Khotbah peneguhan Adham K. Satria, S.Th. sebagai penatua "tugas khusus" di GKIN

Pembacaan Alkitab: Yesaya 6:1-13

Sdr-sdr yang Tuhan Yesus kasihi,

Karl Barth, seorang teolog terkenal pernah berkata, "Allah itu mampu melakukan banyak hal, tetapi Ia tidak selalu mau mewujudkannya. Sementara manusia selalu mau melakukan banyak hal tetapi ia tidak mampu melakukannya."

Allah sebenarnya mampu mewujudkan rencana-Nya di tengah-tengah dunia ini tanpa harus melibatkan manusia di dalamnya, tetapi Allah tidak mau. Ia mau mewujudkan kehendak-Nya dengan melibatkan dan mengikutsertakan manusia. Bukankah ini suatu penghargaan dan kehormatan yang luar biasa bagi kita. Kita yang adalah orang yang berdosa, tetapi dijadikan rekan-kerja (partner) Allah dalam rangka menyelamatkan dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa hidup kita di dunia ini bukan kebetulan. Tetapi Allah sudah punya rencana atas hidup kita.Dan Allah mau mengikutsertakan kita di dalam rencana-Nya. Lalu bagaimana kita tahu akan rencana Allah bagi hidup kita?.

Sdr-sdr, baru-baru ini istri saya mengambil abonemen mobile telepon model yang agak baru dan banyak fungsinya. Namun sayangnya, istri saya belum mempelajari buku manualnya. Sehingga pada saat ada seorang teman yang mengirim voice mail, dia bingung, bagaimana cara mendengarkannya. Istri saya kemudian menelepon balik teman itu. Kebetulan teman itu sedang bekerja dan tidak bisa mengangkat mobile teleponnya. Istri saya kemudian meninggalkan pesan di dalam voice mailnya. Dan yang lucu, saudara-saudara ternyata mobile telefon teman istri saya itu juga baru dan teman itu juga belum bisa mendengarkan voice mailnya! Jadi telepon mereka bisa melakukan banyak fungsi tapi tidak berfungsi karena pemiiknya tidak tahu cara menggunakannya.

Demikian pula dengan kita manusia. Kita adalah puncak ciptaan Allah. Kita diciptakan dengan begitu baik. Tapi agar kita dapat berfungsi dengan baik di dunia ini, maka kita harus selalu berpedoman pada buku manual kita yaitu mengacu kepada Allah. Tanpa mengacu kembali kepada Allah - Sang Pencipta kita, kita tidak akan dapat berfungsi dengan baik.

Saudara-saudara penting untuk kita sadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Dia adalah Allah yang awal dan yang akhir. Masalahnya, banyak orang, termasuk di Belanda, yang tidak percaya bahwa Allah itu ada. Menurut survey hanya 51 % dari jumlah penduduk Belanda, yang percaya bahwa Allah itu ada. Orang yang tidak percaya bahwa Allah itu ada, titik tolaknya (starting point) dalam memahami persoalan adalah dirinya sendiri. Dan bukan Allah. Ia menyakini bahwa hidup ini adalah miliknya. Oleh sebab itu, dia berhak untuk melakukan apa saja yang ia ingin lakukan. Apa yang terjadi ketika apa yang ia mau atau inginkan tidak tercapai, apalagi kalau ia mengalami hal atau kejadian yang ia tidak harapkan maka ia menjadi kecewa dan frustrasi. Salah satu penyebab orang menjadi stress karena ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Apabila manusia bertitik tolak dari dirinya sendiri, maka ia akan menghakimi segala peristiwa yg dilihatnya. Sehinga mereka mempertanyakan, Mengapa kejahatan semakin merajalela? Mengapa orang benar harus menderita? Mengapa kemiskinan dan ketidakadilan terjadi dimana-mana?

