Pembacaan Alkitab: Yesaya 53: 1 - 12

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat pesan dari seorang jemaat GKJ Manahan lewat facebook yang mohon didoakan supaya bisa melampaui ujian dengan selamat. Artinya dia dapat lulus dengan hasil yang baik. Lain lagi dengan SMS dia seorang ibu yang akan operasi, dia juga meminta dukungan doa supaya operasi berjalan dengan baik, dia bisa selamat artinya bisa sembuh dari operasinya. Ketika seseorang akan pergi jauh, dalam doanya juga memohon supaya bisa sampai tujuan dengan selamat. Ketika ada seorang ibu hendak melahirkan, dia dan keluarga juga berdoa supaya dapat melahirkan dengan selamat, artinya ibunya sehat, anaknya juga lahir dalam keadaan sehat. Ya, secara umum setiap orang membutuhkan keselamatan. Dalam kehidupan kita sering menyaksikan perjuangan orang untuk menyelamatkan diri. Mulai dari upaya orang menyelamatkan diri dari bahaya kecelakaan, menyelamatkan keluarga dari kehancuran, menyelamatkan jabatan, menyelamatan usaha di tengah persaingan, menyelamatkan anak dari pergaulan yang tidak benar, menyelamatkan diri dari bencana alam dll. Bahkan kalau kita perhatikan yang membutuhkan keselamatan itu bukan hanya orang yang baik dan dilakukan untuk niat yang baik saja. Orang yang meniatkan diri untuk tindakan yang tidak baik pun ingin selamat. Bagaimana caranya supaya kebohongan tetapi tetap selamat artinya tidak ketahuan. Bagaimana caranya supaya tindakan korupsi tetap selamat artinya tidak ketahuan Komisi pemberantas Korupsi (KPK), dll. Tapi saya yakin jemaat disini tidak akan melakukan ini!

Saudara merenungkan upaya orang untuk menyelamatkan diri saya jadi ingat sebuah cerita tentang sebuah penerbangan ke Papua. Di Papua itu penerbangan dari satu pulau ke pulau lain umumnya kan menggunakan pesawat yang kecil. Saya dulu juga pernah mengalami penerbangan dari Biak ke Manokwari. Dalam cerita ini ada 4 orang yang terdiri 3 penumpang pesawat (pejabat, pendeta yang sudah tua, dan seorang pelajar muda) dan 1 pilot. Pada awalnya perjalanan berjalan begitu menyenangkan. Dari atas pesawat nampak pemandangan dengan indah, hutan yang lebat dan sungai yang berkelok-kelok. Tetapi beberapa waktu kemudian, nampak ada masalah dalam pesawat. Pilot tentu saja berusaha mengendali pesawat dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan semua penumpang. Tetapi makin lama, kondisinya semakin sulit, sampai akhirnya pilot meskipun dengan berat hati mengumumkan: "Maaf saudara, pesawat mengalami kerusakan, saya sudah berusaha semampu saya untuk mengatasinya, tetapi rupanya kerusakan cukup berat. Kita harus bersiap-siap. Di pesawat ada parasut, tapi sayang hanya tersedia 3. Untuk itu saya akan menggunakan 1 karena saya masih punya anak-anak kecil dirumah." Sang pilot langsung meraih parasut dan mengenakan, bahkan langsung terjun untuk menyelamatkan diri. Sekarang giliran sang pejabat juga mengatakan:"Maaf, saya masih harus memimpin rapat kerja, jadi parasut yang satu saya ambil ya!" Pejabat itu megambil parasut dengan tergesa-gesa dan langsung terjun". Tinggallah pendeta yang sudah tua dan seorang pelajar muda. Pendeta ini mengatakan kepada anak muda:" Nak, ambillah parasut itu, supaya kamu selamat. Kalau saya kan sudah tua, sudah banyak makan asam garam dunia. Kalau tokh saya mati, saya yakin, nanti saya akan masuk sorga". Tetapi anak muda itu menjawab: "Tenang bapak pendeta, kita masih punya 2 parasut". Pendeta itu bertanya:" Lho koq bisa, kan sudah diambil pilot dan bapak pejabat tadi". Anak muda itu menjawab:" Yang diambil bapak pejabat tadi ransel saya pak, bukan parasut!"

Ini cerita saudara, tapi dari cerita ini kita belajar bahwa didunia ada ada banyak upaya orang untuk menyelamtkan diri, bahkan tak jarang, dalam rangka menyelamtkan diri orang melupakan orang lain atau meninggalkan orang lain. Terkadang dalam rangka menyelamatkan diri orang juga melakukan tanpa pikir panjang, yang akhirnya membuat dia tidak selamat. Ini yang seringkali menjadi gerak dunia dalam rangkan mendapatkan keselamatan. Pola yang seperti ini sangat berbeda dengan pola yang dinyatakan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus.

