di garis depan untuk melawan Romawi. Harapan semacam ini bukan hanya milik Yudas, tetapi juga milik banyak orang Yahudi pada masa itu. Harapan tentang Sang Mesias, adalah harapan mengenai bangkitnya Kerajaan Israel seperti pada masa Raja Daud, sesuai dengan keinginan mereka. Bagi mereka keberadaan Yesus adalah jawabannya. Yesus diharapkan dapat memberikan kebebasan sesuai dengan apa yang mereka (masyarakat Yahudi pada masa itu) inginkan. Yudas hanyalah satu orang dari sekian banyak orang yang sedang berpikir dan bersikap: "apa yang Yesus dapat berikan kepadaku?". Dalam pengertian ini, Yudas tidak pernah sendiri. Dan pertanyaan penting bagi kita adalah : apakah kita juga dapat berpikir seperti Yudas? Rasanya secara jujur, saya harus mengatakan, bahwa kita bisa sering menjalankan hidup dengan sikap "apa yang Tuhan akan beri bagi saya", atau "apa yang orang lain akan lakukan untuk saya". Saya pernah bercerita mengenai seorang anak kecil yang mengartikan kata "amin" diakhir doa kita sebagai : "Tuhan kerjakanlah perintahku!" Tentu ini bukan arti kata ‘amin' yang benar, tetapi mungkin ada cukup banyak kita yang diam-diam bersikap seperti itu. Ada banyak orang Kristen / agama di dunia ini yang menyembah Tuhan, tetapi juga ada banyak gereja dan agama yang semata-mata berpikir hanya untuk dirinya sendiri, keselamatannya sendiri, kesenangannya sendiri, berkat Tuhan untuk mereka sendiri, bahkan ketika menjadikan agama dan kelompoknya sendiri sebagai tuhan. Dalam konteks seperti ini, orang lain tidak akan pernah dianggap sebagai yang berharga, karena yang paling berharga sebenarnya adalah diri dan kelompoknya sendiri. Ini adalah sikap egois yang muncul dari pikiran "apa yang bisa kudapatkan?". Kegagalan Yudas keluar dari persoalan ini bisa jadi juga adalah potret dari kegagalan kemanusiaan kita, baik dalam kehidupan keagamaan maupun dalam pelayanan praktis kita di tengah sesame manusia.

Kita dapat melihat dalam beberapa contoh:

- Kita sering mendengar tentang sikap gereja dan agama-agama yang tidak tulus dalam hubungan dengan orang lain. Aksi doa dan pelayanan dilakukan tetapi bukan karena kita memberikan perhatian dan penghargaan yang tulus kepada orang lain itu. Diam-diam ada pikiran bahwa jika orang lain itu mau dilayani atau dihargai, maka dia harus menjadi kelompok saya terlebih dahulu.

- Saya pernah mendengar cerita ketika ada pelawat gereja yang datang mengunjungi keluarga sederhana yang orang tuanya sakit keras di rumah. Dalam pelayanan kunjungan yang seharusnya memberikan sukacita itu, mereka justru bersikap tidak benar-benar peduli pada pergumulan dan kesusahan keluarga tersebut. Puncak masalah adalah ketika pelawat dari gereja itu tidak dapat menahan diri untuk mengatakan agar keluarga itu sebaiknya mempekerjakan seorang perawat khusus di rumah. Parapelawat gereja itu lupa bahwa mereka datang di sebuah keluarga sederhana, mereka lupa bahwa keluarga itu sedang kesusahan dan sedih dengan biaya dan berbagai kesulitan lain. Dan mereka juga lupa bahwa biaya untuk mempekerjakan seorang perawat khusus itu amat mahal. Pada intinya, para pelawat gereja itu lupa bahwa mereka seharusnya melayani dengan "memberi diri", dan itu berarti memperhatikan bahkan menolong orang lain dengan tulus. Peristiwa itu membuat keluarga sederhana yang bekerja keras untuk merawat orang tuanya tersebut menjadi sedih, marah dan tersinggung.