Sdr-sdr, akan berbeda kalau kita melihat kehidupan ini dari titik-tolak (starting point) Allah. Dia lah pencipta langit, bumi dan segala isinya, termasuk kita manusia. Jadi kalau kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia, ini sungguh adalah anugerah Allah. Terlebih lagi kalau kita diberi kesempatan dan dipanggil untuk melayani Dia.

Sdr-sdr yang mengasihi Tuhan Yesus,

Perikop kita menceritakan suatu proses bagaimana Allah telah memilih dan mengutus Yesaya. Proses itu diawali dengan perjumpaan pribadi Yesaya dengan Allah, melalui sebuah penglihatan. Dalam penglihatan itu, Yesaya menyadari siapa Allah dan siapa dirinya. Allah adalah maha Kudus dan penuh kemuliaan. (ay 4) Sedangkan dirinya adalah orang yang tidak layak. Dikatakan dalam ayat 5, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir..." Perjumpaan pribadi dengan Allah, membuat kita sadar akan keberadaan kita sebagai orang yang berdosa. Dan kita membutuhkan seorang juruselamat dalam hidup kita.

C.S Lewis seorang penulis kristen terkenal, pernah mengatakan bahwa seorang Kristen memiliki keunggulan penting dibandingkan dengan orang lain. Bukan, karena ia lebih baik, lebih suci atau lebih dikasihi Tuhan. Melainkan karena ia tahu dan sadar bahwa ia adalah seorang manusia berdosa yang hidup dan berada di dalam dunia yang berdosa. Langkah awal untuk kita bisa dipakai melayani Tuhan, adalah menyadari akan keterbatasan dan kekurangan kita. Tidak ada seorang pun yang layak untuk melayani Dia. Yesaya menyadari bahwa ia adalah seorang yang najis bibir. Sdr-sdr, tidak mudah bagi seorang manusia untuk mengaku bahwa ia adalah orang berdosa dan sungguh membutuhkan Tuhan dalam hidupnya. Apalagi kalau manusia merasa dirinya mampu dan berhasil dalam hidup ini, maka ia tidak akan membutuhkan Tuhan. Sdr-sdr, mengapa banyak orang di Belanda masa kini tidak membutuhkan Tuhan? Ada yang mengatakan kepada saya, karena hidup mereka sudah terjamin. Di sini, orang dari lahir sampai mati, hidupnya ditanggung oleh pemerintah.

Kembali kepada cerita Yesaya, ketika ia menyadari dan mengaku bahwa ia adalah orang berdosa dan mempunyai kelemahan maka Allah sendiri yang memulihkan keadaan Yesaya. Bibirnya disentuh dengan bara api yang diambil dari mezbah suci. Artinya Allah telah mengampuni Yesaya dan menghapuskan dosa-dosanya. Ia juga telah menyucikan mulut Yesaya. Kita tahu betapa pentingnya fungsi mulut. Apalagi bagi seorang pelayan Tuhan. Tapi ingat, dengan mulut kita bisa memuji Tuhan dan menghibur sesama. Tetapi dengan mulut yang sama, kita bisa menghujat Tuhan dan menyakiti sesama kita. Nah, Yesaya sedang dipersiapkan untuk menjadi nabi Allah, oleh sebab itu, mulut dan bibirnya disentuh Allah agar ia bisa menjaga kemurnian dan berani untuk memberitakan Firman Allah. Artinya Allah tahu bahwa tugas yang diberikan kepada Yesaya ini sangat berat dan sulit dimengerti. Oleh karena itu, Yesaya dipersiapkan dulu oleh Allah sebelum ia dipakai Tuhan untuk melayani.

Selanjutnya, kita menyaksikan bahwa Yesaya yang telah diselamatkan dan disucikan, tidak lagi merasa takut. Bahkan ia terpanggil untuk memberitakan Firman Tuhan kepada bangsanya. Ketika panggilan Tuhan datang padanya, maka telinga Yesaya dapat mendengar suara Tuhan. Seseorang yang sudah dijamah Allah, ia peka akan panggilan Allah. Tetapi sebaliknya, tanpa jamahan Allah maka hati dan telinga manusia seolah-olah tertutup bagi Firman Tuhan.

