Kotbah peneguhan pdt. Stanley Tjahjadi sebagai pendeta GKIN pada tanggal 8 Maret 2008, Thomaskerk di Den Haag.
 
Thema: I..., I..., I... and now, you go

Kejadian 3:1-12

Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus,
Apabila kita melihat ke belakang, merefleksikan perjalanan hidup yang telah kita lalui…..kadang-kadang kita suka mengandai-andai……. Misalnya saya dapat mengatakan:
  • Kalau saja, Santi pada tahun 1993 jadi menerima tawaran studi “Sejarah Gereja” di Belanda…….
  • Kalau saja, saya pada tahun 1994 jadi dikirim oleh Sekolah Tinggi Teologi ( STT) Jakarta untuk meneruskan studi di Birmingham, Inggris...
  • Kalau saja, Santi dan saya pada tahun 2003 dan 2005 jadi menerima panggilan melayani gereja Indonesia di Australia dan Amerika Serikat...
  • Kalau saja kandidat sebelum saya, jadi menerima panggilan GKIN....
  • Kalau saja Santi dan saya tidak lulus ujian inburgering...
     
Saudara-saudara, masih banyak “kalau saja” yang lain.
Dan kalau semua itu terjadi, maka kita tidak akan berkumpul bersama pada sore hari ini. Sebagai manusia, kita memang hanya bisa berandai-andai, namun apabila kita melihat lebih jauh lagi ke dalam kehidupan kita, kita dapat melihat bahwa semua ini tidak terjadi secara kebetulan.
Kalau kita bisa berkumpul pada saat ini, semata mata karena anugrah Tuhan. Tuhan telah mempersiapkan setiap langkah dalam perjalanan hidup kita.
Seperti yang ditulis dalam undangan, GKIN sudah lama bergumul akan kebutuhan seorang pendeta penuh waktu (full-timer). Sementara bagi kami sekeluarga, tidak pernah membayangkan sebelumnya, akan melayani di negeri Belanda ini. Mengapa Belanda yang bahasanya “erg moeilijk” bagi saya. Mengapa tidak Australia atau Amerika Serikat yang bahasanya saya sudah kenal. Namun, sekali lagi, kita meyakini semua ini boleh terjadi sesuai dengan rencana dan waktu Tuhan.
 
Saudara-saudara yg dikasihi Tuhan Yesus,
Sebagai orang-orang percaya, kehadiran kita di dunia ini bukan kebetulan. Allah punya rencana indah bagi kita baik secara individu maupun sebagai persekutuan. Oleh karena itu, penting sekali untuk memiliki kepekaan akan rencana dan panggilan Tuhan dalam hidup kita dan bagaimana kita meresponi panggilan itu. Dalam relasi dengan Tuhan ini ada 2 komponen penting yaitu Theophany dan Panggilan. Theophany menggambarkan suatu penantian akan penampakan atau kehadiran Allah. Sedangkan panggilan menggambarkan kesempatan untuk meresponi penampakan atau kehadiran Allah tersebut. Theophany dan panggilan saling berkaitan.Theophany mengstimulir dan memberikan otoritas bagi sebuah panggilan. Sedangkan panggilan, walaupun merupakan sebuah pilihan, tetap mengarah mengikuti theophany.
 
Saudara-saudara yang mengasihi Tuhan Yesus,
Perikop yang kita baca dari Keluaran 3:1-12, memperlihatkan bagaimana theophany dan panggilan Allah itu diresponi oleh manusia. (dalam hal ini Musa). Yang menarik adalah theophany dan panggilan Allah itu muncul justru ditengah-tengah kehidupan sehari-hari Musa.
Dikatakan dalam ayat 1, “Ada pun Musa, ia BIASA menggembalakan kambing domba, Yitro, mertuanya.” Di sini tidak ada yang luar biasa. Menggembalakan kambing domba, bagi Musa adalah kegiatan yang rutin sehari-hari ia lakukan. Musa tidak menduga akan terjadi sesuatu yang sangat istimewa dalam hidupnya. Di dalam kegiatan rutin itu, Allah menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Musa melihat sesuatu yang istimewa, semak duri menyala tetapi tidak dimakan api!
Musa langsung MENYIMPANG untuk MEMERIKSA penglihatan yang hebat itu. Kita melihat di sini bahwa Musa mau beranjak dari tempatnya yang sudah biasa dan nyaman. Oh bisa saja, Musa memilih untuk terus menjalani tugas rutinnya dan tidak mencari tahu tentang penampakan Allah itu. Namun, Musa bergerak sesuai dengan tujuan atau visi Allah dalam hidupnya.
 