Dalam rangka menyelamatkan manusia, Tuhan tidak mengorbankan pihak lain, tidak meninggalkan pihak lain tetapi justru memberikan diriNya untuk keselamatan bagi manusia. Dengan jelas hal ini dituturkan dalam pribadi Hamba Tuhan yang menderita seperti yang digambarkan dalam kitab Yesaya 53. Konteks dari kitab Yesaya 53 ini bangsa Israel memperoleh harapan bahwa mereka akan lepas dari penderiaan dengan hadirnya Sang Mesiah. Hanya saja kehadiran Sang Mesias sangat berbeda dengan apa yang mereka bayangkan. Karena Mesias disini digambarkan sebagai pribadi yang sangat sederhana dalam diri seorang hamba. Tak sedikitpun hamba ini menunjukkan ketampanannya sehingga orang ingin melihatnya dengan penuh kekaguman. Semaraknyapun tidak ada sehingga orang memandang dia. Bahkan karena wajahnya tak menunjukkan keindahan Dia justru dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina. Orang-orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Sebuah keadaan yang menggambarkan betapa rendahnya hamba ini, betapa tidak menariknya dia. Tak seorang pun yang menoleh, menyapa bahkan dia justru ditolak karena dianggap tidak pantas untuk masuk dalam hitungan.

Tetapi diluar dugaan banyak orang, hamba yang penuh kesederhaan bahkan yang dihina banyak orang inilah yang menyelematkan kita. Dia merelakan dirinya menanggung penderitaan yang semestinya harus kita jalani. Ayat 4 dengan jelas mengatakan:" Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya." Ayat 5 kembali meneguhkan apa yang dijalani oleh hamba ini: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Merenungkan firman ini saya jadi merasa kecil sekali. Apa yang dialami oleh hamba Tuhan ini berbeda dengan kecenderungan kita secara umum. Rasa-rasanya sulit bagi kita untuk menanggung hukuman, tuduhan, beban, tanggung jawab yang kita anggap tidak semestinya kita tanggung karena bukan kita yang melakukannya. Rasa-rasanya hati kita berontak, tidak rela untuk menanggung kesalahan yang tidak kita lakukan. "Lha wong kamu yang salah, koq saya yang harus menanggung!! Ya tidak mau lah! Ini yang umumnya terjadi. Bahkan ada kecenderungan, kalau bisa kita melemparkan kesalahan pada orang lain untuk menyelamtkan diri sendiri. Tetapi tidak demikian dengan hamba yang satu ini. Dia rela menderita untuk menanggung kesalahan karena pemberontakan pihak lain. Dia rela menderita karena perbuatan dosa pihak lain. Sebuah pengorbanan yang luar biasa saudara. Bahkan dalam ayat tadi ditegaskan: " dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Dengan kata lain, lukanya menyembuhkan kita.

Ketika saya mencoba untuk mencari makna bilur, saya menemukan bahwa bilur adalah luka goresan karena dicambuk. Umumnya ya sakit dan perih. Yang menarik dari hamba ini adalah bahwa ditengah luka yang dialami dan penderitaan yang harus dirasa, hamba ini justru menyembuhkan. Siapapun orang, kalau lagi sakit atau terluka, dia berada dalam keadaan tidak berdaya. Umumnya orang yang sakit, yang sedang terluka mempunyai kecenderungan untuk memikirkan diri sendiri, memusatkan perhatian pada diri sendiri. "Lha saya saja masih ada masalah koq! Masak saya harus memperhatikan orang lain", "Lha memikirkan penderitaan saya saja rasa-rasanya sudah pusing, masak saya harus membantu memikirkan orang lain?" Ini ungkapan yang seringkali kita dengar.

Di samping itu saudara-saudara orang yang terluka itu tidak saja mempunyai kecenderungan untuk memikirkan diri sendiri tetapi luka yang dia derita juga membuat orang itu menjadi sensitive. Jari tangan saya ini ada bekas luka yang dalam. Saya jadi ingat, dulu ketika saya kecil, saya sering berlibur di rumah nenak saya di Prambanan, Klaten. Nenek saya itu petani. Saat liburan sekolah, ketika saya ke sana, nenek saya sedang panen padi. Banyak orang yang membantu memanen padi. Saya juga ingin membantu, tetapi saya tidak punya pengalaman menggunakan alat untuk memanen yang tajam, kayak pisau, orang jawa menyebutnya ani-ani, dan hasilnya jari saya kena, lukanya dalam sekali. Jelas saya menangis, nenek saya kebingungan. Ketika jari saya masih terluka, kesenggol sedikit saya terasa sakit luar biasa. Tetapi karena sekarang lukanya sudah sembuh, saya pencet-pencet ya tidak akan terasa sakit. Dengan hal ini saya mau katakan saudara, bahwa orang yang sedang terluka, ya fisiknya, ya hatinya, biasanya gampang "merasa", atau jadi sensitive, gampang tersinggung. Orang lain ngomong bisik-bisik dikira nggosipin, padahal tidak!