Sdr-sdr, kalau kita perhatikan panggilan Tuhan kepada Yesaya ini, sungguh menarik. Karena panggilan itu bukan dalam bentuk "perintah", akan tetapi dalam bentuk "ajakan" atau "tantangan" yang membutuhkan respon pribadi. Lalu apa respons Yesaya atas panggilan Allah ini? Ia dengan spontan menjawab, "Inilah aku, utuslah aku!" Yesaya tidak perlu meminta penjelasan mengenai panggilan itu. Ia tidak tawar- menawar seperti yang dilakukan nabi Musa atau nabi Yeremia.

Kita kalau mendapat tugas yang berat biasanya suka menawar. Saya teringat ketika merasa mendapat panggilan untuk study teologia, saya pun menawar kepada Tuhan. Karena pada waktu itu, saya masih bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Saya bertanya, "Tuhan kalau saya meninggalkan pekerjaan saya dan masuk sekolah teologia, lalu bagaimana gaji saya?" Keesokan harinya, saya langsung mendapat jawaban Tuhan melalui buku "Saat Teduh" (Overdenkingen), dikatakan, "barangsiapa yang mau memberi diri untuk menjadi hamba Tuhan, jangan memikirkan soal gaji!". Sdr-sdr, jawaban spontan Yesaya, "Inilah aku, utuslah aku." menunjukkan suatu penyerahan diri yang penuh bagi pelayanan dan pengabdian diri kepada Tuhan.

Dalam bukunya yang berjudul, "Who put my life on fast-forward", Phil Callaway bercerita tentang pengalaman temannya yang Doug Nichols. Setelah Nichols menjalani operasi kanker usus pada april 1993, dokter dengan sedih berkata kepadanya, "Maafkan saya, Doug, engkau hanya punya waktu 3 bulan lagi untuk hidup." Nichols menjawab, "Yah, apapun yang terjadi saya punya 100% peluang untuk masuk surga." Ternyata 3 bulan kemudian Doug tidak mati, hanya radiasi dan kemoterapi membuatnya sangat menderita kesakitan.

Suatu malam, Doug dan istrinya, sedang menonton TV yang memberitakan tentang perang saudara di Rwanda. Lebih dari 1 juta orang dibantai oleh para tetangga dan orang sekampung mereka sendiri. Ribuan penduduk Rwanda melarikan diri menyeberangi perbatasan menuju Zaire. Mereka tinggal di tempat pengungsian yang kotor. Penyakit kolera berjangkit dengan cepat. Dalam waktu 3 hari saja, 50 000 orang meninggal dunia. Mendengar semua berita ini, hati Doug dan istrinya Margareth, merasa hancur. Tetapi apa daya mereka. Ternyata kemudian mereka memutuskan untuk pergi bersama tim dokter dan perawat berangkat ke Rwanda. Di sana Doug berkenalan dengan seorang pemimpin Kristen Rwanda. Orang itu mempekerjakan 300 orang pengungsi sebagai pemikul usungan untuk mengangkut orang yang sakit atau mengubur mereka yang meninggal setiap harinya. Suatu hari pemimpin itu mendekati Doug dengan wajah cemas, "Tuan Nichols kita menghadapi masalah. Para pemikul usungan dengan marah meminta uang tambahan upah mereka. Mereka mengancam akan mogok kerja jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Sementara uang telah habis. Dan jika mereka tidak bekerja, korban yang meninggal dunia akan menjadi berlipat ganda." Doug meminta agar diperbolehkan berbicara langsung kepada para pengusung itu. Sambil berjalan menuju sebuah tempat bekas gedung sekolah tua, Doug berpikir apa yang akan ia katakan untuk meredakan kemarahan orang itu dan membuat mereka mau kembali bekerja walau tanpa upah tambahan.

