Pembacaan Alkitab: Kejadian 9:8-17

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Kalau kita ditanya soal cerita Nuh, apa yang biasanya terpikirkan oleh kita? Beberapa orang biasanya langsung membayangkan tentang kemarahan dan kengerian hukumanTuhan pada manusia yang berdosa. Bahkan ada yang bilang bahwa banjir adalah bentuk hukuman Tuhan yang paling jelas. Waktu Jakarta banjir, beberapa orang bilang Tuhan sedang menghukum kota Jakarta. Lalu mulai berkembang, bukan hanya banjir tetapi juga bencana alam lainnya adalah hukuman Tuhan. Hal yang lalu terjadi, kita justru kehilangan empati pada manusia yang menderita karena bencana alam itu. Kita memang tidak bisa menyangkal bahwa cerita Nuh adalah tentang Tuhan yang marah pada manusia yang tidak setia dan menghukum mereka dengan banjir. Tetapi seperti yang kita baca hari ini cerita Nuh juga berbicara tentang perjanjian Tuhan dengan manusia. Saat ini saya akan menjelaskan ay. 8-17 melalui penjelasan konteks besar cerita Nuh. Ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan.

1. Secara sederhana kita dapat melihat bahwa teks kita berbicara tentang Tuhan yang sudah tidak marah lagi. Tetapi bagaimana teks ini dapat dijelaskan? Untuk itu kita perlu melihat cerita dalam Kej 6. Di sini Tuhan digambarkan sebagai Tuhan yang susah dan sedih karena pengkhianatan manusia kepadaNya. Penjelasan bahwa Tuhan menjadi sedih dan susah hati adalah informasi yang sengaja disampaikan dalam kisah Nuh. Ini adalah kisah tentang hati Tuhan yang disakiti oleh manusia. Ini adalah krisis hubungan antara Allah dan manusia. Kata dan gambaran yang dapat digunakan untuk menjelaskan persoalan relasi ini adalah seperti orang tua yang bersedih karena anaknya tidak berbuat sesuai yang diharapkan. Padahal Tuhan selalu berharap manusia ada dalam keadaan yang baik (bdk. Kej 1). Gambaran Tuhan seperti orang tua dengan anak memberikan penjelasan bahwa hal yang paling utama di sini bukan pada kemarahan dan kekerasan tetapi pada persoalan relasi.

2. Di tengah persoalan relasi dan kesedihan Tuhan inilah kemudian Nuh hadir. Di dalam keseluruhan cerita kehadiran Nuh adalah sebuah alternatif di tengah kesedihan hati Tuhan (Kej 5:29; 6:8). Kehadiran Nuh menjadi contoh konkret bahwa sekalipun dunia kacau dan jahat, menjadi manusia baru yang baik dan benar itu tetap mungkin diperjuangkan dan dilaksanakan. Nuh menunjukkan gambaran manusia yang berjuang untuk kebaikan dan kebenaran di hadapan Tuhan sekalipun hal itu tidak sama dengan mayoritas manusia yang lain. Dalam konteks kitab Kejadian (khususnya Kej 1:26) Nuh adalah contoh manusia yang benar-benar berjuang untuk menjadi gambar manusia yang segambar dengan Allah.

Dari dua konteks besar ini maka kita sekarang dapat membaca Kej 9:8-17 tentang perjanjian Tuhan. Di sini Tuhan yang sedih (bukan benci dan sekedar marah) adalah Tuhan yang merindukan manusia untuk kembali. Tuhan (seperti orang tua) yang bersedia untuk melihat kesediaan manusia untuk berubah dan bertobat (bdk Kej 9:6). Kisah Nuh bukan kisah Tuhan yang hanya berpikir tentang kepentingan dan kemarahanNya sendiri saja. Di balik kemarahan Tuhan ada cinta Tuhan yang senantiasa dapat dicari (ay. 16).

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, berangkat dari kisah Nuh ini mari kita melihat beberapa relevansi.

