Pembacaan Alkitab: Korintus 9:6-15

Sdr-sdr yang Tuhan Yesus kasihi,

Selamat tahun baru bagi kita semua. Kita bersyukur boleh memasuki tahun 2012. Ada satu pertanyaan. Apa yang membuat pergantian tahun atau merayakan tahun baru begitu special? Sehingga ada banyak cara yang dipakai orang untuk menyambut pergantian tahun dan merayakan tahun yang baru.

Saya ingat kalau di Sydney, Australia, kebanyakan orang merayakan pergantian tahun dan tahun baru, dengan berkumpul di sekitar Sydney Harbour dan Opera House untuk menikmati pertunjukkan kembang api yang spektakuler. Salah satu pertunjukkan kembang api yang terbagus di dunia. Lalu beberapa saat menjelang jam 12 malam, orang-orang mulai menghitung detik-detik pergantian tahun. Kemudian mereka saling memberi selamat dan berpelukan. Siapa saja, tidak boleh menolak! Tidak aneh kalau banyak mahasiswa indonesia yang masih “jomblo” (single), menjelang jam 12 malam memilih untuk berdiri dekat cewek-cewek yang cantik. Tentu, sdr-sdr tahu yah maksudnya...

Kalau di indonesia lain lagi, di kebanyakan kota besar, pergantian tahun dan tahun baru dirayakan dengan keliling kota naik mobil atau truk sambil meniup trompet-trompet. Kalau di Belanda, menyambut pergantian tahun dengan atraksi kembang api. Ini sudah menjadi tradisi. Walaupun setiap tahun, banyak korban yang jatuh dan menghamburkan banyak uang. Dan pada tgl 1 jan, banyak orang yang pergi ke scheveningen untuk bersama-sama berenang kalau udara dingin sekali. Sesudah mereka menikmati sup yang hangat.

Di dalam keluarga kita, barangkali ada kebiasaan atau tradisi tertentu untuk kita menyambut pergantian tahun dan merayakan tahun baru. Kalau di rumah mertua saya, biasanya ada menu khusus yang sama setiap tahun- sudah sejak dari zaman oma-opanya santi, yakni Nasi Begana, Mie Kangkung dan cempedak goreng.

Saya masih ingat, pengalaman ketika saya masih kecil, sekitar berusia 7-8 tahun. Saya sangat menantikan sekali perayaan tahun baru. Pada waktu kami tinggal di kompleks perumahan Jati Petamburan di Jakarta. Kalau tahun baru tgl 1 jan, kami, anak-anak di kompleks, pagi-pagi sudah rapi dengan baju dan sepatu baru, berkumpul untuk keliling ke rumah-rumah dan mengucapkan selamat tahun baru. “Selamat tahun baru, tante...” lalu kami masing-masing diberi “angpao” (amplop berisi uang). Wah senang sekali karena di hari tahun baru kami mendapat banyak “angpao”. Agaknya, kebiasaan ini diadaptasi dari tradisi tahun baru tionghoa atau imlek. Para orang tua biasanya memberi angpao kepada anak-anak atau yang lebih muda.

Nah, sdr-sdr, sebenarnya apa yang kita rayakan pada tahun yang baru? Kalau kita mengadakan pesta ulang tahun, kita merayakan hari kelahiran kita. Begitu juga dengan Natal, jelas kita merayakan hari kelahiran atau kedatangan Tuhan Yesus ke dunia. Tapi tahun baru, kita mau merayakan apa? Bukankah hanya sekedar pergantian tanggal,bulan dan tahun?

Di surat kabar “Kompas” pernah dimuat artikel tentang perayaan pergantian tahun atau tahun baru, karangan seorang professor wanita, ibu Karlinah Supeli. Di dalam artikelnya itu, prof Karlinah menceritakan juga bagaimana tahun masehi yang berlaku sekarang ditetapkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582. Suatu waktu, Paus Gregorius XIII ingin tahu apakah ada waktu yang hilang, kalau ia merubah tgl 4 oktober langsung menjadi tgl 15 oktober. Lalu apa hasil percobaannya? Ternyata tidak ada waktu yang hilang atau tercuri, akibat perubahan itu. Perubahan dari tgl 31 dec ke tgl 1 jan, sebenarnya sama saja dengan perubahan dari tgl 1 jan ke tgl 2 jan, hanya beda 1 hari. Dalam kesimpulannya, prof Karlinah menyatakan bahwa kebiasaan atau tradisi yang dilakukan orang di pelbagai negara dalam menyambut pergantian tahun atau tahun baru adalah hanya sekedar “Ritual Gaduh (ramai)” yang tidak mempunyai arti khusus apa-apa.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Walau pun tahun baru adalah semata-mata pergantian tahun yang berdasarkan perhitungan manusia semata, namun moment ini juga merupakan moment yang spesial bagi kita orang percaya. Hidup kita adalah ibarat sebuah perjalanan. Tahun baru adalah moment ketika kita berhenti sejenak melihat ke belakang, ke perjalanan yang telah kita lalui dan sekaligus melihat ke depan ke perjalanan hidup yang Tuhan masih percayakan kepada kita. Dalam perhentian ini, kita pun menengadah ke atas, bersyukur kepada pimpinan Tuhan di tahun yang lalu dan memohon berkatnya untuk tahun yang akan datang. Oleh karena itu tahun baru bukan hanya ritual dan tradisi manusia semata melainkan justru berpusat pada Allah sumber dan pemilik kehidupan kita.

