Lukas 2:25-32

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, tanpa terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Hari minggu ini, kita sudah memasuki minggu advent 3. Dan 2 minggu lagi kita akan merayakan natal bersama.

Ada kisah ttg sebuah kebaktian Natal dengan khotbah natal yang unik namun menggugah hati banyak orang. Unik oleh karena khotbah ini singkat dan tanpa mengeluarkan banyak suara; yang lebih banyak berperan dalam khotbah bukan pdt tetapi anggota jemaatnya. Lha bagaimana ceritanya? Sang pdt mengawali khotbahnya dengan mengundang para anggotanya sudah dipersiapkan sebelumnya untuk maju dan memberi kesaksian ttg perubahan yang terjadi dalam hidupnya:

Dulu saya adalah seorang pemabuk dan penjudi tapi sekarang sudah tidak lagi. Dulu saya penakut dan terlalu kuatir tetapi sekarang saya lebih berserah. Saya dulu bersikap kasar terhadap istri dan anak-anak tetapi sekarang saya memperlakukan mereka dengan baik. Dulu saya orang yang cepat marah dan tidak sabaran tetapi sekarang saya lebih bisa menahan diri. Dulu saya tidak peduli pada orang lain tetapi sekarang saya lebih membuka mata dan peka bagi kebutuhan orang lain. Saya dulu suka gosip dan membicarakan kejelekan orang lain. Tetapi sekarang saya lebih berhati-hati dalam berbicara. Dulu saya sulit sekali untuk bisa mengampuni orang yang menyakiti hati saya. Puji Tuhan sekarang sudah bisa mengampuni. Dan seterusnya. Khotbah natal ini diakhiri dengan perkataan sang pendeta,”Untuk perubahan-perubahan seperti itulah TY datang ke dalam dunia.” Wow, tentu kita semua rindu agar perubahan itu juga terjadi di dalam kehidupan kita masing-masing

Sdr-sdrku, TY datang ke dalam dunia untuk merintis dan memulai kehidupan yang baru. Kehidupan baru yang ditandai dengan adanya suatu perubahan, suatu tranformasi yang jelas terlihat dan dirasakan. Perubahan yang dimaksud di sini, adalah suatu perubahan yang menyeluruh yakni menyangkut perubahan sikap, hati dan pikiran kita. Perubahan atau transformasi seperti ini juga yang seharusnya tampak dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Ada dampak perubahan positif sejak kita mengenal dan mengikut TY. Dari manusia lama menjadi manusia baru dalam Kristus. Dari hamba dosa menjadi hamba kepada Allah. Dari hidup di dalam kegelapan menjadi hidup sebagai anak-anak Terang. Perubahan ini hanya bisa terjadi sebagai dampak dari perjumpa-an pribadi dengan Kristus.

Menjadi pengikut Kristus tidak cukup hanya dibaptis dan menjadi anggota gereja. Tetapi kita juga harus mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus. Perjumpaan dengan Kristus itu yang akan mengubah cara pandang dan hidup kita. Orientasi hidup kita berubah dari berfokus pada diri sendiri menjadi berfokus pada Kristus. Perubahan dan hidup yang senantiasa terfokus kpd Kristus ini terpancar keluar dari dalam diri kita secara konsisten. Bukan hanya pd saat mau dibaptis atau ketika menyambut hari Natal saja.

Simeon tokoh dalam perikop kita, memberi contoh dan teladan, bagaimana seharusnya kita menantikan dan hidup berfokus pada Kristus. Dalam ayat 25, dikatakan Simeon adalah orang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya. Ia adalah orang yang tahu bagaimana menantikan kedatangan Sang Mesias. Simeon tahu apa yang harus ia cari dan nantikan dalam hidup ini. Ia tahu apa yang harus menjadi prioritas dalam hidupnya! Walaupun, ia harus menanti sampai masa-masa akhir hidupnya. Pencarian dan penantian Simeon ternyata tidak sia-sia. Akhirnya, ia dapat berjumpa dengan Mesias yang selama ini ia nantikan. Mesias yang ia yakini dapat membawa keselamatan & terang tidak saja bagi hidupnya tetapi juga bagi segala bangsa.. Yang unik dari kisah Simeon adalah saat yang penuh mujizat baginya justru terjadi 8 hari setelah kelahiran TY. Ketika Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus ke Bait Suci. Hari itu adalah hari persembahan korban bakaran, dan hari sunatan. Akan tetapi bagi Simeon, hari itu adalah hari yg penuh sukacita karena ia berjumpa dgn Mesias.