1. Kita perlu kritis pada pemahaman teologis yang selalu dan hanya menekankan gambar Tuhan yang penuh dengan kemarahan dan hukuman, gambar Tuhan yang otoriter. Tentu saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah marah dan kita dapat bertindak seenaknya tanpa tanggungjawab. Tetapi kita juga perlu memiliki gambar Tuhan yang bersedia membangun relasi dengan belas kasih. Hal ini penting untuk kita perhatikan, karena dalam penelitian-penelitian empiris tentang agama, gambar Tuhan yang otoriter justru membawa gereja dan orang-orang yang beragama untuk bersikap angkuh dan tertutup. Sebutlah beberapa contoh, seperti radikalisme agama, anti pada agama lain, anti dialog, curiga pada agama yang berbeda, memandang rendah orang lain yang berbeda nilai hidup, dan bersikap tidak dengan empati dan hati, adalah contoh dari sikap yang tertutup, yang disebabkan oleh gambar Tuhan yang otoriter. Pada akhirnya dengan sikap seperti di atas, agama menjadi bersifat legalistis. Beberapa tahun yang lalu saya berjumpa dengan seorang penatua gereja yang marah hanya karena Pengakuan Iman Rasuli diubah menjadi nyanyian. Menurutnya Pengakuan Iman Rasuli tidak boleh diubah-ubah. Katanya nanti Tuhan bisa marah (padahal jaman Tuhan Yesus belum ada Pengakuan Iman Rasuli, darimana dia tahu kalau Tuhan akan marah?). Ini baru sikap kaku dan anti perubahan dalam liturgi, bagaimana dengan persoalan lain yang lebih besar? Ada banyak pertanyaan lain yang menuntut gereja untuk bersikap tidak tertutup, seperti bagaimana sikap gereja pada sakramen perjamuan kudus, sikap gereja pada saudara-saudara yang berbeda iman atau berbeda orientasi seksual, bagaimana sikap gereja pada kehidupan politik masyarakat? Seringkali gereja tidak bersedia untuk berdialog dan membuka diri pada berbagai issue masa kini lebih karena gereja tidak mau berubah, legalistis, dan tertutup. Tuhan Yesus sendiri mengkritik dengan keras sikap anti dialog. Karena itu menjadi penting bagi gereja untuk memperhatikan gambar Tuhan seperti apa yang selama ini dibangun di tengah kehidupan berjemaat.

2. Gereja memang tidak pernah sempurna. Tetapi belajar dari cerita Nuh, gereja sebagai persekutuan murid-murid Tuhan seharusnya memiliki semangat untuk menghadirkan alternatif kebaikan dan kebenaran di tengah kejahatan dan ketidakbenaran yang ada dalam masyarakat. Gereja seharusnya berupaya menjadi alternatif, gambar manusia yang benar, seperti Nuh. Pertanyaannya adalah apakah gereja mau menggunakan keberadaannya untuk menjadi alternatif kebaikan dan kebenaran di tengah dunia? Apakah gereja menyadari bahwa salah satu fungsinya adalah memperjuangkan kehidupan manusia yang lebih baik yang mengalahkan kehancuran. Atau apakah gereja justru ikut menghancurkan dunia? Salah satu persoalan yang menarik untuk kita perhatikan saat ini adalah sikap baik yang terbatas hanya dalam kelompok sendiri. Seorang kolega saya memberikan analisis yang menarik tentang fenomena orang-orang di Indonesia yang korupsi padahal dalam kesehariannya mereka religius dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Dia mengatakan bahwa ada semacam pemahaman bahwa kebaikan dan kebenaran cukup dilakukan di dalam in-group, tetapi di luar kelompok saya (out-group) tidak menjadi soal jika saya berbuat tidak baik. Kondisi seperti ini tidak akan menolong manusia untuk menjadi alternatif kebenaran dan kebaikan, justru membuat ada banyak kemunafikan dan ketidakkonsistenan. Saya rasa kita perlu mengingat bahwa inti dari kehadiran Roh Kudus, pada hari Pentakosta, yang baru saja kita peringati adalah pertolongan Tuhan agar gereja selalu mampu memperjuangkan gambar manusia yang benar dan utuh seperti Yesus Kristus. Jon Sobrino, seorang teolog Jesuit, mengingatkan bahwa ada banyak orang (Gereja) yang saat ini sudah lupa apa yang benar-benar diperjuangkan oleh Yesus. Gereja dan setiap individu Kristen adalah orang-orang yang bersedia menjadi gambar manusia yang benar, sebagai alternatif kebenaran di dunia ini sehingga semua orang dapat melihat dan merasakan.

Amin