Di samping itu orang yang terluka, yang sedang sakit disadari atau tidak punya kecenderungan, untuk melukai orang lain. Dia akan mentransfer pengalaman terlukanya pada orang lain. Karena terluka gara-gara dimarahin atasannya, suami/istri/anak dirumah jadi sasaran, pintu ditendang, karena mau menendang bosnya tidak berani! Luka dan sakitnya diungkapkan dengan melukai orang lain mungkin dengan kata-kata atau dengan sikap yang destructive. Kalau orang sedang terluka ada kecenderungan gampang marah, kata-katanya terasa pedas, dan menyakitkan. Demikian juga tindakan cenderung merusak, mengganggu, atau membuat pihak lain tidak nyaman. Jadi kalau besuk koq menemui ada orang yang gampang marah-marah, dipahami saja dia sedang sakit.

Saudara-saudara,

Kecenderungan umum yang saya sampaikan tadi sangat berbeda yang apa yang dilakukan oleh hamba Tuhan dalam kitab Yesaya. Justru luka penderitaannya lah yang menyembuhkan kita. Hamba Tuhan ini tidak mentransfer lukanya untuk melukai pihak lain, hamba Tuhan itu justru mentransform, mengubah penderitaannya untuk menyembuhkan orang lain. Lalu siapakah hamba Tuhan ini? Kita menghayati bahwa Hamba Tuhan ini adalah nubuat yang menunujuk dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Bukanlah apa yang digambarkan dalam Yesaya 53 itu menunjuk pada pengalaman Tuhan Yesus Kristus. Dia menderita untuk menanggung dosa-dosa kita. Sebelum Dia disalib, Dia didera dengan cambuk. Tubuhnya penuh dengan bilur-bilur karena cambuk itu. Pada masa itu dikenal 2 macam cambuk dera. Yang satu berupa sebatang tongkat atau ranting-ranting, jenis ini digunakan untuk menghukum warga negara Romawi. Yang kedua berupa cambuk bergagang kayu dengan satu sampai tiga helai kulit atau tali. Ujungnya ada yang diberi bulatan keras atau paku kecil. Jenis kedua inilah yang rupanya digunakan untuk mencambuk Tuhan Yesus. Bisa kita bayangkan berapa banyak bilur-bilur dalam tubuhnya.

Tidak hanya itu saudara, Yesus juga mengalami luka batin karena di tinggal oleh murid-muridnya. Murid-muridnya yang diharapkan membantu dalam doa, menopang di saat-saat sulit justru masing-masing bersembunyi untuk menyelamatkan diri sendiri. Perasaan sendiri yang dialami Tuhan Yesus itu mencapai puncaknya ketika Tuhan Yesus berseru:" "Eli, Eli, lama sabakhtani?" yang artinya: "Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkanku?" Seruan ini hendak menunjukkan betapa sedihnya kalau orang ditinggal dalam kesendirian. Namun hal yang sangat mengagumkan, Tuhan Yesus mengekspresikan luka yang pernah dialami justru untuk menyembuhkan orang yang terluka. Tuhan Yesus adalah pribadi yang pernah terluka, tapi juga yang menyembuhkan. Melalui bilur-bilurnya kita beroleh kesembuhan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Saya yakin bahwa kita semua yang berkumpul disini pernah mengalami sakit ataupun terluka, sakit secara fisik karena berbagai penyakit yang menggerogoti tubuh kita, atau pun terluka batin kita karena berbagai pengalaman hidup mungkin disebabkan oleh pasangan hidup kita, oleh saudara kita, oleh teman kerja kita, oleh tetangga kita atau oleh orang lain. Luka itu bisa saja kita alami karena kita ditinggalkan, diabaikan, direndahkan, ditolak ataupun dikhianati. Merenungkan Tuhan Yesus yang terluka dan Tuhan Yesus yang menyembuh, memberi harapan mendampingi kita di saat-saat sakit dan terluka, bahkan memberi kesembuhan, karena didalam Dia ada kesembuhan dan keselamatan.

Merenungkan firman ini juga menyadarkan kepada kita bahwa didunia ini banyak orang yang sakit, banyak orang yang terluka. Baik yang sakit fisiknya maupun yang terluka batinnya. Sebagaimana Tuhan Yesus dalam lukaNya telah menyembuhkan kita bahkan menyelamatkan kita dari kuasa maut, kita pun dipanggil untuk mnejadi komunitas yang menyembuhkan. Hal ini dapat kita lakukan, kalau dalam hidup kita baik secara pribadi maupun gereja kita secara rutin menyediakan waktu dan hati kita untuk mendoakan mereka, menema,I saudara kita yang sedang terbeban, menyapa mereka yang dalam kesendirian, merangkul mereka yang tersisihkan. Dengan cara ini kita dimampukan untuk menghayati karya keselamatan yang dinyatakan Tuhan Yesus melalui minggu pra paskah ini.

Amin.