Kalau kita perhatikan ayat 27, kita menemukan suatu pernyataan yang agak aneh, dikatakan:”Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.” Artinya, jelas, bahwa pada mulanya Simeon tidak berencana untuk datang ke Bait Allah, namun lalu berubah pikiran. Saat itu, Simeon tahu bahwa dia harus melupakan semua kesibukannya hari itu. Ada suatu dorongan kuat dan kerinduan dalam hati Simeon untuk ke pergi Bait Allah. Kita melihat bahwa Simeon tidak hidup berdasarkan kehendaknya sendiri melainkan senantiasa meminta pimpinan Roh Kudus. Dia terus menerus menantikan Sang Mesias. Simeon membuka mata lebar-lebar dan mengawasi kedatangan sang Mesias yang akan menyelamatkannya. Bahasa Yunani yang kaya dengan istilahnya memiliki banyak sekali kata yang berarti “melihat”. Ada yang berarti mencari, menoleh, memandang, meneliti, melihat dengan seksama atau mencari-cari seseorang dengan seksama.

Dari semua bentuk kata melihat ini, yg paling sama artinya dgn menantikan kedatangan adalah istilah yg digunakan utk menggambarkan apa yang dilakukan Simeon yaitu: prosdechomai. Dechomai artinya “menantikan”. Pros artinya terus menerus. Jadi prosdechomai, yg dilakukan oleh Simeon adalah MENANTI DENGAN TERUS-MENERUS.

Kata yang sering kita dengar dan terkesan sederhana. Namun memberikan gambaran yang luar biasa. Bahwa Simeon menanti, bukan menuntut, bahkan menanti sampai masa-masa akhir hidupnya. Simeon menanti dengan penuh pengharapan. Berharap dengan tenang. Mengawasi dan membuka matanya. Merentangkan tangannya mencari-cari di tengah orang banyak, satu wajah yg tepat dan berharap wajah yg dicarinya akan muncul hari ini…. Akhirnya penantian Simeon terjawab (ay.28-29). Simeon “menyambut anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan Firman-Mu.” Begitu melihat wajah Yesus, Simeon tahu bhw pengharapan hidupnya selama ini telah terjawab. Begitu melihat wajah sang Mesias, ada rasa kepuasan dan syukur yg tidak terkira. Simeon telah mendapatkan apa yg ia nanti-nantikan

Sdr-sdr, bagaimana dengan kita? Minggu ini adalah minggu adven ke I. Apakah kita sama seperti Simeon, kita menantikan dan menemukan makna natal yang sesungguhnya? Mari kita renungkan kembali beberapa hal dalam rangka kita menemukan makna natal yang sesungguhnya

Yang menjadi fokus natal, bukanlah pada perayaan atau acaranya, bukan pada kado atau makanannya tetapi pada Yesus yang hari kelahirannya kita rayakan. Saya pernah diundang seorang anggota merayakan ulang tahun anaknya yang ke-4. Perayaannya dilakukan di sebuah restauran. Waktu kami datang sudah banyak orang yang datang. Waktu kami tanya, mana anaknya yang ulang tahun? Ternyata anaknya ada di luar ruangan sedang main sama pembantunya. Lucu, orang-orang merayakan ulang tahun tapi justru yang ulang tahunnya ada di luar. Demikian juga kalau kita merayakan natal tanpa Yesus di dlm hati kita, maka natal hanya sekedar perayaan atau pesta biasa yg tidak berdampak di dalam persoalan hidup manusia. Tidak aneh jika setelah perayaan natal selesai kehidupan iman kita menjadi hambar dan tawar kembali.

Kesederhanaan. Natal pertama dirayakan dengan sangat sederhana. Tempat kelahiran Bayi Yesus yang sederhana, yakni sebuah palungan kecil dlm kandang domba. Perayaannya juga sederhana hanya dihadiri oleh Yusuf, Maria, para gembala dan orang-orang Majus. Sungguh jauh berbeda dengan perayaan-perayaan natal pada masa kini, yang biasanya dirayakan dengan megahnya dan mengeluarkan banyak dana.

Kerendahan hati. Dibutuhkan kerendahan hati untuk dapat melihat dan berjumpa dengan bayi Yesus. Kita lihat, bagaimana Yusuf dan Maria, para gembala dan orang majus, dengan penuh kerendahan hati meninggalkan “tempat nyaman” (comfort zone) mereka masing-masing, untuk dipakai Allah merayakan natal pertama.

Di Betlehem sekarang, ada gua dalam sebuah gereja yg bernama Church of the Nativity. Gua itu diyakini sebagai gua asli tempat Yesus dilahirkan. Ada satu hal di sana yang menyimbolkan sesuatu yang indah. Pintu gereja tsb begitu rendah, sehingga setiap orang yang akan masuk ke sana harus membungkukkan badan. Hal itu melambangkan bahwa setiap orang harus rendah hati dan berlutut bila hendak menghampiri bayi Yesus.

Sdr2, masih ada beberapa minggu menjelang Natal. Masih ada kesempatan utk mempersiapkan diri sebelum hari Natal tiba. Marilah seperti Simeon kita membuka mata lebar-lebar dan dengan kerendahan hati untuk menyambut kehadiran-Nya serta berkata, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu.” Tuhan memberkati kita semua.

AMIN

Gereja Kristen Indonesia Nederland - www.gkin.org