Inilah kata-kata yang Doug sampaikan kepada para pengusung yang jumlahnya sekitar 300 orang itu. "Saya tidak mungkin dapat memahami penderitaan yang kalian alami, dan sekarang menyaksikan isteri dan anak-anak kalian meninggal akibat kolera; saya juga tidak akan pernah dapat memahami seperti apa itu rasanya. Mungkin kalian menginginkan lebih banyak uang untuk membeli makanan, air serta obat-obatan bagi keluarga kalian; saya juga belum pernah berada dalam posisi seperti itu. Tidak ada kejadian tragis yang pernah terjadi dalam kehidupan saya yang setara dengan apa yang telah kalian derita. Satu-satunya yang menimpa saya adalah bahwa saya mengidap kanker..." Ketika Doug akan melanjutkan kata-katanya, penerjemahnya berhenti dan berpaling kepada Doug dan bertanya kepadanya, "Maaf anda bilang, anda mengidap kanker?" "ya". "Dan anda datang ke sini? Apa dokter anda mengatakan anda boleh datang ke sini?" "Ia mengatakan pada saya bahwa jika saya pergi ke Afrika, saya mungkin akan mati dalam waktu 3 hari.". "Dokter anda mengatakan itu dan anda masih tetap datang juga? Untuk apa? Dan bagaimana jika anda meninggal di sini? "Saya ada di sini karena Tuhan menyuruh kami datang dan melakukan sesuatu untuk orang-orang di dalam nama-Nya. Saya bukan pahlawan. Jika saya mati, kuburkan saja saya di lapangan dimana kalian menguburkan orang mati lainnya."

Penerjemah itu mulai menangis. Lalu dengan air mata masih mnegalir di wajahnya, ia berpaling kepada para pengusung dan berkata, "Pria ini mengidap kanker. Ia datang kemari dan rela mati demi rakyat kita. Sementara itu, kita mogok kerja hanya demi mendapatkan sedikit uang tambahan? Kita seharusnya malu." Tiba-tiba semua orang mulai berlutut dan menangis. Seorang pria merangkak menghampiri Doug dan memeluknya. Tanpa banyak bicara, mereka satu persatu ke,bali bekerja tanpa bersuara. Dengan kembalinya mereka bekerja, ribuan nyawa terselamatkan dan banyak yang mendengar tentang Yesus Kristus.

Sdr-sdr yang mengasihi Tuhan Yesus,

Sebenarnya, ajakan Tuhan dalam ayat 8, "Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" berlaku juga untuk setiap orang Kristen pada masa kini. Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Saudara, apa jawaban Saudara?

Saudara-saudara, pada hari ini kita bersyukur karena akan menyaksikan peneguhan sdr Adham Krisna Satria untuk menjadi penatua dengan tugas khusus. Sebagaimana nabi Yesaya, sdr Adham menjawab panggilan Tuhan untuk melayani jemaat GKIN. Namun, sekali lagi, panggilan Allah untuk pelayanan ini tidak hanya ditujukan semata-mata hanya kepada sdr Adham saja. Kita semua juga dipanggil untuk mendukung pelayanan sdr. Adham. Sdr-sdr bukan hanya penonton, tetapi dipanggil juga untuk ikut melayani bersama di GKIN ini. Kita berdoa dan sungguh-sungguh melayani, agar kehadiran GKIN di Belanda boleh menjadi berkat dan dirasakan manfaatnya.

Kepada sdr Adham, kami bersyukur dan senang sekali anda bersedia menerima ajakan Tuhan, "Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi melayani jemaat-Ku di GKIN. Selamat datang dan selamat melayani di GKIN. Kepada kita semua, mari kita sambut dan dukung pelayanan sdr Adham ditengah-tengah kita. Tuhan memberkati kita semua.