GKIN Amstelveen, 16 december 2009

“Pertandingan baik telah diakhiri”
II Timotius 4:1-8
 
7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Kehidupan dari bapak pendeta Rudy Budiman serupa dengan gambaran yang dipakai oleh rasul Paulus didalam surat yang ditujukan kepada Timotius: yaitu lomba lari. Dan bukan lari jarak pendek, namun maraton yang terpanjang. Beliau memiliki banyak faset didalam kehidupannya yang diberkati. Diawali di Semarang, Jawa Tengah. Disana beliau dilahirkan pada tanggal 12 Oktober 1927.

Bapak pendeta Budiman membagi perjuangan yang sama dari rasul Paulus. Apabila kita membaca ayat 2, kita dapat mengenal perjuangan itu didalam beliau: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”. Ini adalah perjuangan dari seorang penginjil/ pengkhotbah, seorang pastor/ gembala, seorang pengajar/ guru.

Panggilan itu sudah dimiliki sejak masa mudanya. Pada usia 17 tahun beliau merasa terpanggil untuk menjadi pendeta. Allah yang memanggil, dan sekaligus membuka jalan. Beliau mengikuti kuliah teologi. Semula di pendidikan ‘darurat’ untuk pendeta di Yogyakarta dan sesudah itu di Vrije Universiteit di Amsterdam. Di Amsterdam beliau didampingi oleh istrinya, ibu Poppy. Begitulah beliau dipersiapkan untuk perjuangan itu.

Pada tahun 1961 beliau menyelesaikan studi doctoral dan kembali ke Indonesia untuk menjadi pendeta dan dosen dari Sekolah Tinggi Teologi Duta Wacanadi Yogyakarta. Beliau memberi mata kuliah Perjanjian Baru. Beliau mempersiapkan mahasiswa teologi sebagai calon pelayan Firman. Setelah masa pelayanannya yang produktif, beliau mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Vrije Universiteit dan promosi pada tahun 1971. Setelah itu bapak pendeta Budiman bekerja untuk bertahun tahun di Yogyakarta.

Injil, kabar baik dari Kristus adalah pusat dari kehidupannya. Selain sebagai dosen, beliau berkhotbah diseluruh Indonesia. Beliau terkenal sebagai pendeta kebangunan rohani. Baru baru saja saya mendengar ada seseorang yang mengikuti kebaktian kebangunan rohani dan yang disentuh oleh Roh Kudus dan memutuskan untuk memberikan kehidupannya untuk Kerajaan Allah dengan cara yang khusus.

Semangat dan gairah dari bapak pendeta Budiman dapat kita lihat kembali apabila beliau membawakan firman Tuhan diatas mimbar, pemahaman Alkitab, retret, pembinaan, dan didalam membimbing kegiatan kegiatan lainnya dari gereja kita. Usia lanjut bukanlah hambatan untuk beliau untuk mewartakan firman dengan penuh kesungguhan. Bahkan tetap terlihat sampai dengan khotbahnya yang terakhir di Rijswijk, pada hari minggu 6 Desember yang lalu. Tidak direncanakan, beliau memberikan kesaksian spontan ketika lagu Amazing Grace dimainkan oleh Alexandra. Dengan indahnya ia menceriterakan kepada jemaat mengenai mengenai asal usul dari lagu tersebut.

Semangatnya yang berapi api untuk injil ini berakar dari hubungan pribadi beliau dengan Tuhannya, Yesus Kristus. Banyak dari kita mengetahui bagaimana beliau sering mengutip ayat dari Yohanes 15:5, dan mendorong kita semua dengan seruan dari Kristus ini: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ayat alkitab ini mengenai ikatan yang dalam dengan Tuhan: Hidup didalam Dia dan hidup untuk Dia. Berakar didalam Kristus dan menyadari bahwa Dia adalah kabar baik untuk dunia ini, merupakan motivasi untuk melakukan perjuangan. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya…..”

Pada tahun 1985 beliau dimohon dengan amat sangat oleh GKIN untuk mau menjadi pendeta pertama. Pada saat itu sebenarnya waktunya tidak cocok/ baik, sehubungan dengan terbatasnya keadaan keuangan dari GKIN yang baru saja dibentuk. Bapak pendeta Budiman melihat bahwa ada kebutuhan yang amat tinggi. Beliau melihatnya sebagai panggilan dari Tuhan, dan sebagai tindakan iman beliau memutuskan untuk melayani di GKIN. Beliau adalah perintis dari GKIN. “Beritakanlah firman, tetaplah tegar, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya…..”