Yesus sendiri ketika Ia menyerahkan diriNya, sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah, hendak menunjukkan sebuah kebesaran sikap bahwa Ia memberikan hidup, bukan mencari hidup. Ia memberikan diriNya bagi orang lain, dan bukan berharap mendapatkan keuntungan dari orang lain. Yesus amat siap dengan kematianNya. Karena Ia tahu betul bahwa tujuan hidupNya adalah menghadirkan cinta kasih dan perdamaian antar manusia dengan Allah, dan juga manusia dengan sesamanya. Yesus mengajarkan tentang bagaimana manusia hidup dengan menghargai dan mencintai orang lain, apalagi mereka yang lemah. Yesus mengajarkan bahwa hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang erat tanpa syarat apapun. Dan untuk itu semua, Yesus mencontohkannya secara konkret melalui seluruh hidup dan keberadaanNya. Kematian Yesus adalah akibat kebencian, iri hati, keegoisan manusia, yang tidak senang pada sikap dan ajaran Yesus itu, dan yang justru hendak dilawan oleh Yesus; dan karena itu Yesus tidak akan pernah melakukan hal yang sama. Karena itu, salib Yesus sering juga disebut sebagai lambang dari pengosongan diri. Perlu kita ingat, ada atau tidak ada Yudas, kebencian para tokoh agama pada Yesus saat itu sudah amat besar dan mereka pasti mencari berbagai cara untuk menyingkirkan Yesus. Masalahnya saatini bukan untuk mencari kambing hitam atas kematian Yesus (bukan juga untuk membela Yudas secara berlebihan, seperti dalam Injil Yudas), tetapi untuk belajar secara sungguh-sungguh melalui peristiwa salib ini. Apakah kita adalah orang yang berpikir seperti dan mengikuti Yesus, yaitu : "apa yang dapat saya bantu dan berikan bagi orang lain?" Atau menjadi orang yang terjebak dalam pikiran :"apa yang bisa saya dapatkan?".

Apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Yudas sebenarnya adalah cermin besar dari apa yang seringkali kita juga pikirkan. Keinginan dan kegoisan yang tidak dapat kita kendalikan dapat membuat kita sulit untuk bersikap dan melayani dengan mengutamakan orang lain, seperti yang Rasul Paulus pernah katakan dalam Filipi 2:3 : "... hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri ..." Injil Matius mengatakan, bahwa orang yang mengkhianati dan menyerahkan Yesus itu tidak pernah jauh dari Yesus sendiri (ay. 23). Dan itu bisa berarti bahwa kita dapat ‘mengkhianati' Yesus, ketika kita juga mengaku diri sebagai gereja tetapi menjadi orang yang tidak pernah mampu untuk melihat realitas dan kebenaran, tidak menghormati dan menghargai orang lain dengan tulus; bahkan membiarkan diri kita sendiri menjadi tuhan. Di Indonesia, ada semacam ketegangan ketika beberapa kelompok orang Kristen senang dengan ide membangun megachurch, dengan gedung berharga milyaran rupiah dan anggota jemaat ribuan orang, dan itu menjadi semacam upaya menunjukkan kemegahan dan kekuatan gereja, bahkan di tengah-tengah ribuan rumah sederhana dan kumuh yang ada di Indonesia. Merekal upa bahwa kekuatan gereja bukan dari kemegahan fisik, melainkan dari ketulusan hati untuk melayani sesamanya dan menghadirkan rasa percaya (trust) dalam realitas kehidupan bersama sebagai suatu masyarakat. Di sini kita melihat bahwa salib Yesus yang adalah lambang dari pengosongan diri, sekarang dirubah menjadi lambang dari pengukuhan diri.

Memasuki minggu palmarum / minggu sengsara Yesus, sampai nanti minggu depan kita merayakan perayaan terbesar dalam kehidupan orang Kristen, yaitu Paskah, mari kita kembali mengingat ajakan gereja untuk berpuasa. Berpuasa adalah sebuah aksi untuk mengingat pentingnya kita menyangkali diri kita untuk kemudian memikul salib Kristus. Bukan kita yang utama, tetapi Tuhan. Bukan hanya kita yang utama, karena orang lain di sekitar kita pun adalah ciptaan Tuhan dan sesama manusia yang juga harus dihargai. Hanya ketika kita tidak memandang diri kita terlalu penting, maka kita akan menjadi mampu memikul salib tanggung jawab untuk mewujudkan hidup bersama yang tulus. Berpuasa adalah lambang kesungguhan kita untuk mengikuti Kristus (bukan untuk memaksa Tuhan memberikan apa yang kita inginkan). Berpuasa yang terberat adalah ketika kita berusaha untuk menghilangkan keakuan kita, demi cintan dan pelayanan pada sesame. Karena itu dalam tradisi gereja saat ini, berpuasa bukan hanya makanan, tetapi juga dapat berupa puasa kesenangan, yaitu menghentikan hobi tertentu, mengurangi keinginan-keinginan tertentu, memberikan waktu yang selama ini tidak pernah diberikan untuk orang lain; dll. Kita berpuasa, karena kita ingin belajar memberi diri lebih banyak bagi orang lain. Karena itu aksi puasa dikaitkan dengan diakonia gereja.

Mari kita hayati minggu palmarum dan sengsara Yesus dengan semangat dan sikap menjadikan diri kita semakin kecil dan Tuhan menjadi semakin besar, melalui cinta kasih dan pelayanan yang tulus kepada orang lain.

Amin.

 

Pdt. Handi Hadiwitanto, Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI)

dan dosen di Fakultas Theologia UKDW - Yogyakarta

Sedang studi doktoral di Radboud Universiteit Nijmegen