Dalam rangka menyambut tahun yang baru, GKIN sejak awal tahun 2010 melaksanakan persembahan sulung. Setiap kebaktian minggu pertama di awal tahun yang baru, di semua regio GKIN diadakan persembahan sulung. Mengapa kita mengadakan Persembahan Sulung? Bukankah Persembahan Sulung, sama saja dengan kolekte yang kita berikan pada kebaktian minggu biasa?.

Sdr-sdr, persembahan sulung ini mempunyai dasar teologis yang kuat sejak dari zaman Perjanjian Lama. Pada waktu itu, sudah menjadi ritual bagi umat Israel untuk membawa hasil tuaian pertama mereka ke Bait Allah sebagai ungkapan syukur atas tindakan Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Pada masa kini, gereja-gereja di Indonesia maupun di Belanda, juga mengadakan Persembahan Sulung 1x / tahun, walaupun waktu pelaksanaannya berbeda-beda. Persembahan Sulung pada masa kini, diadakan sebagai ungkapan syukur atas berkat dan pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan kita. Kita menyakini bahwa semua yang kita miliki bahkan hidup kita ini pun berasal dari Tuhan. Kita juga bersyukur atas keselamatan yang Allah karuniakan melalui diri Tuhan Yesus. Allah telah memberikan yang terbaik yakni anak-Nya yang Tunggal, datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari perbudakan dan hukuman dosa. Untuk itu, Yesus datang ke dunia sebagai manusia, menderita dan mati di atas kayu salib. Sungguh suatu pengorbanan yang sangat mahal dan tidak ternilai harganya. Manusia tidak akan sanggup membayar, keselamatan yang Allah karuniakan.

Mengapa persembahan sulung di GKIN, diadakan pada kebaktian pertama di awal tahun yang baru? Karena kebaktian awal tahun yang baru, adalah saat yang tepat dan indah untuk kita mengucap syukur atas pemeliharaan dan perlindungan Tuhan di tahun yang lalu dan sekaligus juga bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk kita memasuki tahun yang baru. Kita mengawali tahun yang baru dengan ungkapan syukur. Rasa syukur kita itu diwujudkan melalui persembahan sulung. Persembahan sulung adalah persembahan kita yang pertama di tahun yang baru. Tuhan sudah memberi yang terbaik, kita pun berusaha memberi yang terbaik pula dan bukan dari yang sisa. Tuhan secara pribadi telah datang ke dalam dunia untuk memberikan hidup-Nya bagi kita. Demikian juga, nanti kita masing-masing akan maju ke depan untuk memberikan persembahan sulung sebagai simbol bahwa kita secara pribadi mempersembahkannya kepada Tuhan Allah.

Sebagai orang kristen, kita perlu tahu, mengapa kita memberi persembahan sulung atau persembahan lainnya di kebaktian. Apakah persembahan kita itu didasari oleh motivasi yang benar?. Tidak asal memberi. Memang tampaknya hal memberi itu adalah mudah, pokoknya asal kita bisa memberi, itu sudah bagus. Sebetulnya, kalau mau jujur, justru memberi dengan motivasi yang benar adalah sangat sulit. Mengapa? Karena perbuatan memberi kita itu mudah bergeser hakikatnya menjadi perbuatan yang lain. Contohnya, kalau kita memberi sesuatu kepada orang lain. Tentu kita pikir bahwa itu suatu perbuatan yang baik, bukan? Tapi kalau kita mau jujur kepada diri kita sendiri apakah motivasi pemberian kita itu, benar-benar tulus mau memberi? Belum tentu. Bisa saja, pemberian kita itu, karena kita mempunyai kelebihan atau karena kita sudah tidak memerlukannya lagi. Jadi sebenarnya kita mau “menyingkirkan” barang tersebut.