Dengan keyakinan penuh bahwa injil harus diberitakan di mana mana, bapak pendeta Budiman berkotbah menembus tembok-tembok gereja. Di Negeri Belanda beliau tidak hanya berkhotbah di GKIN, namun juga di gereja gereja atau jemaat jemaat Indonesia lainnya di Belanda. Beliau merasa sekerabat dengan gerakan Injili. Ceramah beliau sewaktu Konferensi Internasional Penginjilan di Swiss masih tetap dapat dibaca di situs dari Gerakan Lousanne. Jiwanya untuk mewartakan injil tidak hanya terbatas di mimbar dan ruang kuliah. Pada tahun 1989 beliau menerbitkan, buku renungan harian “Overdenkingen” (Saat Teduh di dalam terjemahan Belanda) yang terbit setiap dua bulan dan selama bertahun tahun menjadi editor.

Peringatan dari Paulus didalam ayat 3 dan 4 oleh bapak pendeta Budiman juga diamini. Beliau berpendapat bahwa penting sekali bila GKIN memiliki pengajaran yang sehat, yang didasari oleh Alkitab. Didalam percakapannya mengenai topik topik etis masa kini yang berkembang di masyarakat, beliau mendasarkannya pada Firman Tuhan, dan memacu kita untuk melihat sendiri apa yang difirmankan oleh Allah. Beliau hingga saat terakhirnya tetap terlibat didalam tim kerja tersebut.

Selain sebagai pengkhotbah dan pengajar yang berbakat, untuk banyak orang beliau merupakan gembala yang dikasihi. Beliau juga mengasihi domba domba yang dipercayakan kepada beliau, yaitu jemaatnya. Beliau memberikan bimbingan pastoral, beliau mencari yang terluka, beliau sebagai mediator dalam konflik didalam keluarga dan dalam gereja. Beliau menciptakan rekonsiliasi. Ciri khas terpenting dari bapak pendeta Budiman adalah: mencari jalan tengah. Ini terlihat sekali didalam pelayanan pastoral dan organisasi.

Di GKIN, bapak pendeta Budiman bukan saja pengkhotbah, pengajar, gembala, namun juga bapak rohani. Bapak rohani yang memberi dorongan kepada jemaat. Bapak rohani yang mengucapkan penghargaannya, Bapak rohani yang selalu ada apabila kita memerlukannya.

Bapak pendeta Budiman adalah bapak rohani yang memberikan semuanya untuk jemaat, domba yang dikasihinya, dan anak anak yang dikasihi. Bapak pendeta Budiman melihat perjuangannya untuk mewartakan firman bukan saja sebagai perjuangan pribadi, melainkan juga sebagai perjuangan bersama. Bersama dengan beliau saya bekerja selama 8 tahun di Kerajaan Allah. Saya dibimbing oleh beliau dan ditopang. Kami membahas banyak hal, berbagi, berembuk dalam rapat, tetapi secara khusus didalam perjalan didalam mobil apabila kami pergi bersama ke suatu tempat. Alangkah berharganya waktu waktu itu: Perjuangan bersama.

Untuk beliau kerja sama antar gereja dan orang kristen adalah penting. Bertahun tahun beliau adalah anggota dari Dewan Gereja Gereja Amstelveen-Buitenveldert. Untuk beliau kelompok Injili dan Ekumenis bukanlah hal yang bertentangan, melainkan merupakan dua sayap dari pesawat terbang yang keduanya sama-sama kita butuhkan.

Pada tahun 1997 Samen Kerken in Nederland (SKIN), persatuan dari gereja gereja migran di Negeri Belanda dibentuk. Bapak pendeta Budiman adalah salah satu pendirinya. Ini merupakan buah dari perjuangan bersama.

Pada perayaan lustrum ke empat di Den Haag pada tanggal 1 oktober 2005, bapak pendeta Budiman diangkat oleh Ratu Beatrix sebagai anggota dalam Orde Oranje Nassau untuk usaha-usahanya di dalam pendidikan Kristen, gereja di Indonesia, masyarakat secara umum dan GKIN secara khusus.

Selama bertahun tahun ada seorang yang khusus yang mendampingi bapak pendeta Budiman dengan penuh kasih dan perhatian. Itu adalah kekasihnya, sahabat karibnya, ibu Poppy. Bapak pendeta Budiman menceriterakan kepada saya, ketika beliau di Indonesia dan harus sering berpergian, maka tante Poppylah yang mengasuh anak anak nya. Hok dan Meliana harus sering membagi ayahnya dengan gereja: dulu, ketika di Indonesia dan disini, di GKIN. Bapak pendeta Budiman amat mencintai tante Poppy. Beliau amat bersyukur kepada Tuhan. Ketika tante Poppy 1,5 tahun yang lalu jatuh sakit, beliau berkata: “Sekarang tiba saatnya untuk saya merawat istri saya…”Belum lama saya menelpon bapak pendeta Budiman untuk ulang tahun pernikahannya. Beliau berkata: “Yah, dua tahun lagi kami 60 tahun menikah”. Beliau menanti nantikannya.