Hal ini mengingatkan akan keberadaan kita bersama, baik sebagai individu atau sebagai persekutuan orang-orang percaya atau gereja. Gereja bukan hanya bergerak ke dalam, dan menjadi tempat untuk mengadakan kebaktian atau tempat kumpul melepaskan rindu dan kangen dengan teman-teman. Tetapi, Gereja harus bergerak keluar sesuai dengan tujuan dan visi Allah bagi dunia ini. Gereja dihadirkan Allah bukan untuk dirinya sendiri tetapi bagi dunia ini. Tanpa visi yang jelas maka Gereja hanya melaksanakan kegiatan atau ritual yang rutin saja. Bagi iman kristiani, sebuah visi adalah anugerah istimewa yang hanya disediakan bagi orang-orang percaya untuk pembangunan tubuh Kristus dan peran umat kristiani di tengah dunia.
Melaksanakan visi Allah berarti mengambil bagian dalam rencana dan panggilan Allah. Masalahnya, visi Allah ini baru bisa terwujud kalau kita memberi respon. Yang luar biasa dari Allah kita ialah Ia selalu ingin mengikutsertakan kita dalam pemenuhan rencana-Nya yang indah. Walaupun sebenarnya Dia dapat bertindak seorang diri tanpa bantuan manusia.
 
Kita lihat dalam ayat 7, bagaimana Allah mengungkapkan rencana-Nya untuk menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Dalam ayat ini, 3 x Allah berkata, “AKU telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku...AKU telah mendengar seruan mereka... AKU mengetahui penderitaan mereka”.
Selanjutnya, kita lihat bahwa Allah bertindak untuk melepaskan bangsa Israel. Allah mau memakai Musa untuk mewujudkan rencana-Nya ini. Oleh sebab itu, Allah memanggil dan mengutus Musa. Ayat 10 mengatakan,” Jadi sekarang pergilah. Aku mengutus engkau...” Setelah Allah berkata, “Aku..Aku..Aku ..dan sekarang kamu yang pergi!
Apa reaksi atau respon Musa atas rencana dan panggilan Allah baginya? Musa merasa gentar dengan panggilan ini. Oleh karena, ia sadar akan tugas berat yang ia harus hadapi. Musa menjawab, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Kita bisa mengerti kalau Musa merasa takut dan gentar. Karena ia hanyalah seorang gembala, sedangkan orang yang akan dihadapinya adalah Firaun orang No.1, orang yang paling berkuasa pada saat itu. Bayangkan, kalau kita yang berada dalam posisi Musa. Tentu kita pun merasa sangat takut dan kuatir.
Namun jawaban Allah terhadap respon Musa, sungguh luar biasa, dikatakan “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Aku yang mengutus engkau, oleh karena itu jangan gentar dan takut, Aku yang akan menyertai dan memperlengkapi engkau. Dalam melaksanakan kehendak dan Visi Allah, yang penting bukanlah siapa kita tetapi Allah yang menyertai kita. Bukan kita yang hebat tetapi Allah kita.
 
Saudara-saudara,
Kita meyakini bahwa Tuhan punya rencana dengan kehadiran kami sekeluarga, GKIN dan orang-orang Kristen di Belanda. Kehadiran kita bukan suatu kebetulan. Terlebih lagi kalau kita melihat perkembangan kekristenan yang terjadi di eropa saat ini. Semakin banyak orang yang tidak percaya, adanya Tuhan. Semakin banyak gereja yang telah berubah fungsi. Di tambah lagi dengan Postmodernisme yang mengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia masa kini. Tantangan untuk melaksanakan rencana keselamatan Allah bagi dunia ini semakin berat. Lalau apa yang dapat kita lakukan? Apa respon kita atas karya penyelamatan Allah bagi dunia ini?
 
Sdr-sdr, melihat tantangan berat yang harus kita hadapi bersama, seperti Musa kita pun merasa gentar dan tidak berdaya. Namun pernyataan dan janji Tuhan kepada Musa, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Kiranya hal itu pun yang boleh menjadi kekuatan dan pengharapan kita bersama.
Saya ingin menutup renungan ini dengan kisah tentang seorang anak yang sedang berjalan menyusuri tepian pantai. Di pantai itu, ia terhentak kaget karena melihat ribuan bintang laut terdampar di pasir di pantai itu. Anak itu merasa kasihan melihat bintang laut itu tergeletak tidak berdaya. Ia tahu bahwa tempat bintang laut itu seharusnya di lautan. Tapi bagaimana ia seorang diri dapat menolong ribuan bintang laut yang terdampar di pantai itu? Apa respon anak itu?
Anak itu lalu mengambil satu bintang laut dan melemparkannya kembali ke laut. Ia menatap dari kejauhan bagaimana bintang laut itu yang sudah kaku itu mulai bergerak-gerak dan kemudian berenang dengan lincahnya. Hati si anak itu merasa sangat senang. Sambil berjalan,ia kemudian mengambil satu bintang laut yang lain dan melemparnya ke laut, satu lagi, satu lagi dan seterusnya. Anak itu berpikir, ia memang tidak dapat mengembalikan semua bintang laut itu, namun paling tidak apa yang dilakukannya dapat menjadi berkat bagi bintang laut yang ditolongnya.
 
Saudara-saudara, jangan kita menunggu kapan kita bisa melakukan pelayanan Allah yang besar, tetapi marilah kita bergandengan tangan dan saling melengkapi melakukan tugas dan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita dengan setia dan sepenuh hati. Bukan dengan kekuatan dan kehebatan kita tetapi dengan mengandalkan penyertaan Allah. Ingat janji Allah, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?
 
AMIN.