Sdr-sdr, hal memberi dapat juga berubah menjadi terikat. Misalnya, kalau kita memberi sebuah lukisan kepada orang lain, tetapi dengan syarat. Ini lukisan untuk kamu, harganya sangat mahal oleh karena itu jangan dikasih ke orang lain dan juga lukisan ini harus ditaruh di ruang tamu di rumah kamu. Kalau kita sungguh memberi dengan tulus maka kita juga harus bisa menerima kalau lukisan pemberian kita itu di taruh di tempat lain atau bahkan diberikan kepada orang lain.

Sdr-sdr, memberi bisa juga merosot menjadi menyuap. Jika kita memberi dengan tekanan agar orang itu membuat sesuatu untuk kita, maka pemberian itu sudah menjadi “suap”. Jika kita memberi persembahan kepada Tuhan, dengan perhitungan bahwa Tuhan akan menyembuhkan penyakit kita atau agar Tuhan mengabulkan permintaan kita, bukankah persembahan itu telah merosot menjadi upaya menyuap Tuhan?

Perikop kita mengajarkan bagaimana kita seharusnya memberi secara kristaini. Kalau kita perhatikan ayat 6, terkesan bahwa kita harus memberi banyak kalau mau mendapat banyak juga dari Tuhan. Sebenarnya bukan itu yang Paulus maksudnya. Karena tak seorang pun dapat mengatakan kepada yang lain berapa banyak yang harus diberikan. Yang Paulus mau tekankan adalah agar jemaat di Korintus mempunyai kemurahan hati dan suka memberi untuk peduli dan menolong orang lain, khususnya mereka yang sangat membutuhkan. Kalau kita suka memberi dengan penuh kemurahan hati maka Allah yang adalah sumber berkat itu, tidak berdiam diri. Tetapi Ia juga akan bermurah hari atau akan memberkati kita yang suka memberi. Sebenarnya, kalau kita menghayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan maka jikalau kita memberi kepada Tuhan itu karena kita sudah lebih dulu menerima dari Allah. Ini salah satu konsep dasar tentang persembahan yang mesti kita luruskan. Banyak orang berpikir, bahwa memberi persembahan kepada Tuhan itu seolah-olah memberi piutang kepada Tuhan. Semakin besar persembahan kita kepada Tuhan, semakin besar hutang Tuhan kepada kita. Lalu, pada waktu kita membutuhkan, kita tinggal menagihnya kepada Tuhan dan mengharapkan bunga (rente) yang tinggi pula. Wah artinya kita sudah jadi rentenir kalau begitu!

Sdr-sdr, setiap kali kita hendak membawa persembahan kita, ingatlah, untuk siapa dan kepada siapa kita membawa persembahan itu. Jangan kita berpikir bahwa Tuhan akan menjadi lebih kaya kalau kita memberi persembahan dan Tuhan menjadi miskin kalau kita tidak memberi. Keliru sekali. Tuhan kita itu maha kaya. Dalam Mazmur 24:1, dikatakan, “Tuhanlah yang empunya bumi dan segala isinya...” Walaupun sebenarnya Ia tidak membutuhkan persembahan kita, tetapi Allah mengharapkannya. Seperti seorang yang mengharapkan kado atau tanda mata dari kekasihnya. Allah senang kalau kita sebagai anak-anak-Nya suka memberi persembahan. Dan persembahan kita akan lebih menyenangkan hati Allah kalau didasari oleh dorongan yang kuat dan kerinduan yang dalam untuk memberi . Oleh karena itu, seperti yang dikatakan dalam ayat 7, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”.

Sdr-sdr, sebenarnya seluruh hidup dan pengajaran Yesus memperlihatkan konsep tentang memberi. Ia hidup untuk memberi: memberi pengampunan, memberi pengakuan, memberi pertolongan bahkan memberi diri-Nya sendiri. Ia memberi karena Ia mengasihi dan bersedia berkorban. Perbuatan memberi adalah pergorbanan dan cinta. Memberi bukan mengarah pada kepentingan sendiri, seperti”membuang yang tidak kita perlukan” atau mengikat si penerima atau mengharapkan imbalan. Memberi adalah perbuatan yang seluruhnya mengarah pada kepentingan si penerima. Demikian juga, jikalau sebentar kita diberi kesempatan untuk maju ke depan dan menyerahkan persembahan sulung kita, biarlah persembahan kita ini kita berikan dengan penuh kerelaan bukan karena paksaan. Suatu persembahan yang didasari dengan hati bersyukur dan bersukacita. Karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

AMIN.