Kita masih menginginkan agar bapak pendeta Budiman masih lama sekali berada ditengah kita, tetapi beliau hari kamis yang lalu telah dipanggil pulang ke rumah Bapa. Beliau bukan milik kita, bukan milik dari keluarga, bukan milik GKIN. Beliau oleh Tuhan dihadiahkan kepada kita. Beliau adalah milik Penciptanya en Penebus. Melihat kebelakang kepada 82 tahun kehidupan yang diberkati, melihat kembali kepada semua faset dari kehidupannya, kita melihat dengan penuh rasa syukur, bagaimana bapak pendeta Budiman telah berjuang. Beliau telah mengakhiri pertandingan yang baik. Dan beliau dengan baik mengakhiri pertandingan yang baik. Seperti kata rasul Paulus: Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Adalah merupakan keyakinan saya bahwa bapak pendeta Budiman akan berkata kepada anggota keluarganya, keluarga besar, dan kepada jemaat: “Perjuangan ini adalah layak untuk diperjuangkan. Hidup dalam Kristus dan untuk Kristus adalah lebih dari berharga”

Seperti dalam lomba maraton, maka di garis akhir dari perjuangan yang panjang dan yang tidak mudah telah menunggu hadiah. Di ayat 8 kita membaca: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”.

Adalah suatu kehilangan yang besar bahwa bapak pendeta Budiman tidak lagi berada ditengah kita. Tetapi sekaligus ada sukacita, karena kita mengetahui: Beliau telah melaksanakan tugasnya sampai akhirnya. Beliau telah mencapai garis finis dan telah menerima mahkota dari Tuhan.

Mengenai tugas-tugas beliau di GKIN dan di luar GKIN, kita melihat bahwa pendeta Budiman dengan penuh perhatian sudah mengestafetkannya. Bahkan dua hari sebelum beliau meninggal, Pdt. Tjahjadi dan saya masih menerima email dari beliau bahwa beliau tidak dapat ikut ambil bagian dalam perayaan Natal gabungan karena kondisi kesehatannya.

Di dalam mempersiapkan renungan ini, saya telah diilhami oleh tafsiran alkitab yang ditulis oleh bapak pendeta Budiman sendiri. Didalam tafsiran alkitab yang ditulis oleh bapak pendeta Budiman tertulis: “Pewartaan dari Injil tidak boleh berhenti setelah rasul Paulus meninggal. Tugas ini harus dilanjutkan oleh Timotius, generasi berikutnya”.

Apakah ini bukan merupakan pesan untuk GKIN, untuk generasi berikutnya, untuk kita semua? Untuk meneruskan pekerjaan dari bapak pendeta Budiman, untuk berjuang didalam perjuangan yang sama, untuk mewartakan kabar gembira dari Tuhan didalam Kristus?

Tante Poppy yang terkasih. Untuk anda tentunya tidak mudah. Sahabat karib anda telah tidak bersama anda lagi, justru pada masa dimana anda memerlukan banyak pertolongan. Jemaat Kristus, bapak pendeta Budiman, pejuang yang baik telah memberikan semuanya kepada GKIN. Itu adalah juga berkat dari istri beliau yang mendampinginya. Hendaklah kita menyatakan rasa syukur kita melalui pemeliharaan dan perhatian kita untuk tante Poppy terkasih. Tante Poppy, ketahuilah bahwa anda tidak sendiri didalam perjuangan anda. Kami ada untuk anda. Ketahuilah bahwa anda di topang oleh Allah kita yang pengasih

Hok Goei, Karin, Aisha, Ailin, Meliana, Liong Kie, Amica, Devina, dan sanak keluarga. Marilah kita mengucapkan syukur kepada Tuhan untuk kehidupan dari ayah kalian, ayah mertua, kakek, saudara laki laki, oom: Rudy Budiman, yang amat berarti untuk anda sekalian.

Di kebaktian ini yang mengawali kremasi dari pengkhotbah, pengajar, gembala, bapak rohani, bapak pendeta Rudy Budiman kita mengucapkan selamat jalan kepada beliau. Namun akan ada suatu hari bahwa kita, yang didalam ikatan Kristus, Juru Selamat, akan berjumpa lagi dengan bapak pendeta Budiman. Itu adalah waktu di mana setiap kita mengatakan: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik”.

Amin.